Masihkah Hati ini untukmu?

hari ini aku kembali lagi kesini, ketempat luka yang dulu slalu ingin ku hindari. aku harus bisa mencoba melihat semuanya dengan tersenyum lagi, walau pahit aku harus berani mencoba menghadapi luka ku sendiri. aku tak boleh selamanya terpuruk dengan luka yang seharusnya hanya sebagai pelajaran kecil dalam perjalanan hidupku. ya inilah aku apa adanya, gadis kecil yang dulu selalu tersenyum cerah pada dunia, tapi entah kemana senyum itu tak lagi terkembang tulus diwajah ayunya.

Aulliyana silvia Angraini lian, itulah nama ku, tapi orang biasa memanggilku lian. aku putri semata wayang dikeluarga ini, keluarga yang amat di segani orang dikampung kecil di selatan kota bengkulu “TAIS”. kalian ingin tau arti kata tais dalam hidupku (T = tempat, A = aku, I = ingin, S = sendiri) , ya buatku itulah arti Tais yang sebenarnya, kota itu meninggalkan luka yang membuatku belajar arti hidup yang sebenarnya. perjalananku dimulai saat cinta hadir dalam hati seorang gadis kecil tomboy yang slalu mengangap dunia itu indah tapi pada kenyataanya dunia itu lebih kejam dari pada apa yang selama ini ada dalam fikiran ini. luka itu yang membuatku hidup jauh di ujung kota yang tak perna ada dalam bayanganku selama ini.

“Llian pov”

pagi dunia………

hari ini aku kembali lagi ketempat ini…..

aku pasti bisa menghadapi luka ini kan! semuanya suda berlalu jadi aku yakin pasti bisa tersenyum walau pahit. 10.00 wib ku pijakan lagi kakiku disini. hari ini sahabat terbaikku dikota ini janji ingin datang menjemputku di bandara Fatmawati. sudah lima belas menit aku berdiri disini menunggu alin sahabatku. tapi dari tadi batang hidungnya belum juga nongol. aku mulai bosan kalau lama-lama berdiri disini. aku bukanlah orang yang betah menunggu lama.

“lian…..” ku dengar suara cempreng sahabat kecilku yang sudah sangat ku rindukan.ku lihat alin berlari kearahku sambil tergopo-gopo. aku tersenyum kecil melihat tingkah laku sahabatku itu.

“alin…”i’m miss u so much…ucapku sambil memeluk tubuk mungil sahabatku itu.hahaha aku tertawa kecil saat sadar akupun yak kala kecil darinya.

“eh nyet kabarnya gimana?”

“seperti yang kaba tengok la (seperti yang kamu lihat) ucapku dengan bahasa tais yang tak pernaku lupa walau sebenarnya aku sudah hampir 3 tahun nggak lagi hidup dikota ini.

“nyet….ternyata loe masih bisa bahasa kejayaan tais padahal uda berapa lama loe nggak hidup disini” oceh sahabatku yang cerewet bin nyenyes ini. hahahaha oh ya donk kita kan orang sini jadi wajib ingat bahasa yang udah besarin kita jawabku acuh dan berlalu dihadapannya

****

“ALIN POV”

” Lian…..ian tungguin gue donk….ian jangan ngambek gitu” rengekku yang sama sekali tak diacuhkan oleh Lian. ian jangan marah donk….Alinkan telat juga ada alasannya kali ian…maafin Alin ya…tadi alin tuch singgah dulu buat beliin ini buat ian ini. ku ambil kotak yang tadi sudah ku siapkan untuk kado ulta sahabat yang sudah ku angap saudaraku sendiri. selamat hari bontrot nyot….ucapku sambil memeluknya.”makasih nyet ucapnya sambil menangis memelukku erat. aku benar-bener merindukan sahabat mungilku ini. jauh dilubuk hatiku, ingin ku dapat menghapus luka yang tersirat diwajah sendunya. merangkulnya saat lelah menghampiri setiap istirahatnya. Lian yang dulu ku kenal seakan hilang bak ditelan bumi dengan semua sikap dinginya yang terkada membuatku ingin meraih dan menggengam tangannya hanya untuk sekedar dia tau aku ada disini untuknya. berbagi cerita berbagi luka yang ku tau disimpannya jauh dilubuk hatinya yang terdalam. walau dia tertawa….tapi tetap terasa ada yang berbeda. senyumnya tak lagi setulus dulu….tawanya tak lagi selepas dulu….seakan ada begitu banyak rahasia yang disembunyikannya dari ku.

“nyet napa loe….ngelamun aja ntar kesambet nenek gombreng loh” ucapnya yang mengagetkanku. aku hanya tersenyum melihat sahabat yang paling ku sayang ini. dalam hati ku berjanji.aku akan mengembalikan senyuman itu lagi diwajah mungil mu Lian….aku janji senyuman itu akan ku lihat lagi diwajah mungilmu…bukan senyuman yang sekarang kau perlihatkan, tapi senyum yang dulu hilang dari raut indahmu itu.

****

Hari sudah hampir menjelang sore saat kedua sahabat itu memutuskan untuk beranjak pulang, karena mereka khawatir orang dirumah cemas memikirkan kemana mereka hilangnya.

Merekapun berlalu diperantara banyak mata yang berlalu lalang hanya untuk melepas senja disepanjang patai panjang yang memang terkenal dengan kenyamananya di saat sore hari.

Nggak  butuh waktu lama untuk mereka tiba dirumah yang emang nggak jau dari tempat tinggal mereka.

“LIAN POV”

Uhf……akhirnya aku memijakan lagi kakiku dirumah…kangen banget dengan semua yang ada dirumah ini. walau kenyataan itu lebih membuatku untuk menjauh dari rumah yang slalu memberi kenyamanan disamping semua keluarga kecilku.

“assalammualaikum bunda”….

“waalaikumsalam sayang”….

Dari mano bae( dari mana aja) anak bunda kok baru nyampe jam segini?tanya bunda sambil memberikan pelukan hangat yang sangat ku rindukan.

“Tadi jalan dulu kek (dengan) Alin bun” jawabku disela-sela pelukanku pada bunda.

“Oh…ya uda mandi dulu sana habis itu makan dulu baru istirahat uncap bunda lagi.

“Ya bun” jawabku sambir berlalu dari hadapan bunda menuju kekamarku. kamar yang amat ku rindukan. disini tersimpan semua kenangan ku bersamanya. ku langkahkan kakiku kepojok jendela kamarku hanya untuk sekedar melepas asa itu.

Selamat datang lagi Lian….selamat datang ditepi peraduan luka yang dulu terukir di sudut jendela ini, ucapku didalam hati. ya disini semua kenangan itu tersusun rapi, disini tersimpan semua manis pahitnya kisah cintaku. jendela ini jadi saksi bisu dimana kami sering menghabiskan waktu subuh hanya untuk melepas rindu yang terpendam disudut hati. jendela kamarku dan jendela kamarnya adalah jembatan rindu yang slalu kami untai disini. mungkin tak ada yang tau tempat ini dulu sudah menjadi tempat favorit kami untuk sekedar melepas rasa yang lama kami pendam disaat aku jauh di ujung kota sumatra untuk melanjutkan study ku.

Dijendela inilah kami slalu berbagi kisah…luka..canda dan tawa. walau terhalang oleh terali-terali jendela, sama sekali nggak masalah buat kami saat itu yang penting kami bisa saling melepas rindu. kalian pasti bingung kenapa kami selalu bertemu dijendela ini disetiap subuh menjelang. ya kaena saat itulah waktu yang bisa mempertemukan kami. padahal rumah kami bersebelahan, tapi itu nggak menjamin kami bisa bebas melepas rasa. pada saat subuh menjelang…saat semua keluargaku pergi kepasar. saat itulah kami bisa untuk melepas rasa.

pahit… itulah perasaan ini saat cinta tak pernah direstui kedua orang tua. mungkin akan sedikit lebih mudah kalau salah satu keluara merestui hubungan kami. tapi kenyataanya kedua orang tua kami sama. mereka menentang hubungan ini. melalukan apapun agar kami tak lagi berhubungan.

Waktu itu kami masih berfikir dapat meluluhkan hati semuanya, maka kami diam-diam tetap mempertahankan hubungan kami saat itu.

10 Tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kami saling berbagi, saling mengerti. tapi lamanya subuah hubungan nggaklah menjamin hubungan itu berlabuh pada muara yang diimpikan. hubungan ku berakhir dipenghujung ku meraih gelar serjana. dia pergi meninggalkan luka yang aku tau bukan hanya aku yang terluka. tapi semuanya harus diputuskan. nggak mungkin selamanya kami menjalani hubungan yang tak akan direstui semua keluargaku dan dia.

“Masih ingatkah dirimu sayang”…..

“Masih seringkah dirimu duduk disudut jendelamu untuk sekedar mengigatku. walau kini kau tlah berdua. masihkah jendela itu tempa favorit mu. lamunku

“astaufirullah Lian!” lupakan dia ian. dia nggak mungkin lagi untuk kau raih, dia nggak akan lagi mampu tuk kau miliki. Sadar Lian dia sudah memilih untuk bersamanya. walau hanya terpaksa tapi tetap saja sekarang dia sudah memiliki kebahagiannya sendiri bersama keluarga kecilnya. Lupakan dia ian…..ucapku dalam hati untuk mengingatklanku tentang siapa aku sekarang disudur hatinya.

“Ayah kenapa rasanya masih sesakit ini” lirihku sambil menekan dada yang terasa amat sakit.

“Lian….suara bunda membuyarkan lamunanku.

“Yo bun”…jawabku dari dalam kamar

“Makan dulu…habis itu baru istirahat ujar bunda dari dalam dapur kesayangannya.

*****

setelah acara makan bersama selesai Lian pun kembsli kekamarnya. kamar ini masih sama seperti pertama kali Lian pergi, hanya ada beberapa bagian saja yang berubah. mungin bunda yang meruba posisi barang dalamkamar ini batin Lian. dia pun kembali duduk disisi ranjang tepat di depan jendela itu. semua kenangan itu datang silih berganti. “masihkah aku mencintainya? masih sakitkah hati ini melihatnya? entahlah aku juga nggak tau seperti apa perasaan ini besok saat melihatnya lagi, walau nggak lewat jendela ini lagi. kuatkah aku? semua pertanyaan itu berputar-putar di otaknya.

“LIAN POV”

Tanpa terasa air mataku jatuh saat kaki ini melangkah ke sudut jendela yang menyimpan semua kenangan aku dan dia. “Tuhan ternyata sakit ini masih ku rasa?” padahal 2 tahun berlalu sudah, tapi kenapa hati ini masih untuknya. bahkan untuk membuka cela untuk yang lain saja ku tak mampu, batinku. sampai kapan hati ini masih untuknya, kenapa air mata ini tetap sja jatuh saat kenangan tentangnya hadir lagi di pelupuk mataku? air mataku tak mampu lagi untuk ku tahan. ku biarkan air mata ini jatuh sepuasnya, karna aku nggak bisa berpura tetap bahagia di kamar ini.

Pagi pun menjelang matahari menjembulkan kuasanya di singasana inda dunia. “pagi dunia……pagi Tais……ucapku dalam hati, ternyata kota ini tak pernah berubah dalam 3 tahun ini tak banyak yang berubah disini. ku buka jendela kamarku untuk menyambut pagi yang indah disudut jendela ini, tanpa aku sadari seseorang juga membuka jendela di sebelah kamarku.

Deg…

Jantungku berdetak saat jendela itu juga terbuka bersamaan aku membuka jendelaku. tuhan jangan biarkan sakit ini menguasai hatiku bisikku dalam hati, aku berharap tak melihatnya. siapapun yang membuka jendela itu ku mahon bukanlah dia. aku belum siap melihatnya sekarang jerit hatiku. ku alihkan pandanganku dari jendelanya dan segera berlalu keluar dari kamarku menuju dapur. aku bersiap membersihkan semua tumpukan yang nggak jelas di rumah ini. rumah ini tanpak sangat berantakan semenjak aku tinggalkan. ya karna nggak ada lagi cewek di rumah ini selain aku dan bunda. bunda terlalu sibuk kepasar jadi tak akan pernah punya waktu untuk membersihkan semua kekacauan ini. walau sekarang sudah ada sepupu cewek di rumah ini tapi tetap saja semuanya berantakan. ku langkahkan kaki ku untuk mengambil semua pakaian yang bertumpuk disudut tempat tidur bunda dan adekku. ku bawa semuanya ke dapur dan memasukannya kedalam ember setelah itu ku rendam biar nanti pas dicuci lumayan ringan dari daki.

Akupun membersikan semua debu yang sudah sangat tebal disetiap sudut rumah ini dan menyapu semuanya. setelah selsai membersihkan di dalam akupun menuju halaman yang nampak juga butuh perawatan. ku ambil sapu lidi kemudia mulai menyapu halaman. tapi sekali lagiaku harus merasakan jantung ini derdebar tak seperti biasanya. dalam hati aku mengutuk ikatan ini. kenapa aku selalu tau dan merasakan kehadirannya rutukkudala hati.

Ku coba menguasai detakan jantung ini dan berusaha terlihat senormal mungkin. aku tak ingin dia tau kalau aku masih terluka.

Kulanjutkan pekerjaanku tanpa mempedulikan disekitarku. terserah apa yang terjadi di sekelilingku yang penting aku cepat pergi dan menghilang dari suasana ini.

Uhf……akhirnya selai juga, aku menghela nafas panjang dan berjalan kembali nke dalam rumah, aku tau dia melihat kearahku tapi tak ku pedulikan. aku tak ingin air mata yang sedari tadi ku tahan jatuh didepannya. ku percepat langkahku memasuki rumah.

Tes….tes…..akhirnya pertahanan ku jebol juga. air mata yang sedari tadi ku tahan jatuh tak terbendung lagi.

“cukup Ian….”bentakku pada diriku sendiri. cukup menjatuhkan air mata untuknya….sudah cukup air mata itu jatuh dulu rutukku dalam hati merutui hatiku yang tak juga mampu menghapusnya. luhat ke depan ian di sana kebahagian menantimu. ku coba menasehati hatiku sendiri agar bisa tegar.

Uhf…..suda saatnya aku move on dari semua luka ini ucapku dalam hati, coba melihat sisi positive dari masalah ini. tak ada masalah yang tak ada hikmanya. aku pun tersenyum menertawakan kebodohanku sendiri.

Pagi yang cerah setelah semua perang batin yang terjadi dalam diriku akupun bersia menghadapinya. aku sudah berjanji sama hati ini untuk move on dari semua rasa sakit ini. aku harus bisa.

Setelah semua pekerjaan ku selasai aku pun segerah bersih-bersih diri alias mandi….

“Unang…….Ami juga ikutan mandi donk” rajuk sepupuku sambil mengedor-gedor kamar mandi…..

“Ihhhh jelek mandinya sorang-sorang (sendir) donk” ucapku sambil membuka pintu. “hehehee maleh (malas) ucapnya sambil nyelonong masuk ke kamar mandi. “ihhhh ko anak dak tengok po orang tu dak pake apo-apo” ( ih ni anak nggak lihat pa orang nggak pakai apa-apa) ucapku sambil mengerutu melihat tampang inouncentnya.

“Hehehehe santai be kali nang” (santai ja kali kak) ucapnya dengan tampang sok polos yang nyebelin banget.

“Santai be….santai be…tongok dak!” orang ne cak mano, masuk main nyelonong be ketusku. tapi ya namanya juga ami….sepupuku yang sok polos and oon. di omelin juga nggak akan mempan.

Kamipun mandi satu kamar berdua….ya itu karna setan satu ni udah kebiasaan dari sononya mandi bareng jadi aku juga nggak bisa marah sama dia. lagian juga percuma dia juga nggak akan peduli kalau dimarahin. selsai mandi kamipun sibuk berdandan karna kebetulan kamarku dan dia sama ya jadi kami dandan juga bareng de.

“Nang feminim dikit napo?” ucapnya saat aku sudah mau memakai baju kaos kebangsanku. di ambilnya baju yang sudah hapir siap untuk ku pakai dan digantinya dengan dress selutut. “pakai yang ini be yo nang selamo unang dirumah. ucapnya sambil menyembunyikan semua baju kaos yang biasa ku pakai dan diganti dengan setumpuk baju feminim miliknya dan terpaksa aku mengunakan pakainnya selama dirumah.

“Nah…tu kan unangku cantik” rayunya yang terdengar menjijikan ditelingaku. “ya makasi pujiannya tapi maaf yo ndo ado tanci keciak (nggak ada uang kecil) ucapku sambil tertawa. kami pun tertawa disela-sela berdandan ria ala sepupuku yang centil ini. dalam hati aku memuji cara berpakain dan dandananya. simple and cantik…

Selsai berdandan ria kamipun duduk didepan rumah sambil menjaga konter hp adekku yang emang jam segini kami yang buka karna dia kepasar sama ayah and bunda. disela obrolan kami tiba-tiba sepupuku terdiam dan sok

“Nang…. jangan sedih yo…ucapnya yang nggak ku mengerti sama sikali.” do dio sich nyet?” ucapku sambil mengikuti arah pandangnya.

Deg….deg…..

jantungku berdetak cepat saat melihat kemana arah pandang sepupuku. oh tuhan jeritku dlam hati…kuatkan aku melihat semua ini…aku semakin kalut dan perang dengan batinku sendiri. ku berusaha untuk menyembunyikan sakit ini dari sepupuku dan mencoba tuk bersikap normal dan biasa ja.

“Oh…. itu di sangko dio tadi!” (di kira apaan) ucapku berusaha senetral mungkin. biasa be kali nyet emang kalau unang liat istrinya napa? takut unang nangis yo? emmm ejekku. padahal dalam hati aku berusaha sekuat yang aku bisa agar sepupuku nggak tau aku masih terluka.

“Hehehehe” ya gitu de!!! ami cuma takut unang masih belum rela ucapnya. aku tersenyum melihat sepupuku, ternyata dia memperhatikan perasaanku.” udah ah biaso be la…yang berlalu dak mungkin balik lagi kan?”ucapku berusaha menyakinkannya.

Ya tuhan….ternyata masih juga sakit ya…ucapku dalam hati. melihat istrinya masih membuat hatiku seperti diiris sembilu. padahal aku sudah perna bertemu dengan istrinya dulu tapi kenapa aku masih belum juga bisa rela dia mengganti posisiku.aku larut dalam fikiranku sendiri

“Astaufirullahalazim….” aku mikirin apa sich ucapku dalam hati sambil beristifar kala rasa cemburu itu hadir mengisi hatiku. ini yang terbaik lian ucapku sambil menguatkan hati ini.

Aku mencoba untuk tersenyum padanya saat tak sengaja pandangan kami bertemu. berharap dia akan merespon niat baikku tapi nggak…semua nggak seperti yang ku harapkan. dia memalingkan wajahnya saat  melihatku tersenyum padanya. astaufirullah ucapku dalam hati, salahku apa hinga dia memalingkan wajahnya. bencikah ia padaku?aku bingung atas sikapnya. tapi itu nggak jadi masalah buatku, mungkin dengan begitu lebih muda untukku untuk nggak pura-pura baik padanya. dengan sikapnya begitu sudah cukup membuktikan kalau dia tau semua tentangku dan suaminya.” ya tuhan ampuni salahku ucapku sambil menghela nafas panjang. mungkin emang ini yang terbaik untukku, dia dan istrinya. mungkin aku harus selalu sadar semuanya sudah berakhir dua tahun yang lalu.

ku coba berdamai dengan hati ini. berharap lukanya tak akan sesakit dulu, air mata tak akan lagi menghiasi sudut matakku tapi rasa emang tak bisa dihindari, sakit ini juga tak mampu utuk selalu kukhianati.

“aku masih teluka……” tak ada seorangpun yang mengerti luka hatiku karna buat mereka sampai kapanpun tak akan perna peduli luka hati ini. dalam diam…..dalam bisu….dalam sunyi ku coba ungkapkan hati. dengan goresan pena…selembar kertas usang yang selalu menemani ku tuang segala asa hatiku

Tuhan…………………masihkah ada kebahagian ini untukku??????

Kuhapus air mata ini dengan sebait asa yang slalu ku patri dalam hati. aku akan tetap tersenyum walau luka ini tak akan dapat aku sembuhkah, tapi tak berharap semua orang tau luka ini masih dalam.

   *******

Pagi ini hari begitu cerah walau tak secerah suasana yang ada disini. mungkin suasana canggung ini akan selalu terlihat saat mereka sama-sama beraktifitas dan saling berdekatan. tapi bukan Lian orangnya kalau memperlihatkan kekakuannya, dia mungkin terluka tapi sam sekali nggak kelihatan seperti teluka. tapi berbeda dengan seorang pria disana, matanya nggak bisa menutupi betapa ia merindukan sosok gadis yang sekarang ada disebelah rumahnya, yang selalu saja tersenyum walau dia tau betapa sulitnya posisi gadis itu sekarang. gadis itu memang selalu terlihat tersenyum dan tertawa,tapi bagi pria itu senyumnya tak lagi setulus dulu tawanya tak selepas dulu. “begitu dalamkah luka yang tlah ku torehkan disudut hati gadis kecilku ini!”lirihnya dalam hati. tuhan jika aku bisa memilih tak akan ku biarkan luka itu hadir dihatinya akan kujaga slalu agar senyuman itu tak pernah berubah sedingin ini! pria itu masih saja memandang sosok gadis yang sedang sibuk dengan pekerjaannya membersihkan halaman rumahnya yang tampak tak terurus selama dia nggak tinggal disitu.

******

“ALIN POV’S’   “Nyet hari ini jalanlah!” ucapnya pada seseorang disebrang sana yang tak lain adalah sahabat sekaligus rivalnya, siapa lagi kalau kukan lian. “kemana emangnyo ndak jalan tu(emang mau pergi kemana)?”jawaban dari gadis disebrang sana bertanya “ya jalan be la kemano arah angin dan motor ndak mbatak’i kito pegi(kemana saja arah angin dan motor membawa kita pergi)” ucapnya lagi. “ok de!” seperti biasa jemput ya! rengek lian disebrang sana “ye da tau kali nggak usah bilang juga selalu dijemput” rutuk alin yang disambut dengan gelak tawa lian “nah tukan tau” temenku yang paling baik dan selalu ngerti apa yang aku mau ucapnya lagi “ya udah de aku mandi kudai au (ya uda aku mandi dulu ya)” awab alin sambil memutuskan sambungan telponnya dan beranjak dari tempat tidurnya untuk pergi kekamar mandi. dia nggak mau mendengar celotehan lian kalau dia terlambat menjempunya. lian pasti akan mengerutu sepanjang perjalanan kalau sampai itu terjadi. selang berapa lama alinpun siap pergi menjemput sahabatnya itu. ” bun….” alin pegi ngerayau kek lian yo(pergi main sama lian)?” pamit alin pada bundanya yang sedang sibuk didapur. ” ya udah, tapi jangan puolang malam yo! salam sama lian dari bunda”ucap bunda alin memberi izin anaknya. wanita paruh baya itu  tau alin dan lian akan selalu seperti itu kalau mereka bertemu ya mereka selalu lupa waktu.     “LIAN POV’S”   “eh nyet bisa ndak sich jadi orangtu dak jam karet!” rutu lian saat alin datang telat lima menit dari waktu yang mereka janjikan “ya elah nyet baru jugo telat limo menit! masa gitu ja udah ngambek.” ucap alin acuh tak acuh. dia tau kalau sahabatnya itu dilawan akan jadi panjang masalahnya makanya dia cuek ja bentar lagi lian juga baik sendiri pikir alin sambil tersenyum penuh misteri. “jadi jalan ndak ko?” lian kembali bersuara “hehehe jadi dong lian sayang! aku kan udah capek dandan cantik masa nggak jadi sich” seru alin “ya udah ayok” lian pun menarik tangan alin dan membawanya pergi. sebenarnya sich bukan lian yang membawa alin tapi alin yang membawa lian secara liankan nggak boleh lagi bawa motor paska accident beberapa taun yang lalu jadi alinlah yang selalu jadi ojek pribadi lian selama dia disini.

*********

mereka berduapun melaju ketempat yang biasa mereka datang kalau mereka lagi bersama. bendungan adalah tempat pelarian yang sangat tepat untuk menggalau indah.

“nyet” sudah lama banget ya kita nggak datang kesini?ucap alin saat mereka berdua sampai ditempat tujuan mereka

“ya ne” ternyata sudah banyak berubah ya, sudah nggak jorok kayak dulu lagi.” ucap lian

disini mereka menyimpan semua kenangan yang mereka punya selama ini. bagi mereka berdua tempat ini adalah tempat yang menyimpan banyak cerita indah dan pahit.

“ian…..masihkah luka itu membekas dihatimu. gue rindu banget sama loe nyet rindu kehangatan senyuman mu. tapi semua itu hilang ntah kemana. loe emang tersenyum tapi tak selepas dulu. loe emang tertawa tapi tak selepas dulu. gue rindu semua itu dari loe sahabat gue tapi entahlah gue nggak tau kapan semua itu kan kembali. lirih alin dalam hati.

lian ssibuk dengan fikirannya sendiri diam terpaku memikirkan semua rasa yang masih tersimpan dihati.” tuhan masihkah aku mencintainya?lirih lian dalam hati. kenap masih sakit setiap kali aku melihat kebahagian keluarga kecilnya. sesakit inikah rasa itu

The End

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: