Late Autumn

Musim panas telah berakhir. Suhu udara berangsur-angsur menjadi sejuk kembali, sekitar 20-an °C, berganti ke musim gugur. Musim yang identik dengan perubahan warna dedaunan yang nantinya akan berguguran.

Dibalik jendela bertirai cokelat polos itu, Kaneko Ken duduk seorang diri berpangku tangan. Mengarahkan pandangannya pada dedaunan momiji diluar sana yang telah berubah warna menjadi oranye. Cantik.

“Ah! Musim gugur telah tiba. Aku harus segera memberitahu Akiko tentang ini dan membawanya menikmati momiji light-up di Rikugien Gardens!”, tukas Ken penuh semangat.

Ia lantas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian. Diambilnya beberapa potong pakaian dari dalam lemari itu dan mulai memix-matchkan apa yang pantas untuk ia kenakan hari ini. Kaos oblong hitam berpadu rompi cokelat pilihannya dan juga celana jeans panjang hitam. Ia memilih untuk berpenampilan santai diawal musim gugur ini. Nampaknya begitu. Tak lupa juga ia kenakan sepatu boots cokelat untuk menyempurnakan penampilannya.

“Pafekuto!”, ujarnya dihadapan cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Senyum tipis tertoreh apik diwajahnya yang tampan meskipun sedikit pucat.

Pandangannya lalu beralih ke sudut meja belajarnya yang berantakan. Kertas-kertas desain serta sketsa wajah gadis cantik berlesung pipi yang memenuhi isi meja. Seketika Ken melebarkan senyumnya tatkala ia ingat pada gadis cantik berlesung pipi itu. Akiko. Ya, gadis itu ialah Yamashita Akiko.

Disamping kertas-kertas yang berserakan itu, Ken meraih kamera kesayangannya. Mengelap lembut lensanya dengan saputangan. Hari ini ia berencana mengajak Akiko menikmati awal musim gugur di Rikugien Gardens. Salah satu taman kota di Tokyo yang menyuguhkan pemandangan cantik selama musim gugur. Biasanya, di Rikugien Gardens selalu diadakan acara yang diberi nama momiji light-up setiap malam dimusim gugur. Namun apa yang terjadi? Tiba-tiba saja kepala Ken mendadak sakit bukan kepalang! Penglihatannya berbayang dan berputar begitu keras, membuatnya seakan ingin ambruk. Ia mencoba tetap berdiri tegak, menumpukan kedua tangannya diatas meja, namun pada akhirnya ia ambruk juga! Ken jatuh terduduk dilantai kamarnya.

“Aaaaaaaarrghhh!!!”, Ken terus memegangi kepalanya, berharap rasa sakit itu segera pergi dan menghilang.

“IBUUUU…!!! Aaarghh, tolong aku, Bu, kepalaku—”

Kaneko Sumire, ibunda Ken yang ketika itu sedang menyiapkan sarapan pagi didapur sontak terkejut mendengar suara putera semata wayangnya berteriak memanggilnya. Tak ingin hal buruk terjadi pada puteranya, Sumire bergegas menghampiri Ken dikamarnya. Ia berlari cepat, membuatkan bunyi bising langkah kaki bertabrak dengan koyakan suara tangga kayu yang khas.

“Ibu…”, suara Ken gemetar sesaat setelah ibunya datang.

“Apa yang terjadi?!?? Astaga, Ken, hidungmu mimisan lagi!!”

Sumire meraih kotak tissue yang tergeletak dimeja belajar Ken, mengambilnya beberapa helai dan lalu mengusapkannya pada hidung Ken yang berdarah. Sumire menangis. Air matanya mengalir deras, namun derasnya tetap tidak cukup untuk mengalahkan derasnya aliran darah segar dari lubang hidung Ken.

“Ibu, mengapa kau menangis?”, ucap Ken berpura kuat menahan sakitnya. Baginya, melihat air mata sang ibu mengalir tentu jauh lebih menyakitkan dibanding segala sakit yang ia rasakan.

“Aku baik-baik saja, Bu. Jangan mengkhawatirkanku apalagi menangisiku. Aku baik-baik saja.”

“Kau ini! Hati seorang ibu mana yang tidak khawatir jika melihat keadaan anaknya seperti ini, Ken?!! Menetaplah dirumah satu hari ini. Ibu tidak mengizinkan kau keluar rumah hari ini. Ibu tidak ingin terjadi apa-apa padamu diluar sana. Mengerti?”

Ken mengusap bercak darah terakhir yang menetes dari lubang hidungnya, ia sunggingkan senyum manis dibibirnya yang memutih karena pucat. Dengan jemarinya, Ken menghapus air mata Sumire yang masih terus mengalir. Sakit dikepalanya sedikit demi sedikit mulai mereda.

“Tidak, Ibu. Hari ini, aku akan pergi bersama Akiko ke suatu tempat. Boleh, ya? Kumohon…”

*****

Yamashita Akiko, seorang gadis berusia 18 tahun yang memiliki paras cantik bak bidadari berlesung pipi nan manis. Dibangku taman halaman depan rumahnya itu ia duduk dan terlihat tengah menanti kedatangan seseorang. Rambut hitam dan panjangnya yang terurai bersibak tertepa hembusan angin yang menderu lembut.

“Akiko, mengapa disini? Sedang menunggu Kaneko Ken, ya?”, sapa Keiko sambil mengambil posisi duduk tepat disamping Akiko. Jemari tangannya membelai halus rambut adiknya itu seperti yang biasa dilakukannya. Akiko ialah adiknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Hanya Akiko.

“Ken pasti datang ‘kan, Keiko-nii?”, tanya Akiko tanpa menoleh kearah Keiko disebelahnya. Pandangannya tetap menatap lurus ke depan.

Keiko mengangguk cepat, meskipun ia tahu Akiko tak mungkin akan melihatnya, “Ya, tentu. Kaneko Ken pasti datang.”

“Tapi, Keiko-nii, Ken—”, Akiko menghentikan ucapannya, memberikan sedikit jeda untuknya menelan ludah, “Dia sudah terlambat 15 menit dari biasanya…”

Mendengar ucapan Akiko, Keiko berdehem perlahan. Jemarinya ia turunkan ke pundak Akiko, menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya yang kekar dan berisi.

“Dia selalu menepati janjinya. Dia tidak pernah datang terlambat untuk menemuiku, Keiko-nii. Dia—”

Sementara Akiko terus bicara, tanpa ia ketahui bahwa sebetulnya Ken kini telah datang. Bahkan Ken tengah berdiri tepat dihadapannya. Tersenyum-senyum kecil memandangi wajah lugu Akiko yang nampak selalu bersemu merah. Ken sengaja memberikan sebuah isyarat kecil kepada Keiko agar tak memberitahukan Akiko bahwa ia telah datang.

“Aku benar-benar takut, Keiko-nii. Aku takut bahwa suatu hari nanti Ken meninggalkanku. Aku bahkan tidak bisa berfikir bagaimana hidupku jika tanpa Ken…”, Akiko terus bicara dalam dekapan hangat Keiko. Ia masih tak sadar akan kehadiran Ken. Melihatnya pun tidak. Sementara Keiko larut dalam setiap kata yang diucapkan oleh Akiko. Terdengar begitu lugu dan polos. Namun Keiko tahu, Akiko begitu menyukai Ken untuk saat ini.

“Benarkah begitu, Yamashita Akiko? Kau takut kehilanganku? Benarkah??”

Akiko terperanjat kaget medapati sebuah suara khas milik Ken yang begitu ia rindukan bersahut.

“Ah, Kaneko Ken?!?? Dimana kau? Sudah berapa lama kau berada disini? Apa saja yang kau dengar?”

Wajah Akiko kini merah padam. Ia benar-benar malu terhadap ucapannya sendiri. Ia malu apabila Ken mendengar semuanya, semua yang telah terlanjur ia ucapkan.

Akiko meraba-raba sekelilingnya. Mencari sosok keberadaan Ken.

“Kaneko Ken ada dihadapanmu, Akiko.”, ujar Keiko datar, membiarkan jemari tangan Akiko menyentuh milik Ken.

Meskipun Akiko tak bisa melihat seperti apa sosok Ken yang berdiri dihadapannya, namun Keiko mengerti bahwa hatinya mampu melihat semua itu. Bahwa hatinya mampu melihat semua yang tak bisa ia lihat dari mata. Ya, meskipun sedari kecil Akiko terlahir buta, namun hatinya jauh lebih peka dibanding orang normal lainnya.

“Yamashita Akiko, bisakah kau ulangi sekali lagi apa yang baru saja kau ucapkan? Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”, canda Ken diikuti senyum sumringahnya.

“Ucapan yang mana? Kau pasti salah dengar. Aku tidak mengucapkan apapun.”, elak Akiko yang justru mengundang ledak tawa Ken.

Keiko tersenyum tipis memperhatikan keduanya, Akiko dan Ken. Tak mau menjadi pengganggu antara Akiko dan Ken, Keiko memilih untuk pergi dan menjauh dari keduanya. Namun ia tak benar-benar pergi. Ia menyaksikan semuanya dari jauh. Menyaksikan Akiko tertawa bahagia bersama pria lain! Entah mengapa, hatinya seperti tersayat benda tajam tatkala melihat Akiko dapat membagi tawa dengan pria selain dirinya. Sebelumnya bahkan terasa tidak mungkin.

“Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku merasa tidak rela melihat Akiko bersama yang lain? Bodoh! Akiko itu adikmu sendiri, Keiko! Kau tidak boleh memiliki perasaan seperti ini!! Tidak boleh.”

*****

Setapak demi setapak jalan di Icho Namiki ia lalui seorang diri. Seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya ia tak menikmati sore itu seorang diri di Icho Namiki. Akan tetapi…

“Ah! Seandainya saja Akiko bersamaku disini…”

Keiko menghentikan langkah kecilnya tepat disisi barisan pohon ginkgo yang hampir menguning daunnya. Ia tatap balik sekumpulan gadis-gadis remaja yang sedaritadi memperhatikannya. Selalu begitu. Keiko memang selalu menjadi pusat perhatian para gadis dimanapun ia berada.

Logikanya, perempuan mana yang tak terpikat hatinya apabila bertemu dengan sosok pria tampan nan gagah seperti dirinya? Seperti Yamashita Keiko? Rasanya, hanya perempuan bodoh saja yang tak tergoda padanya.

Keiko memang begitu mempesona. Sayangnya, ia terlalu cuek dan menutup diri kepada setiap gadis yang mendekatinya. Terkecuali kepada Akiko.

“Mungkin saat ini Akiko sedang bersenang-senang dengan Kaneko Ken di Rikugien. Mana mungkin dia sempat mengingatku seperti aku mengingatnya? Bodoh.”, Keiko mengumpat dirinya sendiri.

Seperti sebuah rekaman film yang tiba-tiba saja terekam ulang dalam memori ingatannya, Keiko kembali hanyut dalam masa lalunya. Pertemuan pertamanya dengan Akiko di stasiun kereta api di Nara. Ketika itu usianya baru menginjak 8 tahun. Keiko kecil yang malang yang sudah menjadi yatim piatu sejak ia dilahirkan.

Di stasiun itu, tempat dimana ia biasa mengais rezeki dengan mengamen, Keiko dipertemukan dengan Akiko kecil yang ketika itu baru berusia 3 tahun. Ia merasa iba dengan Akiko kecil yang mengaku telah sengaja ditinggalkan oleh ibunya di stasiun.

Karena tidak tega membiarkan gadis kecil seorang diri ditempat yang rawan kejahatan itu, maka Keiko membawanya pulang ke rumah gubuknya. Menjadikan gadis kecil itu sebagai adiknya yang harus ia rawat dan ia lindungi. Bahkan Keiko memberikan nama depan keluarganya untuk Akiko, sehingga Akiko yang semula bernama Shimizu Akiko berganti menjadi Yamashita Akiko.

Keiko juga ingat tentang kebaikan hati seorang kakek sebatang kara bernama Nakamura Kudo yang mau membiayainya belajar sampai ia lulus kuliah di Universitas Tokyo dengan prestasi terbaik. Sayangnya, kakek itu kini sudah tiada.

“Satu kotak mochi untuk Akiko. Dia pasti senang jika aku membelikannya. Hm.”

Keiko menyudahi ingatannya. Berjalan lurus dengan posisi kedua tangan bersembunyi disaku jeansnya. Ia hampiri sebuah kedai mochi untuk membelikan Akiko oleh-oleh. Ia sudah tak sabar ingin segera melihat ekspresi wajah Akiko nanti setibanya ia dirumah.

*****

Pukul 07.00 P.M, lampu-lampu LED mulai bersinar menghiasi warna-warni dedaunan disepanjang jalan ditaman Rikugien. Indah dan romantis. Nuansa seperti itu memang banyak ditemukan diberbagai daerah di Jepang selama musim gugur berlangsung, salah satunya yang terkenal adalah di Rikugien Gardens, Tokyo.

“Ramai sekali disini, Akiko!”, Ken tersenyum lebar, “Dibawah pohon yang berwarna-warni itu, semua orang berbahagia. Ada banyak sepasang kekasih disini, Akiko. Ada juga yang datang bersama dengan keluarganya, teman-temannya. Semuanya nampak bersuka-cita.”

Akiko merunduk. Raut wajahnya berubah muram.

“Semuanya— bersuka-cita, ya?”

Ken menoleh. Memperhatikan keganjalan pada mimik wajah Akiko yang seolah kehilangan semangatnya. Tak seperti diawal kedatangan mereka ke Rikugien.

“Ada apa denganmu, Akiko? Kau tidak suka, ya, aku mengajakmu kesini? Atau kau ingin kita pulang saja?”, tanya Ken heran.

Akiko menggeleng cepat, “Tidak, Ken! Bukan seperti itu!!”

“Lalu?”

Semilir angin malam mengoyak-ngoyak lembut rambut Akiko yang tergerai. Sesekali dedaunan pohon momiji jatuh dan menempel dirambutnya yang lalu segera dibersihkan oleh Ken dengan tangannya.

“Setiap kali mendengar cerita-cerita darimu, Ken, setiap itu juga aku ingin terlahirkan kembali ke dunia ini. Bukan sebagai Yamashita Akiko si gadis buta, tetapi sebagai Yamashita Akiko yang lain. Yamashita Akiko yang diberi kesempatan untuk dapat melihat keindahan dunia. Yamashita Akiko yang—”, Akiko menundukan kembali wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca pertanda buliran air mata itu akan segera keluar dari tempat persembunyiannya.

Disamping Akiko, Ken nampak terpaku bisu. Memberikan ruang bagi Akiko untuk meluapkan perasaannya.

“Akiko…”, Ken mulai bertutur, “Kesempatan itu ada.”

Ken mengangkat wajah Akiko dengan jemari tangannya. Mengusap setiap bulir air mata yang menggenangi kedua pipi gadis itu.

“Kumohon berhentilah menangis, Yamashita Akiko. Aku tidak kuasa melihat air matamu, aku—”, Ken menghentikan ucapannya sesaat setelah ia merasakan suhu tubuhnya seperti tiba-tiba membeku. Padahal, cuaca saat itu tidak dingin.

Tak beberapa lama, Ken mulai merasa sesak dibagian dadanya hingga ia sulit menghirup udara. Percikan-percikan merah darah setitik demi setitik jatuh dan mengendap, memudarkan warna hitam asli pada jeans yang ia kenakan.

“Ken? Mengapa diam?”, ujar Akiko yang sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi pada Ken, “Kau baik-baik saja ‘kan, Kaneko Ken?”

“Aku… Ya, aku baik-baik saja, Akiko.”, jawab Ken berbohong.

“Ah, Akiko! Aku baru saja membaca pesan singkat dari ibuku. Dia memintaku untuk menjemputnya di kuil. Sepertinya, aku tidak bisa mengantarkanmu pulang, Akiko. Maaf…”

Ken berbohong. Lagi.

“Tapi kau tenang saja! Aku akan menghubungi Yamashita Keiko untuk menjemputmu. Tidak apa-apa ‘kan, Akiko?”

Sementara Ken sebenarnya masih sibuk melakukan berbagai cara untuk membersihkan bercak-bercak darah itu yang cukup banyak. Saputangannya bahkan sudah seperti berubah warna menjadi merah pudar karena dipakai habis untuk menyumbat aliran darah yang keluar terus-menerus dari rongga hidungnya. Ken tetap memaksakan diri menelepon Keiko meskipun sejujurnya kedua tangan Ken sudah seperti mati rasa dan ia tak kuat untuk menggenggam ponselnya.

“Hallo? Yamashita Keiko? Dimana kau saat ini? Maaf, aku tidak bisa mengantarkan Akiko pulang. Bisakah kau menjemputnya ke Rikugien Gardens?”

*****

Judul Asli Cerita “ Late Autumn” oleh KJORA

Satu Tanggapan to “Late Autumn”

  1. Icinno Says:

    thank’s Mr Ajikinai

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: