Kesempatan yang kedua kalinya

Kesempatan yang kedua kalinya

Banyak orang sering bertanya, apakah di dunia ini, kesempatan kedua itu benar-benar ada?
Dapatkah kau menjawab pertanyaan itu?
Jika kau tak bisa memberi tanggapan, biarkan aku yang menjawab.
“Ada….”
Masih ada secuil tempat di dunia ini, yang menyisakan kesempatan kedua bagimu.
Senista apapun perbuatanmu di masa lalu.

‘***  White Oak, Georgia, America.
Dari awal, Ardele Charis harusnya sudah tahu – aku bukan pemuda yang baik untuknya. Gadis bermata hijau lembut yang jernih bagai telaga itu harusnya mengerti, bahwa dia terlalu lembut untuk menjadi pendamping di hidupku yang urakan. Namun cinta memang unik. Dan penuh tanda tanya. Dari sekian banyak pemuda yang memperjuangkan cintanya, Ar – panggilannya –entah mengapa dengan tenangnya malah menjatuhkan pilihan padaku – pemuda paling sialan yang seharusnya bahkan tak layak untuk sekedar menyentuh kulitnya dengan ujung jari sekalipun.
“Kapan kau akan melamarku, Dann?” tanyanya di suatu sore kala itu. Suaranya yang lembut menyapu pendengaranku. Namun seperti sengatan listrik bertegangan maha tinggi, sukses membuat seluruh tubuhku langsung mati rasa.
Kau tahu – sebagian besar laki-laki agak-agak merasa risih bila membahas  persoalan semacam ini, kecuali jika mereka yang membuka mulut lebih dulu. Terlebih lagi   untuk laki-laki sepertiku. Yang lebih suka hidup bebas sebebas burung di angkasa ketimbang mendekam dalam sangkar bernama pernikahan. Dan sungguh – belum pernah terlintas di benakku, aku ingin berucap janji sehidup-semati dengan semua gadis yang pernah berkencan denganku.
Sebagai informasi tambahan bagimu, aku bahkan tak bisa menghitung berapa banyak gadis yang pernah menjalin hubungan khusus denganku. Ya, di usiaku yang baru menginjak dua puluh tujuh tahun, bisa kau bayangkan masih betapa labilnya aku. Jiwaku masih terlalu muda untuk berdiam dalam satu titik. Aku masih ingin bertualang. Menjelajah dan mengeksplor kehidupanku sampai pada suatu batas di mana aku merasa lelah.
Termasuk dengan Ar.
“Dann?” panggil Ar lagi. Seolah meminta jawaban kepadaku.
“Errrr-….” Aku bergumam tak jelas. Melahap sinar mentari makin memudar di  sepanjang garis horizontal pada batas cakrawala dari tempat kami duduk saat ini. Di sebuah taman di pusat kota. Pada sebuah kursi panjang di dekat satu-satunya pohon ek besar yang senantiasa berdaun hijau ada di sana. Sementara di sekeliling kami, pohon ek lainnya yang telah berubah warna menjadi kuning dan merah sibuk menggugurkan daunnya.
Beberapa di antaranya terbang tertiup angin dan sesekali jatuh di dekat aku dan Ar.
“Dann…?” Ar menjatuhkan kepalanya di pundak kiriku. Sementara tangan kanannya meraih telapak kiriku dan meremasnya pelan. “I love you. I really do….”  Aku menelan ludahku yang terasa pahit. Ya, aku tahu Ar mencintaiku. Dan kurasa aku juga mencintai Ar. Tapi tak bisa kupastikan seberapa besar takaran cintaku padanya. Sepertinya tak bisa diperbandingkan dengan perasaannya padaku. Mungkin setengah kurangnya. Atau bahkan jauh di bawah itu. Ah, aku merasa sedikit – bersalah.
“Tell me, that you feel the same way too…,” desahnya pelan. “Would you?”  Ar menggeliat manja. Digerakkannya kepalanya di bahuku. Sebelah tangannya mengambil  sehelai daun pohon ek berwarna merah yang jatuh ke pangkuannya, mengamatinya sedetik, dan membiarkannya lepas tertiup angin, jatuh lagi untuk kesekian kalinya. Berkumpul bersama kawanannya yang teronggok di rumput taman yang juga mulai mengering.
“Ar, kau tahu? Kau adalah gadis yang sangat baik – dan sempurna.” Akhirnya aku memutuskan untuk bicara. Sepertinya tak baik terus menerus membiarkan Ar berlarut semakin dalam dengan pikiran-pikiran bahwa aku akan segera melamarnya dalam waktu dekat ini, sekalipun hubungan kami sudah berlangsung setengah tahun. Cukup lama untuk seorang Dann Adney – pemuda brengsek yang sudah terkenal suka berganti pasangan dalam kurun waktu dua bulan – atau sebulan – atau bahkan seminggu. Kuakui aku memang tak pernah merasa puas terhadap suatu hubungan yang sama dan terjebak dalam satu rutinitas yang serupa.
Tetapi dengan Ar, aku tahu ada sesuatu yang berbeda. Bertolak belakang dengan kebanyakan gadis yang pernah berkencan denganku dan berusaha menggerus habis harta kekayaan keluarga Adney, Ar tak penah memikirkan hal-hal yang berbau busuk semacam itu. Belum pernah aku bertemu dengan gadis selembut Ar sebelumnya. Padahal sudah tak terhitung gadis yang kukencani sejak usiaku masih belasan tahun. Cuma Ar yang kutemukan tak sama. Cuma Ar yang rasanya memiliki sebentuk hati yang seputih sayap malaikat.
Perkenalanku dengan Ar adalah suatu momen yang sama sekali tidak istimewa. Semua berawal dari kejadian bahwa aku – si laki-laki brengsek ini – mencoba menggodanya ketika dia baru saja keluar dari sebuah toko buah di sudut jalan dekat perbatasan kota sana. Kala itu, aku kebetulan baru saja memutuskan hubunganku dengan Navie – seorang gadis sinting yang sanggup menghabiskan waktu seharian hanya untuk membeli lebih dari sepuluh tas berlabel terkenal yang aku tak tahu di mana letak kerennya dan tentu saja dengan uangku –, sehingga saat itu aku butuh semacam mainan baru untuk mengisi hari-hariku selanjutnya.
Begitu mataku menangkap bayangan wajah Ar yang terbingkai manis dengan rambut pirang ombaknya yang keemasan, tanpa sadar aku bersiul. Mencoba menarik perhatiannya. Alih-alih berhasil, Ar hanya melirikku dengan ngeri dari sudut matanya dan langsung melangkah secepat dia dapat. Alhasil, sebuah kantong yang dipegangnya entah mengapa terjatuh dan belasan – mungkin juga puluhan, aku tak sempat menghitungnya – butir apel berkulit merah muda jatuh memenuhi sepanjang trotoar di pinggir jalan.
Kudengar Ar mendesis pelan kala itu. Atau mungkin memaki. Aku tak jelas. Serta tak berniat memperjelasnya. Yang pasti, tanpa perlu mendengar komando dari siapapun, aku ikut membungkuk, pelan-pelan ikut memunguti apel miliknya.
“Thanks,” ujarnya singkat. Ketika aku menyerahkan apel yang berhasil kupungut kepadanya. Saat itulah baru kulihat dengan jelas, betapa cantiknya dia. Pipinya kala itu merona merah, beradu dengan merahnya kulit apel yang baru saja dijatuhkannya.
Kukerjapkan mataku, menatap lekat padanya, dan mengulurkan tangan kananku.
“Adney,” kataku tanpa diminta. “Dann Adney. Kau boleh memanggilku – Dann….”  Dia ikut mengerjapkan matanya, tampak ragu beberapa saat sebelum akhirnya dia mungkin terpaksa menjabat tanganku.
“Ardele Charis,” ucapnya. Kurasakan betapa dingin kulit tangannya ketika dia membalas  jabatan tanganku. Membekukan hatiku. Membenamkan keliaranku.
Pertemuan singkatku dengan Ar waktu itu, membuat hidupku tak pernah sama lagi. Pikiranku hari-hari berikutnya hanya terpusat pada bagaimana menaklukkan gadis sederhana bernama  Ardele Charis. Kukais semua informasi tentang dia. Dari rumah tempat dia tinggal, tempat  kesukaannya, makanan favoritnya, sekolahnya, masa lalunya, binatang yang paling membuatnya jijik, hingga apa warna pakaian dalam yang paling disukainya. Semua poin yang kubutuhkan untuk memenjarakan hatinya dalam penjara yang kubuat. Kecuali poin terakhir tentunya. Aku tak terlalu peduli dengan apa warna pakaian dalam wanita. Dan sungguh – aku belum segila itu untuk mencari tahu hal tak penting semacam itu.
Yang tak pernah kusangka adalah Ar akhirnya juga suka padaku. Dan entah harus kukatakan beruntung atau tidak, dia ternyata bukan sekedar suka – kau tahu – dia benar-benar jatuh cinta. Padaku. Hingga dia akhirnya sudi menyerahkan semua yang dimilikinya kepadaku. Sesuatu yang dijaganya mati-matian hingga dua puluh enam tahun usianya. Diserahkannya mahkota kewanitaannya yang paling berharga dan tak ternilai itu. Hanya untukku.
“Dann…..” Kini kulihat Ar mengangkat kepalanya. Menoleh padaku dan menatapku dalam.
Bibir merahnya tersenyum tipis. Meneduhkan. Menghanyutkan. Menarikku kembali dari alam  lamunanku. “Mengapa tak kau lanjutkan ucapanmu?”  Kukedipkan mataku dan berpikir ulang sampai di mana tadi aku berkata-kata.
“Kau bilang aku gadis yang sangat baik dan sempurna…,” ucap Ar seolah dia dapat  menyelam masuk dalam pikiranku. “Dan kau tak lagi melanjutkannya. Kau tampak seperti sedang  berpikir….”  Aku menatap Ar dan menemukan bola matanya yang indah menatapku penuh cinta. Tadinya, mau  kukatakan padanya bahwa dia memang gadis yang nyaris sempurna untukku, tapi kurasa aku tak  seberuntung itu untuk memilikinya dan hidup bersama dengan dia untuk selamanya. Namun begitu  pendar matanya menjeratku, kata-kataku tertelan lagi sebelum sempat kukeluarkan. Aku tak  tega melihat Ar menangis. Ini tak seperti aku yang biasa. Ini… aneh. Aku seperti  kehilangan diriku yang dulu. Yang menginginkan seorang gadis datang dan pergi sesuka hatiku.
Gadis manapun. Kapanpun. Sesuai keinginanku. Tapi dengan Ar…, aku tak bisa.
“Karena itulah aku merasa sangat bahagia memilikimu…,” bisikku akhirnya. Sengaja  kubenamkan bibirku di antara ombak rambut pirangnya yang indah dan berbisik tepat di  telinganya.
“Aku sudah tahu kalau kau memang mencintaiku, Dann. Aku tahu semua yang dikatakan orang  banyak tentangmu adalah bohong. Semua hal buruk yang mereka sampaikan padaku, mengenai kau  adalah laki-laki hidung belang, laki-laki tak bertanggung jawab, dan tak bisa apa-apa adalah  bohong. Aku tahu kau laki-laki yang baik. Aku juga tahu, seorang Dann Adney bisa benar-benar  mencintaiku tanpa alasan apapun. Bukan begitu…? I believe in you, Honey. And  I really love you. I really really do….”  Ar mengembangkan senyum tipisnya yang indah. Lalu merangkulku dengan sayang dan balas  berbisik. Juga tepat di telingaku.
“And Honey, aku punya berita menggembirakan untukmu. Untuk kita.” Suara Ar  membuat tengkukku meremang antara perasaan bahagia dan gelisah. Berita macam apa yang  termasuk menggembirakan bagi kami – aku sungguh tak berani menerkanya. Maksudku – jika  seorang gadis mengatakan berita yang gembira, biasanya itu mengandung makna-makna yang  cenderung agak riskan bagi pasangannya untuk coba menebaknya. Dan benar saja, saat Ar  membuka suaranya lagi, aku tahu aku tidak keliru. “I’m pregnant…”  Detik itu, aku benar-benar merasa kaku. Seakan aku melihat sinar matahari yang tadi  nyaris terbenam, terbit kembali dan menyorot langsung ke dalam sepasang mataku. Hingga  rasanya mata dan seluruh tubuhku menjerit kesakitan.
“You will soon become a father, Honey….” Kudengar Ar melanjutkan. Mengetatkan  rangkulannya dan entah mengapa membuat lidahku menjadi kelu. Harusnya aku merasa senang. Aku  akan segera memiliki seorang putra. Atau putri kecil yang semanis Ar. Tapi entah mengapa –  saat ini rasanya aku dilibat rasa ragu. Rasanya aku belum siap untuk menjadi seorang ayah di  usiaku yang masih tergolong muda. Rasanya pula aku ingin mengatakan itu pada Ar. Bahwa dia  mungkin bisa memilih untuk menggugurkan kandungannya dan hidup seperti sebelum dia  mengenalku. Dia bisa memilih melupakanku dan mencari lagi lusinan lelaki yang pasti bersedia  mengantri untuk gadis secantik Ar.
I believe in you, Honey. And I really love you. I really really do….
Tapi sialnya, kata-kata yang baru saja Ar ucapkan di telingaku menyihir lidahku untuk  tetap diam. Aku seperti – tak tega untuk memutuskan Ar dan meninggalkan benihku dalam  rahimnya begitu saja.
Belum sempat aku berpikir lebih lama, Ar sudah melepaskan diri dari tubuhku. Mencari bola  mataku dan kuharap dia tak menemukan ketakutan yang bergemuruh di sana. Aku boleh tenang,  ketika kulihat Ar tersenyum makin lebar dan menarik lenganku, mengisyaratkan agar aku  bangkit berdiri dan mengikutinya. Ini berarti aku berhasil menyembunyikan keraguanku dan tak  membuatnya ikut-ikutan menjadi resah.
Dia melangkah. Berjalan mendekat ke arah satu-satunya pohon ek berdaun hijau di taman  itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku roknya yang panjang. Sehelai pita. Berwarna  kuning terang seperti warna matahari yang tergambar di kumpulan buku-buku dongeng. Kemudian  dia menggerakkan tangannya dan berkata padaku,  “Tidak banyak orang yang mengetahui hal ini. Tapi keluarga besarku percaya bahwa ketika  seseorang mengikatkan sehelai pita kuning bagi pasangan mereka pada satu-satunya pohon ek  yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun di taman ini, maka pasangan itu akan hidup bahagia  sampai selama-lamanya….”  Ar menyodorkan sehelai pita itu padaku. Membuatku mengerti betul ke arah mana dia  menuntunku untuk bertindak.
“Dann, maukah kau mengikatkan sehelai pita kuning pada pohon ini – untukku…?”

‘***  Inilah alasan mengapa aku tak mau terjebak dalam pernikahan. Bahtera dalam rumah tangga  memang sangat memuakkan. Kau tak bisa mengatas-namakan cinta semata untuk mempertahankan  keutuhan hubungan dalam keluargamu. Banyak konflik yang muncul dalam rumah tanggaku dengan  Ar dan tak bisa diselesaikan dengan besarnya cinta yang Ar suguhkan padaku. Itu adalah suatu  fakta yang tak terbantahkan.
Lima tahun setelah aku mengarungi kehidupan sebagai sepasang suami istri dengan Ar, kami  dikaruniai sepasang anak. Putraku, Sam dan boneka kecilku, – yang sukses mewarisi mata indah  Ar – Belle. Namun hadirnya dua permata dalam kehidupanku dan Ar ternyata tak sanggup  mengalahkan masalah lainnya yang lebih besar.
Keluarga Adney yang terpandang dan kaya raya, hancur menyisakan sepotong nama dalam waktu  yang singkat akibat terjadinya fraud besar-besaran yang dilakukan oleh dua orang  tangan kanan Dad berserta para gundiknya di perusahaan tambang minyaknya yang  ternama. Dan sialnya, seakan tak cukup menguras habis semua aset perusahaan yang ada, mereka  meninggalkan banyak sekali hutang dalam transaksi bisnis palsu yang sebenarnya tak pernah  ada namun tercantum dalam pembukuan perusahaan. Membelit keluarga Adney dengan sulur-sulur  raksasa yang akhirnya runtuh cukup hanya dalam hitungan bulan.
Aku – putra sulung dan satu-satunya anak dari keluarga Adney yang biasanya hanya bisa  berfoya-foya dan hanya sibuk berpikir bagaimana cara menghabiskan uang yang begitu banyak  dalam kantong dan tabunganku, yang paling merana setengah mati. Terutama setelah  Dad meninggal tiba-tiba akibat terkena serangan jantung mendadak. Disusul dengan  kepergian Mom karena tak bisa bertahan menguasai rasa sedihnya dan terjangkit  penyakit komplikasi. Seluruh saudaraku, kakak Dad ataupun adik-adik Mom,  semuanya menghilang tanpa jejak ketika keluarga Adney tak lagi punya kekuasaan.
Saat itu baru jelas kupahami, kalau peribahasa uang bukan segalanya adalah  bullshit.Sekalipun ada beberapa hal dalam hidupmu yang tak bisa kau beli dengan  tumpukan uang, tapi tanpa uang, kupastikan bahwa kau tak bisa melakukan segalanya!  Tak ada yang memandangmu. Tak ada yang peduli padamu. Semua berlomba tak mengenalmu.
Berlari menjauh ketika kau datang mendekat. Aku bahkan harus menahan diri setengah mati agar  tak mengamuk, ketika di waktu yang lalu hampir semua orang mengelukanku, kini aku dijauhi  bagai terjangkit virus mematikan. Siapa yang tak tahu kalau sisa keluarga Adney yang masih  ada hanyalah seorang laki-laki tolol yang bahkan tak lulus mengenyam pendidikan di  universitas dan masih harus membanting tulang membayar lilitan hutang bank yang  menggunung?  “Dann, kau masih punya aku….” Ar menyentuh lenganku ketika malam itu aku pulang ke  rumah dan mengatakan padanya bahwa tak seorang pun sudi memberikanku pekerjaan. Padahal  sudah hampir tiga bulan aku mencari lowongan pekerjaan untuk sekedar menghidupi keluarga  kecilku.
Aku diam saja mendengar Ar bicara. Menumpukan kedua siku tanganku di lutut sambil meremas  rambutku dengan frustasi – adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan saat ini.
“Biarpun semua orang di dunia ini meninggalkanmu, aku tak akan meninggalkanmu. Kau tahu  hal itu kan?” tanyanya sendu. “Aku mencintaimu, Dann. Kalau sekarang ini kau khawatir kita  tak bisa memberikan yang terbaik bagi Sam dan Bella karena masalah uang, kau tak perlu  khawatir. Aku masih punya sedikit tabungan yang bisa kita pakai mungkin sampai akhir tahun.
Selama itu aku akan berusaha mencari pekerjaan. Aku akan selalu di sampingmu,  Honey. Aku tidak pernah akan meninggalkanmu berjuang sendirian.”  Aku tahu Ar tak berbohong. Dia memang tidak pernah sekalipun berbohong padaku. Juga tak  pernah mengecewakanku. Bulan-bulan berikutnya, Ar bekerja sebagai seorang guru musik di  sebuah course di pinggiran Brunswick. Dan aku bertindak sebagai parasit yang  kerjanya hanya bisa membantu Ar menghabiskan uang yang telah dicarinya dengan  susah-payah.
Aku merasa lebih buruk dari tumpukan sampah. Yang tak bisa melakukan apapun dan lebih  parah dari orang cacat. Stress berkepanjangan dan depresi yang tak kunjung membaik  pada akhirnya membuat perangaiku yang sejak dulu tak pernah baik menjadi semakin  mengenaskan.
Kuhabiskan semua uang yang Ar berikan padaku untuk membeli minuman keras. Berbotol-botol  whisky hingga puluhan bir murahan kutenggak nyaris setiap hari. Berkutat dengan  meja judi dan mempertaruhkan semua yang kupunya di sana. Tak peduli sekalipun Ar sempat  menangis meraung ketika aku merebut paksa uang yang akan digunakannya untuk membayar uang  sekolah Sam.
Aku paling benci ketika Ar menatapku dengan tatapan berlinang air mata dan memohon padaku  dengan tatapan teramat sangat memelas agar aku menaruh iba padanya. Aku juga mengecam  habis-habisan ulahnya yang gemar menggelayut kuat-kuat di kakiku hanya untuk menghalangiku  pergi bekerja. Ya – kali ini, berjudi adalah mata pencaharianku satu-satunya, setelah semua  pintu tertutup bagiku untuk bekerja secara baik-baik.
Karena itu, aku sama sekali tak segan menendang tubuh Ar jika dia mulai melancarkan aksi  menggelayut separuh memohonnya di kakiku. Juga tak mau ambil pusing ketika melihat tubuhnya  membiru lebam akibat ulahku. Jika tidak seorangpun sudi mendekam dalam neraka yang sedang  membakarku saat ini, setidaknya Ar harus merasakannya. Karena ulahnya-lah kini aku terkurung  dalam sebuah ikatan bernama pernikahan sialan yang membuatku merasa harus bertanggung jawab  menghidupi empat nyawa sekaligus.
Tapi Ar memang wanita paling dungu yang pernah kukenal. Tahukah kau – Ar bahkan tidak  marah ketika malam itu kucuri semua uang tabungannya yang masih tersisa. Lalu dengan  semena-mena kunyatakan padanya bahwa aku akan mengadu nasib ke New York. Ar hanya menatapku  dengan kebisuan yang panjang. Cuma matanya yang terus bicara padaku tanpa kata. Seakan ingin  menyampaikan padaku betapa perih luka yang kutorehkan di sukmanya.
Dan begitu saja – kubalikkan tubuhku dan menghadap pintu. Bersiap keluar dari rumah kecil  kami dan lari dari keterpurukkanku. Bersama dengan iringan air mata yang meleleh dari kedua  mata indah Ar, kutinggalkan dia bergelut sendirian. Berjuang membesarkan Sam dan Belle yang  kuyakin telah terlelap di malam selarut itu. Aku percaya – mereka lebih baik hidup tak punya  ayah daripada memiliki seorang ayah sepertiku.
Sependapatkah kau denganku?  ‘***  New York City, America.
Sebuah bis melaju pelan, menuju Miami, Florida. Sudah beberapa jam aku duduk di dalamnya  sambil sesekali meremas tanganku yang telah berkeriput dengan sangat gelisah. Seolah ada  ribuan jarum di kursi yang sedang kududuki dan itu menciptakan rasa sakit yang luar biasa.
Sampai-sampai aku harus mengalihkan perhatianku dengan meremas kulit tanganku hingga nyaris  terkelupas.
Telah sebelas tahun berselang ketika terakhir aku meninggalkan White Oak. Meninggalkan Ar  dan kedua anakku di sana. Sudah terlalu banyak pula yang terjadi. Mungkin Ar sudah menikah  lagi. Kedua anakku bahkan mungkin sudah menjadi remaja yang tampan dan cantik. Atau mereka  bahkan sudah memiliki adik-adik baru – hasil dari perkawinan Ar dengan laki-laki lain –  siapa tahu.
Kuteguk ludahku seperti menelan sebuah batu besar. Dihadapkan bahwa aku harus menerima  kenyataan bahwa mungkin mereka telah melupakanku tiba-tiba saja membuatku tersiksa. Aku  merasa – sangat tak rela.
“Kau mau?” Tiba-tiba seorang laki-laki yang mungkin sebaya denganku menawarkan sepotong  sandwich ke hadapanku.
Aku tak menjawab. Kupandangi dia dengan dahi berkerut.
“No, thanks!” sahutku akhirnya. Sesingkat mungkin untuk menolak tawarannya.
Sekalipun saat ini aku memang sedang kelaparan, namun rasanya aku sedang tak bernafsu  mengunyah makanan apapun dalam mulutku.
“Kau harus mencobanya. Ini sangat enak. Dan kau tidak akan pernah menemukan sandwich  lain seenak ini di toko roti manapun di New York City.” Laki-laki itu tertawa,  memamerkan sederetan giginya yang putih dan rata, serta menambahkan. “Atau di kota manapun  kau berada. Kupastikan kau akan menyesal jika melewatkan kesempatan ini.”  Dia meletakkan sandwich yang dipegangnya ke pangkuanku. Lalu mulai makan  miliknya sendiri dengan nikmat. Membuatku menelan liur dan akhirnya memutuskan bergerak  mencobanya.
“Enak?” tanyanya, begitu aku memasukkan potongan terakhir sandwich-ku ke dalam  mulut dan mengunyahnya dengan tak sabar. Seperti hewan yang kelaparan.
Aku mengangguk seadanya dan berujar tak jelas,  “Thanks a lot….”  “You’re welcome,” katanya seraya tersenyum. “Kau tahu mengapa sandwich  itu merupakan sandwich terenak yang pernah kumakan seumur hidupku ini?”  Aku mengangkat bahu. Menanti kelanjutan ucapannya – karena sepertinya dia tak menungguku  menjawab.
“Karena istriku yang membuatnya,” lanjutnya sederhana. Tapi membuatku tersentak seperti  tersambar kilat. “Dia adalah wanita yang luar biasa. Dulu, ketika aku menikahinya, aku sama  sekali bukan apa-apa. Aku cuma seorang pengangguran yang tak bisa membahagiakan dia. Tapi  hebatnya, dia sama sekali tidak meninggalkanku. Hingga saat ini. Sampai aku memiliki  pekerjaan tetap dan mampu menghidupinya dan anak-anakku dengan sederhana. Tidak kaya – kau  tahu. Gajiku hanya cukup untuk makan sehari-hari dan memenuhi kebutuhan pokok lainnya. Tapi  istri dan anakku tak pernah mengeluhkannya. Aku yakin mereka adalah malaikat yang Tuhan utus  untuk membuatku bahagia.”  Tanpa jeda, kutatap laki-laki di sampingku itu dengan pandangan heran. Masih seperti  terhipnotis menunggu dia melanjutkan ucapannya ketika aku mengamati dia sibuk mengeluarkan  secarik kertas dari saku kemejanya.
“Eliss.” Dia menunjuk seorang wanita yang bertubuh agak gemuk di dalam foto yang  dipegangnya. Baru kusadari bahwa secarik kertas yang dikeluarkannya dari sakunya – ternyata  adalah selembar foto usang yang mulai agak menguning. “Dan ini anakku satu-satunya. Dylan.
Tampan bukan? Sepertiku.” Lalu dia tertawa. Terbahak-bahak.
“Apa kau percaya pada kesempatan kedua?” Seperti kehilangan separuh rohku yang tersesat  entah di mana, kuajukan pertanyaan padanya. Pertanyaan yang sepertinya melesat keluar begitu  saja tanpa mampu kucerna lebih dulu dalam otakku.
Dia menghentikan tawanya. Menatapku dengan bingung dengan sebelah alis terangkat. Aku tak  heran dengan reaksi yang diberikannya karena aku tahu bahwa pertanyaanku sama sekali tak ada  sangkut-pautnya dengan pembicaraan yang sedang dibahasnya tadi. Maksudku – seharusnya aku  bertanya padanya, berapa usia anaknya saat ini, atau mengatakan bahwa istrinya cantik – atau  apalah. Aku tak berniat memikirkannya sekarang.
Pikiranku sedang kacau. Seperti benang-benang kusut yang membuatku jadi sakit kepala,  kenangan-kenanganku dengan Ar dan kedua anakku mengudara begitu saja di depan mataku.
“Kau percaya?” ulangku.
“Percaya.” Dia menghela nafas sebelum menjawabnya. Entah karena merasa terpaksa atau  karena merasa malas menjawab pertanyaanku.
“Biarpun orang itu telah menyakiti hatimu sedemikian rupa?” lanjutku.
“Maksudmu?” Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya hingga tegak. Masih menatapku.
“Aku memiliki seorang istri dan dua orang anak,” jelasku. Mulutku membuka dengan  sendirinya tanpa kuminta. “Tapi aku menyia-nyiakan mereka. Sebelas tahun yang lalu aku  meninggalkan White Oak dan pergi ke New York, setelah mencuri seluruh tabungan Ar –  istriku.”  Jelas kulihat air muka laki-laki di sampingku itu mengeras. Seperti terperanjat. Atau  menatap jijik padaku – tak bisa kupastikan. Tapi aku memutuskan untuk terus melanjutkan.
“Kukatakan pada Ar bahwa aku akan pergi mengadu nasib ke New York. Tapi sesampaiku di  sini, kupertaruhkan seluruh uang itu ke atas meja Roulette. Dan aku menang.”  Tanganku terkepal erat. Kurasakan bibirku mulai gemetar menahan rasa dingin yang tiba-tiba  mencengkramku. “Aku menang begitu banyak. Namun tak sedikitpun aku ingin kembali ke White  Oak untuk menemui Ar. Aku – berusaha membangun bisnis properti kecil-kecilan di New York.
Cukup sukses. Tapi ternyata tak mampu menghentikan kerakusanku. Uang yang kumiliki  kuhabiskan untuk tidur dengan banyak wanita, berbotol-botol minuman keras di bar nyaris  setiap malam, dan tentu saja – judi. Kemudian pelan-pelan aku terlibat hutang dan akhirnya  memutuskan untuk menulis cek palsu demi menipu uang klienku. Oleh sebab itulah aku  dijebloskan ke penjara dan baru keluar hari ini.”  Kuamati wajah laki-laki itu kian mengeras. Mungkin dia sedang merencanakan untuk pindah  dari tempat duduknya. Aku tak akan menyalahkannya jika dia melakukannya. Sungguh.
“Beberapa waktu sebelum hari pelepasanku dari penjara, entah mengapa aku teringat Ar dan  kedua anakku.” Kutahan nafasku yang terasa berat. Apakah dia mendengar perubahan dari nada  suaraku? Rasanya sekarang aku merasa tak bisa lagi berpura-pura tenang. Rasanya ada sesuatu  di dadaku yang sedang ingin memberontak keluar. “Kutulis sebuah surat untuk Ar. Setelah  belasan tahun aku tak pernah lagi menyentuh pena dan menulis dengan tanganku, kucoba menulis  surat singkat untuk Ar. Kukatakan padanya, baru aku sadar betapa aku mencintainya. Betapa  aku merindukannya. Kukatakan pula padanya, agar dia tak menungguku kembali karena merasa tak  layak lagi bagi wanita semulia dia mencintai laki-laki bangsat sepertiku. Dia dan  anak-anakku layak mendapatkan laki-laki yang lebih pantas menjadi suami dan ayah yang baik  bagi mereka.
“…Tapi aku ingin dia tahu – kalau aku merindukannya setengah mati. Aku merindukan  mereka sampai aku nyaris gila karena tak tahu harus melakukan apa. Karena itu – kusampaikan  pada Ar bahwa pada hari ini, aku akan kembali ke White Oak.”  Kuangkat kepalaku yang tertunduk dalam dan menyadari bahwa laki-laki itu masih  mengamatiku tanpa suara.
“Ar percaya, jika pasangannya mengikatkan sehelai pita kuning pada satu-satunya pohon ek  yang sepanjang tahun tak pernah berubah warna yang ada di pusat taman kota White Oak, maka  pasangan itu akan hidup bahagia untuk selama-lamanya. Dulu – ketika dia memintaku melamarnya  di suatu sore, dia memintaku melakukannya. Dia memintaku mengikatkan sehelai pita kuning  pada pohon itu – untuknya.”  “Apakah kau melakukan itu untuknya?” tanya laki-laki itu padaku. Kudengar nada simpati  dari caranya bertanya.
Namun aku hanya membalas pertanyaannya dengan seulas senyum samar.
“Dalam suratku yang pertama – dan mungkin yang terakhir itu, kuminta pada Ar untuk  mengikatkan sehelai pita kuning pada pohon yang sama jika dia memaafkan semua kesalahanku.
Sehingga pada saat bis ini melaju melewati pusat taman kota dan aku melihat ada sehelai pita  kuning terikat di sana, aku akan tahu – bahwa mereka telah bersedia menerimaku kembali dalam  hidup mereka. Dan bila tidak kutemukan sehelai pita kuning di sana – aku tidak akan turun  dari bis ini dan melanjutkan perjalananku sampai ke Miami, serta bisa kupastikan aku tak  akan pernah kembali lagi ke White Oak untuk mengusik kehidupan mereka lagi….
“Apa bisa kau rasakan – kalau aku merasa sangat merana…?”  Cuma tepukan pelan di bahuku yang diberikan laki-laki itu sebagai bentuk rasa simpatinya.
Kemudian kembali kutundukkan kepalaku sedalam kubisa, saat kurasakan rasa panas memenuhi  kedua bola mataku dan pandanganku seperti tertutup tirai besar.
Akankah Ar memaafkanku?  �

‘***  �  “Kita akan segera sampai di White Oak bukan?” Suara laki-laki yang kukenal itu  mengembalikan kesadaranku setelah beberapa saat yang lalu, kurasa aku sempat tertidur karena  kelelahan.
Refleks, kutolehkan kepalaku ke luar jendela dan mendapati pohon ek di sepanjang jalan  telah berubah warna menjadi kuning dan merah. Mencuatkan suasana yang sama persis dengan  suasana ketika Ar memintaku melamarnya di taman kala itu. Di musim gugur yang serupa –  belasan tahun lalu.
Kemudian kurasakan nafasku kian memburu dan adrenalinku memuncak saat kusadari betul  bahwa roda bis yang kutumpangi melaju kian dekat ke pusat kota White Oak.
“Aku harus meminta sopir bis untuk melambatkan laju bis.” Laki-laki itu tiba-tiba bangkit  berdiri.Meninggalkanku dengan tercengang dan menambahkan, “Kau harus mengamati apakah ada  sehelai pita kuning yang terikat di taman pusat kota White Oak, bukan?”  Kurasakan darahku berdesir tak menentu. Jantungku berdegup begitu cepat sampai aku merasa  pusing. Kurasakan bulir keringat dingin bermunculan di wajah dan punggungku, dan angin  dingin yang begitu dahsyat menerpaku begitu saja ketika laju bis melambat. Aku tahu. Tentu  aku tahu. Sebentar lagi aku akan melihat sebuah taman dengan puluhan pohon ek yang sedang  sibuk meranggas. Dan satu – hanya satu pohon ek berdaun hijau di tengahnya yang – mungkin –  tak terikat sehelai pita kuning di sana.
“Bersabarlah…,” desah suara itu bersahabat. Tak berani kuangkat lagi kepalaku untuk  menoleh ke luar sana. Aku – tak sanggup melihat apa yang terjadi di sana dan menelan lagi  kekecewaan yang kuciptakan sendiri.
“You must see – this….,” kata laki-laki itu lagi. Bergetar hebat. Sementara  kepalaku masih tertunduk dalam.
Seperti tak sabar dengan tingkahku, diangkatnya kepalaku agar terdongak dan memaksa  mataku untuk mengikuti telunjuknya yang mengarah ke luar sana.
Bis telah berhenti. Seisi bis yang tidak terlalu ramai itu kudapati juga tengah menoleh  ke luar sana. Ke arah taman. Dengan mata terbelalak – dan mulut ternganga.
Kuberanikan diri untuk menoleh – dan akhirnya, detik itu juga aku tahu, apa jawaban yang  Ar berikan padaku.
Di sana, masih ada satu-satunya pohon ek berdaun hijau yang sama berdiri dengan kokoh  seperti dulu. Tetapi, tak kutemukan sehelai pita kuning terikat di sana.
….
Kutegaskan, tidak kulihat sehelai pita kuning terikat di sana.
……  Tidak ada sehelai pita kuning.
…………  Tidak ada sehelai….
……………….
Bukan sehelai….
……………………….
Melainkan ada berhelai-helai pita kuning di sana.
Ada beratus-ratus pita kuning bergantungan hampir di seluruh pohon ek besar itu.
Melambai-lambaikan ucapan selamat datang padaku.
Dan – ohhh….
Di bawah pohon berdaun hijau itu, kulihat ada tiga malaikat yang sedang menungguku di  sana.
Tanpa pikir panjang, aku berdiri, turun tergesa hingga jatuh tersungkur. Kurasakan rasa  sakit menyelimuti kedua lututku yang menghantam aspal jalan, tapi tak kuhiraukan. Aku  bangkit dengan letupan semangat yang membuncah bagai bunga api, seperti kesetanan menuju ke  arah pusat taman, mengembangkan kedua lenganku, dan jatuh untuk yang kedua kalinya mencium  tumpukan dedaunan ek yang mengering dan memenuhi seisi taman.
Susah payah, kupaksakan diri untuk berdiri lagi. Air mata tak sanggup lagi kutahan untuk  tak tumpah bagai air bah. Kemudian kusambut ratusan pita kuning dan malaikat yang menantiku  di sana. Dengan rongga dada yang terasa penuh.
Penuh akan rasa – bahagia….
�  ‘***  �  Ar menyodorkan sehelai pita itu padaku. Membuatku mengerti betul ke arah mana dia  menuntunku untuk bertindak.
“Dann, maukah kau mengikatkan sehelai pita kuning pada pohon ini – untukku…?”  Kutatap Ar dengan pandangan mencemooh.
“Ah, ayolah, Ar. Kau sudah bukan anak kecil lagi yang percaya pada hal-hal semacam itu  bukan?”  Aku mengibaskan tanganku, tak mau menuruti kemauannya yang menurutku – terlalu  kekanakkan. Dan sama seperti biasa, Ar tidak mendesakku. Dia selalu menerimaku sebagaimana  aku ada. Keputusanku. Perbuatanku. Apapun itu. Dia tak pernah memprotesku.
“Dann, suatu hari nanti, akan kuikatkan pita kuning untukmu di pohon ini,” katanya.
Tersenyum manja. “Agar kita bisa hidup bahagia sampai selama-lamanya….”  Dan Ar benar melakukannya….
Belasan tahun berselang setelah itu. Dia mengikatkan ratusan pita kuning untukku di pohon  yang dimaksudkannya dulu.
Tanpa rasa benci, dia menerimaku kembali dalam hidupnya. Biarpun aku telah menuangkan  begitu banyak garam ke atas lukanya yang bernanah.
Bersama dengan kedua anakku yang sangat kucintai, kumulai kembali membangun perahu kecil  untuk berlayar bersama mereka. Dalam lautan yang kuharap lebih bersahabat denganku dibanding  sebelumnya.
Banyak orang sering bertanya, apakah di dunia ini, kesempatan kedua itu benar-benar masih  ada?  Dapatkah kau menjawab pertanyaan itu?  Jika kau tak bisa memberi tanggapan, biarkan aku yang menjawab.
Ada….
Masih ada secuil tempat di dunia ini, yang menyisakan kesempatan kedua bagimu. Senista  apapun perbuatanmu di masa lalu. Asalkan masih tersisa setitik kemauanmu untuk memperbaiki  semua kesalahanmu, kesempatan itu akan selalu ada.
Kehidupanku dan Ar adalah salah satu contoh yang paling nyata….
‘***  Judul Asli cerita  Tie A Yellow Ribbon (Sumber Cerita)


%d blogger menyukai ini: