Keadilan Marie Anne

Keadilan Marie Anne

“Perempuan jelek! Merusak pemandangan saja! Pergi sana dan jangan kembali lagi!”

Teriakan terdengar dari arah sebuah bar kumuh di pinggiran kota Paris. Seorang gadis berpakaian lusuh terlempar keluar dari pintu bangunan itu, terjerambab di tanah yang berdebu, seiring terdengar alunan lirik lagu

Que pasaría si no existiera el infinito,
ni el jardín definitivo.
Que pasaría si la galaxia B 6,12
me la he inventado yo.

A ti parece de momento no importarte,
a mi me está quitando el sueño.

Que pasaría si nada de lo nuestro es cierto,
y yo me empeño en razonarlo.
Si me he creado un universo de mentiras,
para no ver la realidad.

Y si mañana no amanece en esta casa,
y no te veo nunca más.
A ti parece que sigue sin importarte,
a mi en el fondo ya me esta empezando a dar igual.

Empedrado está el infierno de buenas intenciones,
muchas puertas, muchas vueltas, vuelvo a tropezar.
Empedrado está el infierno de buenas intenciones,
muchas puertas, muchas vueltas, vuelvo a tropezar.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya bertubuh gemuk keluar dari bar, berkacak pinggang memandangi gadis itu dengan tatapan jijik. Pria itu meludah sebelum berbalik kembali ke dalam bar.

Orang-orang yang kebetulan lewat hanya menonton pemandangan itu sambil berbisik-bisik. Mereka hanya melihat sekilas ke arah gadis itu kemudian memalingkan muka dan berjalan kembali seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tak seorangpun yang berniat menolongnya.

Gadis itu berdiri dan dengan tenang menepuk-nepuk pakaian dan rambut coklatnya yang kotor. Dia sudah terbiasa dengan perlakuan orang-orang itu. Justru kalau ada orang yang bersedia menolongnya, orang itu pastilah punya maksud lain.

Namanya Marie Anne. Sebuah nama yang cukup indah, sebenarnya. Marie memiliki tubuh yang tak terlalu jelek, tingginya juga cukup proporsional. Rambut coklatnya yang panjang dan berombak juga akan menjadi amat indah bila dirawat dengan baik. Sayang, kemiskinan membuatnya tak punya waktu maupun biaya untuk merawat diri, karena untuk bisa makan hari ini saja masih menjadi sebuah tanda tanya besar.

Yang membuat orang-orang bersikap dingin adalah wajahnya. Mungkin bila Marie berwajah cantik, akan ada satu – mungkin banyak – orang yang bersedia menolongnya. Bisa jadi malah seorang Bangsawan tertarik padanya dan membuatnya menjadi seorang putri, seperti dalam dongeng yang dulu sering diceritakan oleh ibunya yang kini sudah berada di langit. Atau sebagai wanita simpanan juga tak terlalu buruk, yang penting dirinya tak perlu berkeliaran di jalan dengan perut kosong. Tapi tidak, impian indah seperti itu hanyalah milik gadis-gadis berwajah jelita, sedangkan Marie Anne, tak bisa dikatakan jelita.

Hidungnya terlalu besar untuk wajahnya. Rahang bawahnya terlalu maju. Wajahnya dipenuhi bopeng bekas cacar air dan sebuah tanda lahir berwarna biru berukuran besar menghiasi pipi kanannya. Mulutnya miring ke kanan, membuatnya senantiasa memasang ekspresi mengejek meski dia sendiri tak bermaksud seperti itu.

Menengadah untuk menatap poster lusuh Istana Versailles yang menempel di tembok, Marie Anne mencibir, berpikir betapa tak adilnya kehidupan ini. Namanya hampir sama dengan sang Ratu Perancis, Marie Antoinette. Tapi nasibnya amatlah bertolak belakang. Bila sang Ratu sejak lahir sudah tinggal di istana dan dilayani oleh ratusan pelayan, dia seumur hidup menggelandang di jalan dan harus bekerja membanting tulang seharian agar bisa makan untuk hari itu. Bila sang Ratu setiap saat bisa mengenakan pakaian indah; Marie Anne hanya memiliki sebuah baju lusuh yang dikenakannya tiap hari. Bila sang Ratu bisa memakan makanan mewah, bahkan berpesta pora setiap saat; sepotong roti keras dan air putih pun sudah patut disyukurinya dalam kondisi resesi seperti saat ini.

Ya, gelandangan dan orang-orang yang terlantar sudah menjadi pemandangan umum di seluruh penjuru kota. Pencurian hingga pembunuhan demi memperebutkan sepotong roti sudah menjadi hal yang lumrah. Wanita-wanita yang memiliki modal wajah cantik dan tubuh molek tak segan untuk melacur demi mengisi perut.

Sementara para bangsawan dan tuan tanah hidup mewah, orang-orang kaum bawah dibebani oleh pajak yang tinggi. Para penghuni istana, yang seharusnya bertanggungjawab dengan kehidupan rakyat justru terlena dalam pesta pora yang menguras perbendaharaan negara. Dan untuk menutup kekurangan dana, pajak makin ditinggikan. Sudah tak ada lagi yang namanya keadilan.

Meringkuk di sudut sebuah gang sempit, Marie Anne mengutuki nasibnya sendiri. Kenapa dirinya terlahir di keluarga miskin? Kenapa dirinya terlahir dengan wajah buruk? Bila memang di dunia ini ada sosok Mahakuasa dan Mahatahu yang disebut Tuhan, di mana Dia? Para pendeta gereja sering berkhotbah tentang sosok itu, tapi nyatanya, ‘kasih Tuhan’ yang mereka gembar-gemborkan amat sangat tidak adil. Kasih-Nya itu hanya untuk orang-orang kelas atas, dan tentu saja, para pendeta berperut besar itu!

Marie Anne mencengkeram lambungnya yang terasa makin melilit. Entah sudah berapa hari perutnya hanya diisi air sungai. Sudah tak ada lagi yang sudi mempekerjakannya meski bayaran yang dimintanya hanya sepotong roti. Dia tak bisa menyalahkan mereka. Tahun ini panen tak terlalu bagus dan semua orang harus berhemat untuk memberi makan diri dan keluarga mereka sendiri. Sudah tak ada lagi yang tersisa untuk diberikan pada orang lain.

Menengadah menatap angkasa, Marie Anne tersenyum miris dan membatin, ‘Jadi begini akhir hidupku? Mati kelaparan tanpa seorangpun yang peduli? Ah, sudahlah. Setidaknya kematian akan mengakhiri semua ini.’ Tak ada air mata yang mengalir dari kedua bola mata birunya. Air matanya itu sudah kering saat dulu menangisi sang ibu yang meninggal akibat wabah. Sudah habis untuk meratapi sang ayah yang pergi entah ke mana. Dan dalam kondisi perut kosong, gadis itupun tertidur.

 

***

 

Ketika membuka matanya, Marie Anne berhadapan dengan pintu depan sebuah bangunan megah, bukannya dinding gang yang sempit dan kotor. Temboknya terbuat dari batu berwarna kelabu dan pintu kayunya yang berpelitur mengkilap dicat dengan warna hitam. Ukiran-ukiran dan mozaik yang tampak rumit menghiasi permukaan pintu dan dinding di sekelilingnya. Sebuah papan yang tulisannya tak bisa dibaca oleh Marie Anne yang buta huruf terpasang mencolok tepat di atas pintu.

Melihatnya, gadis itu merasa kalau dirinya sudah berada di alam lain. Bagaimana tidak, bangunan megah semacam itu tak mungkin ada di sudut kota kumuh tempatnya tinggal. Lagipula arsitektur bangunannya – meski Marie Anne tak tahu apa-apa mengenai arsitektur – amat berbeda dengan bangunan-bangunan lain. Bangunan itu tampak begitu menonjol dan mengundang.

Berdiri dengan sepasang kakinya yang lemas, Marie Anne berjalan tertatih-tatih menuju bangunan itu. Tangannya terulur meraih gagang pintu yang berwarna kuning berkilau – entah emas murni atau hanya sepuhan – dan mendorongnya. Bel berdenting merdu saat pintu itu terbuka.

“Permisi…” bisik Marie Anne ragu-ragu. Entah tadi kekuatan apa yang memberinya keberanian untuk melangkahkan kaki ke dalam bangunan ini, tapi yang pasti dirinya sama sekali tak merasa takut. Apa yang perlu ditakutkannya? Hal terburuk yang bisa terjadi pada dirinya adalah kematian dan itu mungkin justru dinantikannya.

Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Marie Anne mendapati dirinya berdiri di dalam sebuah ruang tamu berukuran sedang. Lantainya terbuat dari keramik hitam mengkilap yang elegan. Sebuah jam antik setinggi dua meter berdiri megah di dinding, di sebelahnya terdapat sebuah lemari kaca besar berisi buku dan entah apa lagi. Di langit-langit terdapat kandelir kristal yang berkilauan. Satu sisi dindingnya ditutupi oleh kelambu tebal berwarna ungu untuk memisahkan ruangan ini dengan bagian lain bangunan. Satu set sofa berwarna merah marun terpasang memutar di salah satu sudut ruangan, tampak nyaman dan mengundang untuk diduduki.

Tapi yang menjadi perhatian Marie Anne bukanlah seberapa mewah perabot-perabot itu. Yang langsung menariknya adalah aroma yang berasal dari meja kaca setinggi lutut yang terletak di tengah tatanan sofa-sofa merah itu. Di atas meja itu terdapat pinggan berisi beragam kue dan makanan ringan. Di dekatnya terdapat beberapa cangkir teh yang masih mengepulkan uap. Aroma kue dan teh menguar dan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Perut gadis itu langsung bergemuruh dan tanpa pikir panjang dia langsung menyerbunya, menjejalkan kue-kue itu ke dalam mulutnya. Dengan rakus mengunyah dan menelan sekuat mulutnya sanggup menampung. Hanya bunyi jam antik yang menemani suara kunyahannya.

“Makanlah pelan-pelan. Tak ada untungnya kalau klienku mati tersedak sebelum sempat melakukan transaksi.” Sebuah suara pria – datar dan dingin – terdengar dari arah belakang Marie Anne.

Suara itu membuat jantung Marie Anne melompat dan membuatnya benar-benar tersedak. Terbatuk-batuk sambil memuntahkan remah-remah makanan yang belum sempat ditelannya, gadis itu meraih cangkir teh kemudian menyeruput isinya, menggunakan cairan panas itu untuk mendorong masuk makanan ke dalam tenggorokannya. Sambil mengatur napas, dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara.

Saat itulah dilihatnya seorang pria duduk menyandar di sebuah sofa tinggi berwarna hitam di belakang meja kerja berukuran besar. Wajahnya tampan dengan hidung mancung dan tulang pipi tinggi khas seorang bangsawan. Rambutnya hitam berkilau, kontras dengan kulitnya yang pucat, disisir rapi ke belakang. Usianya sulit untuk diterka, tapi yang jelas, pria berbaju serba hitam ini tak.memiliki sedikitpun kerutan di wajahnya. Secara keseluruhan, penampilannya seperti patung pualam yang diukir dengan tangan terampil seorang pematung ahli.

Jantung Marie Anne berdebar kencang. Gadis itu sama sekali tak menyadari kehadiran pria itu ataupun keberadaan sofa hitam dan meja kerja yang ditempatinya. ‘Mungkin aku tak memperhatikannya karena terlalu sibuk makan,” batinnya.

Memikirkan hal itu, Marie Anne merasa wajahnya memanas. Bagaimanapun, dia telah masuk ke dalam rumah orang tanpa diundang dan memakan makanan si empunya rumah tanpa dipersilakan.

“Aa… maa… maafkan saya. Saya tak bermaksud bersikap lancang. Sa… saya hanya…” ujarnya dengan suara terbata-bata. Otaknya kosong karena dikuasai oleh rasa panik.

“Bukan masalah. Itu hanya makanan kecil yang tak masuk hitungan,” jawab pria itu dengan nada dingin dan datar yang sama. Raut wajahnya tak berubah, hanya bibirnya yang bergerak. “Habiskan saja. Kalau kurang ambil sendiri di dalam lemari itu. Makanlah sampai kenyang. Waktuku tak terbatas,” ujarnya sambil menuding ke arah lemari kayu berukuran sedang.

Marie Anne ternganga mendengar ucapan itu. Pemilik rumah ini tak peduli dengan sikap lancangnya dan malah menawarinya tambahan makanan? Diliriknya kembali makanan yang tadi dimakannya dengan rakus dan diperhatikannya baik-baik. Jantungnya kembali mencelos.

Saking laparnya, Marie Anne tak menyadari kalau dirinya baru saja memakan jenis makanan yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh para penghuni Versailles. Makanan yang bahkan tak berani diimpikannya. Dan dia baru saja menelannya seperti babi yang melahap sisa sayuran dengan rakus!

Menelan ludahnya dan kembali meneguk teh yang hanya pernah dia cium wanginya saat melewati rumah orang-orang kaya, Marie Anne membatin, ‘Orang macam apa yang pada masa sulit seperti ini bisa dengan tenangnya memberi makan seorang gadis pengemis buruk rupa dengan makanan mewah? Lagipula tadi dia mengatakan kalau waktunya tak terbatas. Apa maksudnya?’

Marie Anne menatap pria itu dengan rasa ingin tahu. Yang ditatap hanya balas menatapnya dengan kedua bola mata yang seperti langit malam, dingin sekaligus dalam tanpa batas. Dan saat itulah Marie Anne menyadari kalau pria ini berbeda. Orang ini sama sekali tak berjengit apalagi tampak jijik saat melihat dirinya. Sebuah perasaan hangat yang aneh timbul dari dadanya.

Entah sudah berapa lama keduanya hanya saling pandang seperti itu sebelum akhirnya pria itu mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Nona, sampai kapan kau mau memandangiku seperti ini? Meski aku bilang waktuku tak terbatas, waktumu tetap saja terbatas. Makanlah, kalau sudah kita mulai transaksinya.”

Teguran itu menyadarkan Marie Anne. Rasa laparnya sudah lenyap entah ke mana, digantikan oleh  keingintahuan. Buru-buru dia berdiri tegak, mengibaskan debu dari pakaiannya dan merapikan diri sebisanya, kemudian tersenyum, berharap senyumannya itu tak membuat wajah buruknya malah tambah mengerikan. Sambil menekuk lutut dan mengangkat sedikit sisi roknya dengan gaya resmi yang sering dilihatnya dilakukan oleh para wanita bangsawan, Marie Anne berujar, “Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan. Makanan Anda sungguh luar biasa dan saya tak tahu bagaimana harus membayarnya…”

Sambil lalu pria itu melambaikan tangannya. “Tak perlu berterima kasih segala. Sudah kubilang kalau makanan itu tak masuk hitungan.” Pria itu meluruskan punggungnya, melipat tangannya di atas meja, dan menelengkan kepala, “Jadi bisa kita mulai transaksinya?”

“Transaksi?” tanya Marie Anne semakin bingung. Bila makanan tadi dikatakan tak masuk hitungan, jadi apa yang akan ditransaksikan? Dia tak punya sesuatu yang cukup berharga sebagai bahan transaksi.

Saat menyadari kebingungan Marie Anne, pria itu memutar matanya ke atas, bosan. “Tentu saja. Apa Nona tidak membaca papan nama di depan? Jadi Nona masuk ke sini tanpa tahu tempat apa ini?”

Marie Anne menggeleng, wajahnya memerah. “Sa… saya tak bisa membaca…”

Pria itu bergumam, “Jadi di masa ini, kemampuan baca tulis hanya diajarkan pada orang mampu…” Kemudian dia berdeham dan berkata, “Baiklah, aku tak ingin banyak basa-basi,” sambil menatap Marie Anne dalam-dalam. “Sekarang kau berada di dalam Pegadaian Semesta. Namaku Alex, aku manajer di  tempat ini.”

“Pegadaian Semesta? Sa… saya tak pernah mendengar ada pegadaian seperti ini…”

“Karena Pegadaian ini bukanlah tempat biasa. Orang biasa takkan bisa melihat apalagi masuk ke dalamnya. Pegadaian ini hanya akan muncul di hadapan orang yang memiliki keinginan kuat, karena tugas tempat ini adalah mengabulkan keinginan. Apa saja. Asalkan, layaknya sebuah pegadaian, kau memberikan bayaran yang sesuai.”

‘Mengabulkan keinginan? Apa saja? Yang benar saja! Tapi bukannya kemunculan tempat ini juga cukup aneh? Aku ingat jelas kalau sebelumnya memang tak ada tempat seperti ini…’ batin Marie Anne.

Seperti bisa membaca keraguan Marie Anne, pria bernama Alex itu menunjuk ke arah pintu dan berkata, “Kalau Nona tak berminat mengadakan transaksi, tak masalah. Pintu keluar ada di sebelah sana. Nona bisa melanjutkan hidup Nona seperti sediakala. Sayang sekali Anda telah melewatkan kesempatan ini.”

Marie Anne terpana. Tak yakin apakah ini mimpi atau kenyataan, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mencoba peruntungannya. Setidaknya, bila ternyata semua ini hanya kebohongan, dia takkan rugi. Matipun, dia akan mati dengan perut kenyang. “Ah, tadi Tuan bilang saya bisa minta apa saja?”

Alex mengangguk. “Apa saja. Asal bayarannya sesuai.”

“Ta… tapi saya tak punya apapun. Apa yang bisa saya berikan sebagai bayaran?”

“Siapa bilang Nona tak punya apapun?” tanya Alex sambil mengamati Marie Anne dengan seksama. “Nona punya organ tubuh, kecerdasan, suara, pendengaran, dan berbagai hal lain yang bisa ditukarkan.”

‘Organ tubuh? Kecerdasan? Astaga, tempat macam ini sebenarnya? Tapi kalau benar bisa memberikan hal-hal seperti itu untuk sesuatu yang kuinginkan, apa salahnya?’ batin Marie Anne.

Terdiam cukup lama untuk mempertimbangkan segala kemungkinan, akhirnya gadis itu mengambil sebuah keputusan. “Kalau begitu, berikan saya kecantikan. Saya ingin memiliki wajah yang bisa membuat semua pria bertekuk lutut di hadapan saya. Saya ingin menjadi seperti sang Ratu,” ujarnya dengan napas memburu. Ya, selama ini semua orang menganggap rendah dirinya karena wajahnya yang buruk. Betapa inginnya Marie Anne melihat orang-orang yang dulu menghinanya berubah jadi pemujanya!

“Wajah cantik? Itu mudah. Aku bisa memberimu kecantikan yang akan membuat sang Ratu iri,” jawab Alex sembari mengamati Marie Anne. “Sebagai gantinya… Begini saja, aku ingin kau memberikan kebebasan dan pengabdianmu.”

“Pengabdianku?” tanya Marie Anne dengan mata terbelalak.

“Begitulah. Dengan memberikan pengabdianmu, kau akan terikat dengan tempat ini dan harus berpisah dengan dunia tempatmu tinggal. Dan itu berarti selamanya karena Pegadaian Semesta tak mengenal batasan waktu dan tempat.”

“Ta… tapi…”

“Bukankah di duniamu kau tak memiliki siapapun dan apapun yang membuatmu tak rela untuk meninggalkannya? Jadi apa yang membuatmu ragu? Di sini, kau akan memiliki kemudaan dan kecantikan yang takkan pudar oleh waktu. Kau juga takkan mati asalkan tak melanggar aturan Pegadaian.”

“Kemudaan dan kecantikan abadi? Benarkah? Tapi maksud pengabdian itu apa berarti aku akan terkurung di tempat ini selamanya?”

Sudut bibir Alex sedikit terangkat. Gerakan kecil itu telah membuat sebuah perubahan yang amat besar di wajahnya. Yah, setidaknya begitulah dalam pandangan Marie Anne. “Aku tak bilang kau akan terkurung di dalam tempat ini. Maksudku adalah kau akan bekerja untuk Pegadaian Semesta ini sebagai asistenku.”

Pria itu berdiri dan mengembangkan tangannya dalam gerakan pelan. “Lihatlah, tempat ini begitu besar dan aku harus mengurusnya sendiri. Aku harus menemui klien dan segala macam hal merepotkan yang memerlukan basa basi. Aku tak menyukainya. Karena itu aku membutuhkan asisten yang lebih pandai bicara untuk menarik klien.”

Marie Anne mengerjapkan matanya. Baru kali ini ada orang yang mengatakan kalau dirinya dibutuhkan. “Jadi pekerjaan saya adalah menarik dan merayu klien ke dalam Pegadaian ini? Tapi saya kan…”

“Bukankah kau akan memiliki wajah yang luar biasa cantik? Jadi kurasa itu takkan sulit untukmu,” sela Alex sambil menatap mata Marie Anne dalam-dalam. “Dan untuk itu kau bisa keluar dari bangunan ini, pergi ke manapun dan kapanpun untuk menemui berbagai macam orang.”

Kemudian pria itu tersenyum lembut, sebuah senyuman yang membuat jantung Marie Anne berhenti. Itu saja sudah cukup baginya untuk melakukan apa saja bagi sang manajer Pegadaian Semesta ini. “Dan kau takkan pernah kelaparan lagi,” tambahnya.

“Hihihi…”

Terdengar suara tawa tertahan dari arah belakang. Refleks Marie Anne celingukan mencari asal suara itu. “Bukankah tadi Tuan bilang kalau Tuan sendirian?” tanyanya penasaran.

Alex segera bergerak untuk menghalangi arah pandangan gadis itu dengan tubuhnya. “Kau tak perlu memikirkan itu,” ujarnya, masih dengan wajah tanpa ekspresi. “Yang perlu kau kaulakukan adalah menjawab, bersedia atau tidak,” sambungnya dengan nada final.

Dengan pertanyaan itu, akhirnya Marie Anne pun membuat keputusan. “Saya setuju!”

Begitu Marie Anne mengatakan persetujuannya, Alex melambaikan tangan dan dari udara kosong muncul sehelai kertas tebal yang tampak resmi di tangannya. “Ini adalah surat perjanjianmu. Wajah cantik dan kemudaan abadi ditukar dengan pengabdian selamanya. Berikan cap jarimu,” ujarnya sambil mengangsurkan sebotol tinta ke hadapan gadis itu.

Marie Anne terpana, tak percaya dengan keberuntungannya. Segera dia mencelupkan ibu jari ke dalam botol tinta dan menempelkannya ke tempat yang ditunjuk oleh Alex. Begitu selesai, kertas dan botol tinta itu menghilang begitu saja dari tangan sang manajer.

Akex mengulurkan telapak tangannya ke wajah Marie Anne dan seberkas cahaya muncul dari tangan itu. belum sempat gadis itu menelaah apa yang terjadi, sang manajer berkata, “Sudah selesai. Lihatlah wajahmu di cermin.” Entah dari mana, kini di tangan pria itu tergenggam sebuah cermin tangan dengan hiasan rumit di sekelilingnya.

Dengan jantung berdebar Marie Anne menerima cermin itu dan melihat wajahnya sendiri. Gadis itupun terpana. Wajah yang muncul di permukaan cermin jelas tak seperti wajahnya. Semua bopeng dan tanda lahir yang mengerikan di wajahnya menghilang, meninggalkan sebentuk wajah yang bersih dan mulus. Hidungnya yang dulu besar sekarang proporsional, amat sesuai dengan bentuk wajahnya. Rahangnya normal dan bibirnya yang dulu miring sekarang tampak mempesona. Yang masih sama hanya mata birunya, satu-satunya hal yang sejak dulu disukai Marie Anne dari wajahnya yang buruk. Gemetaran, Marie Anne meraba wajahnya sendiri, benar-benar tak bisa mempercayai keajaiban ini.

“Bagaimana? Kalau masih kurang memuaskan katakan saja. Oh, aku juga menambahkan pengetahuan ke dalam kepalamu untuk memudahkanmu bekerja membantuku.”

Mendengar hal itu, Marie Anne berjalan ke arah lemari kaca dan mengambil salah satu buku di dalamnya secara acak. Betapa senang gadis itu saat menyadari kalau kali ini dia bisa mengerti arti dari semua huruf yang tertulis di dalamnya. Air matanya menetes. Air mata yang dikiranya sudah lama kering. Tapi kali ini, bukan kesedihan yang membuat cairan itu keluar.

“Terima kasih… saya akan melakukan apa saja untuk Tuan. Apa saja. Karena hanya Tuan yang mau menerima saya di dunia yang tanpa keadilan ini.”

Tanpa diduga, Alex malah menggeleng. “Belum tentu. Kau merasa kalau hidup ini tidak adil karena terlahir dalam lingkungan masyarakat kelas bawah. Kau merasa iri dengan sang Ratu yang memiliki nama yang hampir sama denganmu. Tapi setelah ini, kau takkan perlu lagi merasa iri. Lihatlah ke dalam cermin.”

Marie Anne menunduk untuk melihat cermin dalam genggaman tangannya. Kali ini yang dilihatnya bukanlah wajahnya sendiri melainkan keadaan kota Paris. Kerusuhan tampak jelas di mana-mana. Rakyat berduyun-duyun menyerbu sebuah bangunan batu yang dikenali Marie Anne sebagai Penjara Bastille.

“Apa yang terjadi? Kenapa bisa ada keributan seperti ini? Kenapa mereka menyerbu Bastille?”

“Ini adalah suasana Paris tanggal 14 Juli 1789. Rakyat yang selalu tertindas akhirnya berontak. Penjara Bastille sebagai lambang kekuasaan Raja diserbu. Raja akan dipaksa memenuhi tuntutan rakyat.”

“Tak mungkin! Aku masih ingat kalau saat ini masih tahun 1787!”

“Jangan lupa kalau Pegadaian Semesta ini tak mengenal waktu dan tempat. Dengan mudah Pegadaian ini berpindah ke manapun dan kapanpun. Hmm, tampaknya kejadian tanggal 16 Oktober 1793 ini akan membuatmu tertarik.”

Alex menyapukan tangannya ke permukaan cermin dan pemandangan Penjara Bastille pun berganti dengan gambar kerumunan rakyat yang mengelilingi lapangan eksekusi. Semua orang berteriak-teriak ganas sambil mengacungkan kepalan tangan. Di tengah lapangan eksekusi, seorang wanita cantik berpakaian compang-camping dibaringkan ke kursi guilotin dengan kepala dijulurkan ke bawah pisau. Marie Anne bisa mengenali siapa wanita itu dan langsung memalingkan wajah, tak sanggup melihat adegan selanjutnya.

“Mustahil… kenapa sang Ratu bisa berada di…”

“Dulu ada seorang gadis bodoh yang memohon untuk menjadi seorang ratu, menjadi wanita yang dipuja-puja semua orang. Dia menukarnya dengan jangka hidupnya sendiri.” jawab Alex dingin. “Yah, pada akhirnya manusia akan membuat keadilannya sendiri.”

Marie Anne tertegun.

“Karena kau sudah memberikan pengabdianmu, kurasa nama Marie Anne juga sudah tak bisa digunakan. Kalau kau masih ingin mempertahankannya tak masalah, tapi apa kau masih mau memiliki nama yang sama dengan wanita di bawah guilotin itu?”

Dengan wajah pucat Marie Anne menggeleng. “Saya tak mau nama ini lagi. Berikan saya nama baru.”

Alex berjalan mondar-mandir di hadapan gadis itu dan akhirnya berkata, “Kalau begitu namamu sekarang adalah Rena. Bagaimana menurutmu?”

Tersenyum cerah dengan wajahnya yang baru, gadis itu menyahut, “Marie Anne sudah tak ada lagi. Aku adalah Rena, asisten Alex. Selamanya.”

Alex mengulurkan tangannya dan menjabat tangan gadis yang kini bernama Rena itu. “Selamat bergabung di Pegadaian Semesta, Rena.”

Begitu tangan mereka bersentuhan, sosok Rena pun menghilang.

“Payah. Kenapa kali ini aku tak boleh keluar, sih? Menyebalkan.” Terdengar suara seorang wanita dari balik kelambu ungu.

Alex menoleh ke arah suara itu, berkata, “Kau tahu aturannya.”

Seorang wanita cantik muncul dari balik kelambu. “Tapi aku kan juga ingin bertemu dengan Marie Anne,” ujarnya dengan wajah cemberut sambil melipat tangannya di depan dada.

“Tak bisa, Rena.” Jawab Alex. “Hanya Marie Anne-lah satu-satunya klien yang tak boleh kau temui. Kalau hal itu sampai terjadi, nantinya aku yang repot karena harus mencari asisten baru lagi.”

……..
Empedrado está el infierno de buenas intenciones,
muchas puertas, muchas vueltas, vuelvo a tropezar.
Empedrado está el infierno de buenas intenciones,
muchas puertas, muchas vueltas, vuelvo a tropezar.

Riwayat Singkat Marie-Anne

Lahir 2 Agustus 1780
Maskinongé, Quebec
Meninggal 14 Desember 1875 (umur 95)
Kanada Barat
Pekerjaan ibu, pemukim

lahir di Maskinongé, Quebec, sebuah desa dekat yang modern Trois-Rivières. Awal kehidupan-nya lancar, dan dia tinggal di sana sampai pernikahannya pada 21 April 1806 Jean-Baptiste Lagimodière. Lagimodière awalnya dari dekat Saint-Ours, ia telah menjadi Coureur des bois digunakan dalam perdagangan bulu oleh Perusahaan Teluk Hudson di Tanah Rupert

Cerita tersebut diatas diangkat pada Era Revolusi Perancis dan diterjemahkan oleh berbagai bahasa dan dipublikasikan melalui Website

Satu Tanggapan to “Keadilan Marie Anne”

  1. Dino Says:

    I am so tired of routine work…I should add alittle originality into my life..can you tel me, how must I do??

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: