Dynasty Warriors

Dynasty Warriors

Prolog

Luoyang, 264 AD,

Chengzuo menegak lagi arak di tangannya. Sambil minum, ia bernyanyi dan sesekali membuat puisi spontan. Orang yang mendengarkan puisinya kadang menjadi terkikik dan tergoda untuk meledeknya.

“Hei, Chengzuo.” tegur seorang kakek yang sedaritadi terkekeh mendengar lirik-lirik si peminum itu. “Kudengar kau dapat promosi dari Kaisar untuk merangkum sejarah, tapi suratnya kau bakar?”

Chen Chengzuo, si peminum itu menggeleng “Halahh…”

Ia kembali menuang araknya dan minum lagi. “Aku malas bekerja. Lebih asik mendapat sedikit uang untuk minum. Kita hidup di dunia ini hanya sementara. Tanpa terasa waktu sudah begitu cepatnya bergulir. Masa aku harus repot-repot mencari uang membanting tulang bila sesungguhnya aku hanya suka menghabiskan uangku untuk minum saja?”

Mendengar itu, temannya yang lain menegurnya dari seberang. “Aku tahu kau berpikir seperti itu karena Liu Lian akan menikah dengan orang kaya, bukan?”

Seisi kedai pun mentertawakan Chengzuo habis-habisan.

Chengzuo tersenyum miris. Kemudian setelah menegak seluruh isi mangkuknya sekaligus, ia memanjat meja dan berdiri tegap. Lelaki bertubuh besar dan lebar itu pun mulai membuat sajak lain.

“Fuxi bersolek nyaman di tahtanya,

Terkekeh mengawasi Nuwa sambil menikmati hidangan lezat.

Sungai Luo sangat tidak terduga,

Fufei menghilang, tidak ada yang tahu.”

Orang-orang kembali tertawa-tawa mendengarkan ucapannya. “Sudah, kau semakin melantur saja!”

“Jadi kau ingin menjadi Sungai Luo yang menculik Fufei, begitu?”

Mendadak seorang lelaki tua menghambur masuk ke dalam kedai dengan langkah tergopoh-gopoh. Melihat Chengzuo mabuk-mabukan di tengah kedai dan menjadi pusat perhatian seperti itu, lelaki tua itu menghampiri anaknya dan menariknya hingga turun. Orang-orang kembali mentertawakan dan mengejek Chengzuo ketika lelaki itu diseret ayahnya keluar dari kedai sambil dipukuli.

Setelah mereka sampai di rumah, lelaki tua itu masih meluapkan kekesalannya terhadap anaknya. “Dasar bocah tidak berguna! Kerjaanmu setiap hari hanya minum, mabuk, dan mengejar perempuan!”

“Ayah, aku sudah 30 tahun lebih … aku bosan kau atur-atur terus!” andai Chengzuo tidak sedang teler saat ini, dia pasti sudah marah sungguhan dan mungkin juga pergi meninggalkan ayahnya. “Lagipula, kenapa dengan Liu Lian? Aku punya perasaan tulus hanya untuknya, kau malah mengataiku tidak beradat hanya karena itu.”

Karena kesalnya, si ayah kemudian memakinya. “Aku benar-benar menyesal pada hari itu kembali lagi untukmu! Tahu begini kubiarkan kau mati kelaparan bersama ayahmu! Ternyata ayah dan anak sama saja; sibuk mencari skandal!”

Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi Chengzuo untuk mendengar ucapan itu terlontar dari ayahnya yang sudah beruban ini. Mendadak ia membuka matanya dan berdiri dengan tegap. “Jadi rupanya itu bukan mimpi. Kau memang sungguh-sungguh sering mengucapkan itu padaku setiap kali kau kira aku mabuk berat.”

Lelaki tua itu terkejut bukan main. Ia kini menyadari bahwa Chengzuo sedang menjebaknya untuk mengungkapkan sebuah fakta yang selama ini disembunyikannya dengan rapat.

Chengzuo mengajak ayahnya duduk di atas kursi. “Aku sudah mendengarnya dalam keadaan sadar. Kau tidak bisa mengelak lagi. Katakan sebenarnya, siapa “ayah” yang kau maksud itu? Apakah kau bukan ayah kandungku? Dimana orangtuaku? Apa yang terjadi padaku?”

Si lelaki tua itu menghela nafas. Ia sudah tertangkap basah dan tidak mungkin dapat mengelak lagi. Setelah mengangguk satu kali dengan mantap, kemudian ia berkata, “Aku mengenal ayahmu secara pribadi, dan legendanya hidup dalam cerita rakyat….”

Chapter 1 : Children of Tiger
Jendral Guan Yu membaca surat di tangannya dengan seksama. Sesekali mata burung phoenix-nya itu melirik pada seorang gadis kecil yang akan beranjak remaja di hadapannya. Akhirnya Guan Yu selesai membaca dan merapikan kembali surat itu. Diletakannya surat tersebut di atas meja.
Kemudian Guan Yu mulai mengajaknya berbicara. “Jadi … kau Zhang Xing Cai?”
Gadis kecil itu mengangguk perlahan. Wajahnya terlihat murung dan serius.
“Baiklah…” Guan Yu mengelus janggutnya yang indah. “Ayahmu sudah menceritakan kenapa kau ada di sini dalam surat ini. Dan kurasa … mulai sekarang kau boleh memanggilku ayah angkat, paman … atau panggil saja apapun yang membuatmu nyaman.”
Xing Cai yang masih asing dengan paman berwajah merah di hadapannya itu hanya menatap kedua ibu jari kakinya yang bergerak-gerak resah.
“Harap mengerti … aku tidak memiliki satupun anak perempuan. Tapi aku akan memperlakukanmu seperti anak kandungku sendiri, aku harap kau selalu merasa kerasan di sini.” Guan Yu menunggu sebuah senyuman merekah di bibir melankolis Xing Cai. Namun tampaknya penantian itu tak kunjung tiba. Guan Yu kemudian memanggil seorang dayang dan menyuruh dayang itu mengantarkan Xing Cai ke kamar barunya.
Saat Xing Cai berada di pintu ruangan, ia berpapasan dengan seorang pemuda tampan dengan tatapan mata yang bersemangat. Tampaknya pemuda itu berjalan terburu-buru sehingga menabrak Xing Cai hingga gadis itu melangkah mundur.
“Ah, maaf, aku ceroboh sekali.” kata lelaki itu.
Xing Cai kembali berjalan mengikuti dayang yang mengantarkannya ke kamar barunya, dan Guan Ping masuk ke dalam ruangan dimana Guan Yu berada.
“Tampaknya saya baru saja menubruk anak paman Zhang Fei?” tanya Guan Ping.
Guan Yu mengangguk. “Ya. Agak susah juga kondisinya. Seorang ahli astrolog mengatakan bahwa anak perempuan pertama Zhang Fei adalah titisan phoenix hitam. Yang berarti membawa sial bagi pemberi hidupnya.”
“Jadi, dengan kata lain … titisan phoenix hitam ini akan membawa nasib buruk bagi ibu kandungnya sendiri?”
Guan Yu mengangguk sambil menghirup teh hangatnya. “Zhang Fei sendiri tidak menanggapinya dengan serius, namun istrinya sangat ketakutan. Terlebih lagi, menurut Zhang Fei, sejak melahirkan Xing Cai, istrinya mengalami kesialan-kesialan kecil mulai dari kehilangan barang, kecelakaan dan kemarin ia nyaris mati karena tersedak sayuran. Maka dari itu ia menitipkannya padaku hingga berusia 17 tahun.”
Guan Ping menahan tawanya. Ayah angkatnya perlahan mendelik padanya dengan galak.
Pemuda itu buru-buru mengendalikan sesuatu yang menggelitiknya. “Maaf, ayah …”
“Apa yang lucu dari tersedak sayuran lalu nyaris mati? Memangnya kau tidak pernah tersedak makanan hingga sesak nafas?” tegur Guan Yu dengan tegas.
Kini Guan Ping benar-benar berhenti tertawa. “Ampun, ayah. Maaf.”
Namun Guan Yu masih melotot. “Hukum dirimu sendiri!”
Mau tidak mau Guan Ping segera berlari keluar ke halaman dan berlari mengelilingi pekarangan rumah Guan Yu yang luasnya berhekta-hekta. Sementara dia berusaha menikmati hukumannya, seorang bocah lelaki berusia 9 tahunan ikut berlari riang di sebelahnya. “Kakak sedang apa?”
“Ah, Xing. Aku sedang disuruh olah raga oleh ayah. Katanya aku semakin buncit. Kau sendiri sedang apa di sini?” tanya Guan Ping dengan riang melihat adiknya.
“Aku? Aku sedang mengikuti kakak berolahraga.” Katanya.
“Oh bagus, mari kita lihat, sekuat apa kau mengikutiku.” Guan Ping berlari mengelilingi taman rumah keluarga Guan dengan riang bersama adiknya.
Kediaman rumah Guan Yu cukup luas dan rute berlari Guan Ping mengelilingi seluruh bagian rumah hingga kepada kamar gadis kecil yang baru saja tiba di Jing itu. Sementara beberapa dayang merapikan barang-barangnya, gadis itu dengan sendu berjalan menghampiri jendela kamar dan melihat pemuda gagah yang tadi bertubrukan dengannya. Ia sedang berlari-lari riang bersama seorang bocah seusianya.
Seorang dayang yang memperhatikannya lalu mengajaknya bicara. “Namanya Guan Xing. Ia putra sulung jendral Guan. Anak yang manis bukan?”
Xing Cai hanya menoleh pada dayang itu tanpa bicara apapun. Kemudian ia memperhatikan lagi keadaan di luar jendela. Kedua Guan bersaudara itu sudah tidak terlihat dari jendela kamar.
Dayang itu kembali berbicara sambil tersenyum-senyum. “Kalau yang sudah besar itu namanya Guan Ping. Dia anak angkat tuan Jendral.”
Temannya sesama dayang segera menyikutnya. “Kau ini genit sekali. Membicarakan tuan muda sambil tersenyum-senyum seperti itu, memangnya kau punya kesempatan mendapatkannya? Ingat namamu saja belum tentu.”
“Ah, siapa bilang aku menyukainya? Jangan-jangan kau merasa tersaingi olehku ya?”
Sementara dua dayang itu saling meledek, Xing Cai masih memperhatikan keadaan kamar barunya. Merasa bosan karena tidak ada yang bisa dilakukan atau dilihatnya, Xing Cai mengambil sebatang toya yang dibawanya dari rumah, kemudian berjalan ke pekarangan.
Di sana ia menggerakkan toyanya, melatih Kung-Fu nya yang telah dipelajarinya dahulu. Setelah beberapa gerakan, terdengar suara tawa seorang bocah. Tawa yang mengejek dan meremehkan. Xing Cai mencari sumber suara dan ia menemukan seorang bocah lelaki berkulit merah sedang menontonnya dari atas dahan pohon plum.
“Apa yang kau tertawakan?” tanya Xing Cai.
“Kau.” jawabnya sambil memamerkan dua buah gigi depannya yang tanggal.
“Ada yang salah dariku?”
“Perempuan kan tidak bisa berkelahi.” Ejeknya sambil terus tertawa. “Perempuan itu cengeng dan lemah. Diajak bergurau sedikit sudah marah.”
Mendadak tawanya terhenti setelah sebuah batu melayang mengenai pelipis matanya sehingga membuat bocah itu terjatuh dari pohon.
“Kau tidak bisa menghindari batu itu mengenai wajahmu. Kau tidak bisa berkelahi. Berarti kau perempuan dong?” kata Xing Cai dengan wajah serius.
Bocah lelaki itu kesal. Kelihatannya ia sempat menangis tadi karena saat ini ia mengusap matanya dengan kesal. Tapi bicaranya masih besar. “Batu sih keciiil..! Tidak sakit! Untuk apa kuhindari?! Masa laki-laki dilempar batu saja nangis?”
Xing Cai memutuskan untuk mengabaikannya saja dan kembali berlatih. Namun bocah lelaki itu kembali mengejeknya. “Jelek! Jelek! Gerakanmu jelek! Payah!”
Xing Cai tidak tahan lagi dan memutuskan untuk mengejar bocah menyebalkan itu. Bocah lelaki itu kabur sambil sesekali berlindung di balik pohon dan menjulurkan lidahnya mengejek Xing Cai. “Perempuan jelek! Berlagak prajurit!”
Akhirnya Xing Cai yang kewalahan mengejarnya, berdiri saja sambil menatap bocah lelaki kurang ajar itu menari-nari sambil mengejeknya. Ia sangat menyebalkan. Akhirnya Xing Cai melempar tongkatnya sehingga mengenai wajah bocah lelaki itu.
Nah, kena kau!
Xing Cai segera memanfaatkan kesempatan ini, dia menghampirinya dan mulai memukuli wajah bocah tengil itu.
Tentu saja bocah menyebalkan itu tidak tinggal diam. Ia balas menggenggam kedua pergelangan Xing Cai agar dirinya tidak dipukuli. Mereka bergulat sebentar dan Xing Cai meraih toyanya. Dengan sebuah kelebatan luwes, Xing Cai akhirnya berhasil menodong bocah itu dengan toyanya. “Jangan ganggu aku!”
Bocah lelaki itu terdiam sambil menatap ujung toya yang ditodong ke wajahnya dan berganti menatap wajah Xing Cai. Setelah hening beberapa saat, bocah lelaki itu dengan cepat merebut toya Xing Cai dan membawanya kabur.
“Heiiiii……..!!” Xing Cai kembali mengejarnya dan bocah itu menghilang entah dimana. Larinya cepat sekali.
Xing Cai hanya bisa kembali ke kamarnya sambil menangis. Tentu saja dayang-dayangnya kebingungan menebak apa yang terjadi padanya. Namun Xing Cai tidak mengatakan apapun kecuali ia ingin sendirian dan mengusir semua orang di kamarnya.
“Baiklah, nona…tapi tolong jangan terlambat untuk makan malam yah…tuan Jendral sangat disiplin dengan waktu…” kata salah seorang dayangnya sebelum meninggalkan Xing Cai sendirian.
Tak lama, ia sudah berada di ruang makan bersama seluruh keluarga besar Guan. Hari sudah mulai gelap, namun meja makan yang besar itu baru terisi tiga orang. Guan Yu, istrinya dan Xing Cai yang duduk agak jauh dari mereka.
“Kau sudah lapar, Xing Cai?” tanya Guan Yu selembut mungkin. Ia tentunya menyadari keadaan wajahnya yang berwarna merah dan garang itu bisa membuat seorang bayi berhenti menangis hanya dengan melihatnya saja.
Xing Cai mengeleng sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu masih terlihat kesal.
“Kita tunggu sampai yang lain tiba di sini.” Kata Guan Yu.
Baru selesai berkata demikian, Guan Ping pun muncul dengan langkah lebar dan bersemangat. Ia segera memberi salam. “Selamat malam, ayah, ibu…”
Setelah itu ia melompat langsung dan duduk di tempat duduknya yang biasa. “Huah…maaf aku terlambat.”
Guan Yu hanya meliriknya lalu menghela nafas. “Dimana Xing dan Suo?”
“Xing sedang asik dengan bukunya, Suo …” ucapan Guan Ping sedikit terhenti seakan ia berusaha menjaga sesuatu tetap menjadi rahasia sambil menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat tidak ada yang gawat. “… ia belum lapar. Katanya kita makan duluan saja.”
“Belum lapar? Anak itu makan lebih banyak dari Xing dan selalu kelebihan energi. Jangan-jangan seperti yang sudah pernah terjadi beberapa minggu lalu. Ia tidak muncul saat makan malam karena wajahnya babak belur.” Gumam istri Guan Yu.
Mendadak Guan Yu memukul meja makan dengan keras. Matanya melotot dan marah pada Guan Ping. “Bawa dia ke sini sekarang juga! Dia harus makan malam bersama kita!”
Guan Ping dengan patuh berdiri lagi dan beranjak keluar dari ruang makan dengan sedikit terburu-buru. Tepat saat Guan Ping keluar dari sana, Guan Xing masuk ke dalam ruang makan dan menyapa ayah dan ibunya dengan sopan dan duduk di kursinya.
“Buku apa yang kau baca tadi sampai kau terlambat datang kemari?” tanya Guan Yu.
“Err… pepatah Confucius!” kata Guan Xing dengan mantap.
Guan Yu menaikkan alisnya. “Ah…suka filosofi ternyata yah?”
Guan Xing mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Kemudian Guan Yu berkata “Apa yang terjadi saat seseorang menunjuk bulan?”
Guan Xing terlihat agak tidak mengerti dengan pertanyaan ayahnya. Ia terlihat berpikir sejenak kemudian menjawab. “Berarti hari sudah malam.”
Guan Yu menghela nafas dengan sedikit kesal sementara Guan Xing dengan serba salah menggaruk-garukkan kepalanya.
Kemudian muncullah Guan Ping sambil menggandeng seorang bocah lelaki yang usianya lebih muda sedikit daripada Guan Xing. Tubuhnya agak besar dengan kulit berwarna merah kecoklatan. Wajahnya terlihat garang seperti Guan Yu dan tampaknya ia tidak punya banyak hal untuk diungkapkan. Pada wajahnya terdapat sedikit memar dan salah satu matanya membengkak sehingga tidak bisa terbuka.
Melihat sosok itu masuk ke dalam ruangan yang sama, emosi Xing Cai pun terpancing. Ia tidak mungkin melupakan anak nakal yang meledek dan mencuri toyanya tadi sore.
Guan Yu memarahinya. Suaranya sangat keras dan gahar. “Bertengkar lagi!? Kali ini kenapa?! Dengan siapa kau bertengkar!?”
“Kami hanya bergurau.” Kata Guan Suo singkat dengan wajah tertekuk.
“Kalau hanya bergurau kenapa kau sampai takut muncul di hadapanku?!”
Guan Suo tidak menjawab lagi. Namun saat ia melihat Xing Cai, matanya terbelalak sedikit seperti sedang terkejut melihatnya.
Setelah menghela nafas lagi, Guan Yu menunjuk sebuah kursi. “Duduk. Makan.”
Setelah Guan Yu beserta istri dan ketiga anaknya duduk bersama Xing Cai di meja makan bundar yang dipenuhi lauk pauk beraroma lezat, Guan Yu mulai memperkenalkan Xing Cai.
“Namanya Zhang Xing Cai. Dia adalah putri dari paman Zhang. Ia akan tinggal bersama kita mulai hari ini. Maka itu berarti mulai detik ini, dia adalah putri ayah juga. Sama seperti kakak Ping, dia juga putra ayah. Ayah harap kalian semua membantunya dan menerimanya seperti saudara sendiri.” kata Guan Yu.
Kemudian Guan Yu memperkenalkan Xing Cai pada istrinya. “Xing Cai, ini adalah istriku. Kau boleh memanggilnya ibu atau bibi. Bila kau butuh sesuatu, kau bisa minta padanya.”
Sang istri mengangguk ramah pada Xing Cai, sementara Xing Cai membalasnya dengan menunduk dengan hormat.
“Ini anak pertamaku, Guan Ping. Ia cukup pandai bela diri dan bisa diandalkan dalam keadaan apapun kecuali bila dia sedang mabuk.”
Guan Ping menyapanya dengan ceria. Saat ia tersenyum, pipinya yang kencang tertarik sehingga menampakkan sepasang lesung pipi yang manis. “Hai! Salam kenal.”
“Ini putra keduaku, Guan Xing. Dia …” Guan Yu mengamati putranya yang periang. “… dia bukan anak nakal. Kau bisa bermain dengannya.”
“Halo.” Guan Xing menyapa Xing Cai dengan ekspresi yang nyaris mirip dengan Guan Ping. Kelihatannya dua bersaudara itu memang sangat dekat.
“Kalau yang itu anakku juga. Guan Suo.” Kata Guan Yu.
Xing Cai menatap bocah yang tidak mungkin dilupakannya itu dengan tatapan marah penuh dendam. Yang ditatap hanya memamerkan kedua gigi depannya yang bolong dengan wajah sinis. Tidakkah dia sadar bahwa dua gigi depannya itu begitu menjijikkan?! Xing Cai rasanya ingin sekali menghampiri bocah itu dan memelintir lehernya hingga dia kapok.
Mendadak terdengar suara menggelegar bagai guntur. “Ngapain kamu begitu!? Jelek tau!!”
Guan Suo terkejut dan langsung terdiam dan menatap ayahnya dengan sedikit menunduk.
“Gigi bolong kok bangga?” gerutu Guan Yu sambil mengambil beberapa sayuran ke mangkuk nasinya.
Tanpa bisa ditahannya, Xing Cai akhirnya tertawa kecil.
Acara makan malam pertama bersama keluarga jendral Guan itu begitu wajar. Masing-masing orang di meja makan keluarga Jendral penguasa wilayah Jing itu menunjukkan jati diri mereka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Guan Yu yang suka menggerutu namun tetap memakan makanannya apa adanya, istri Guan Yu yang suka mengatur anak-anaknya yang makan sambil bergurau, Guan Ping yang makan sambil mengobrol bergantian dengan Guan Xing, dan Guan Suo yang tidak perduli apapun kecuali makanan di depannya.
Malam itu, Xing Cai diajak berbicara oleh Guan Yu di ruang perpustakaan. “Ayahmu dan aku sudah seperti saudara sendiri. Sewaktu muda kita makan di meja yang sama, dan tidur di kasur yang sama. Aku ingin bila kau kembali ke tempat ayahmu kelak, kau telah menjadi gadis yang membanggakan. Maka dari itu, katakanlah, apa yang kau inginkan? Apakah kau suka belajar? Filosofi? Puisi? Menyanyi? Atau melukis? Aku akan mendukungmu.”
Xing Cai merasa segan berbicara. Matanya menangkap sebuah rak senjata yang memamerkan senjata-senjata penghias ruangan perpustakaan. Tatapan itu membuat Guan Yu tersadar bahwa anak ini berminat terhadap silat. Maka dari itu Guan Yu menyuruh Guan Ping untuk menyertakan Xing Cai juga saat ia sedang melatih Guan Xing.
Xing Cai cukup berbakat. Stamina dan tenaganya mungkin tidak lebih besar dari Guan Xing. Namun refleks, kecepatan gerak dan semangatnya sangat tinggi dan membuatnya mengalami kemajuan pesat.
Di waktu luangnya, ia mencari Guan Suo yang telah merampas toyanya. Namun tampaknya bocah itu sangat sulit ditemui. Kadang ia tidak ikut makan malam sehingga membuat Guan Yu menjadi kesal bukan main.
Setelah makan malam, Xing Cai memutuskan untuk mencari sendiri dimana kamar Guan Suo berada. Ia ingin toyanya yang dirampas itu kembali. Setelah bertanya-tanya pada beberapa dayang, akhirnya Xing Cai menghampiri sebuah kamar dayang. Di sana ada seorang dayang tua yang wajahnya begitu sabar, sedang menjahit pakaian sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
Di sebelahnya ada Guan Suo sedang duduk merapikan tempat tidur.
Melihat Xing Cai mengetahui keberadaannya, Guan Suo terlihat sedikit panik kemudian berdiri di antara dia dan dayang tua itu. “Mau apa kau kemari? Kau mau lapor ayah kalau aku tidur di sini lagi? Aku tidak takut!”
“Kembalikan toyaku!”
“Ambil saja sendiri.” lagi-lagi Guan Suo menunjukkan wajah sinisnya.
Xing Cai menjadi kesal karena wajah Guan Suo yang jelek dan menyebalkan membuatnya ingin menghajarnya hingga bocah itu tidak mampu tertawa lagi.
“Nak, apakah kau Zhang Xing Cai? Mari kemari, duduk sama nenek di sini.” Bujuk dayang tua itu.
“Yah…” Guan Suo engekspresikan rasa kecewanya pada sang dayang tua. Dayang tua itu tertawa terkekeh-kekeh. “Anak baik … jemput dia ke sini yah.”
Guan Suo pun patuh dan menghampiri Xing Cai.
“Gandeng tangannya, Suo. Yang akur yah…” Bujuk si dayang tua lagi.
Guan Suo lalu menggandeng tangan Xing Cai dan membawanya mendekati si dayang tua. Dayang tua itu tampak sangat baik dan berhati lembut. Ia membelai Xing Cai sambil memujinya. Tak lama berada di dekat dayang tua itu, Xing Cai menjadi tenang hatinya. Dayang tua itu sangat sabar dan lembut, begitu kontras dengan Guan Suo dan kelihatannya dia bisa mengendalikan kenakalan bocah ini.
Tanpa terasa hari sudah cukup larut sehingga membuat Guan Suo mengantuk. Dia tidur begitu saja pada alas tidur di dekat dayang tua itu seakan tempat itu memang miliknya.
“Kenapa dia tidur di sini?” tanya Xing Cai pada si dayang tua.
Dayang tua itu hanya tersenyum saja sambil terus menjahitkan pakaian Guan Suo yang robek.
“Apakah Suo berbuat nakal padamu?” tanya dayang itu.
“Dia mencuri toyaku.”
“Oh .. jadi toya itu milikmu…” dayang tua lalu tertawa. “Coba kau cari di bawah tempat dia tidur. Ia selalu menyimpan benda-benda yang dirampasnya dari orang lain di sana.”
Xing Cai menuruni tempat tidur kayu beralaskan kain goni yang lapuk dan melongok ke kolong tempat tidur Guan Suo dan menemukan sebuah toya yang sangat dikenalnya di sana.
“Ketemu?”
Xing Cai memeluk toyanya sambil tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih..”
Si dayang tua tersenyum dan menghampiri Xing Cai lalu berbisik-bisik. “Maafkan dia, … dia memang suka sekali mencari perhatian orang lain. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi teman bermainnya.”
“Kenapa dia tidak bermain bersama kakak Ping dan Xing?”
“Ia tidak mau bermain dengan mereka. Katanya ia benci dengan mereka. Padahal sesungguhnya tuan Guan Ping sangat memperhatikannya dan sering melindunginya.” Kata si dayang tua.
Xing Cai meninggalkan kamar dayang tua yang kotor dan lembap itu. Merasa ragu akan apa yang ia pikirkan, apakah ternyata ia tidak bisa menemukan Guan Suo karena anak itu selama ini tinggal bersama seorang dayang tua? Kenapa anak jendral penguasa wilayah Jing harus tinggal bersama dayang tua itu di kamar pembantu?
Dan akhirnya disadari pula oleh Xing Cai bahwa selain memang tinggal bersama si dayang tua, Guan Suo selalu menyebut istri ayahnya sebagai “Nyonya” dan dayang tua itu sebagai “Nenek”. Sehari-hari saat Guan Ping dan Guan Xing bergurau sambil berlatih silat, Guan Suo sibuk mengerjakan pekerjaan kasar yang biasanya dilakukan seorang pembantu seperti membelah kayu bakar, memanaskan tungku, menimba air hingga membersihkan kuda.
Seringkali ia berusaha mencari perhatian Guan Yu. Awalnya Guan Yu mau meladeni perkataan dan pertanyaannya. Namun tak lama kemudian pasti ada sesuatu yang membuat Guan Yu marah dan menyuruh Guan Suo berlari mengelilingi taman. Guan Suo jarang berada bersama ayah atau saudara-saudaranya yang lain seakan menghindari mereka.
Suatu hari Jendral Guan Yu marah-marah. Tak lama kemudian Guan Suo dibawa Guan Ping untuk ikut berlatih silat. Guan Ping dengan gigih mengajarinya gerakan tarian toya atau tombak, bahkan pedang. Tapi Guan Suo keliatannya tidak terlalu tertarik atau mungkin tidak bisa berkonsentrasi sehingga ia mengalami kesulitan.
“Ayolah, Suo. Kalau kau tidak bisa, aku juga yang dimarahi, dikira aku pilih kasih pada Xing.” Kata Guan Ping, kelelahan.
Guan Suo terdiam sambil memandangi Guan Ping saja. Segala macam cara dilakukan Guan Ping, mulai dari yang halus hingga tegas, sampai marah-marah. Tapi Guan Suo kelihatannya tidak bisa dan akhirnya …
“Kau ini bodoh sekali sih?! Gerakan mudah saja tidak bisa, lihat Xing dan Xing Cai langsung bisa!”
Dimarahi seperti itu, Guan Suo memukul lutut Guan Ping dengan keras menggunakan pedang kayunya. Guan Ping mengaduh kesakitan dan tidak sanggup berdiri. “Aduh … hoi!! Dasar anak nakal!!”
Guan Suo kabur meninggalkan Guan Ping. Saat Xing Cai hendak mengejarnya, Guan Ping menarik tangannya. “Sudahlah, tidak apa-apa. Barangkali berkelahi bukan bakatnya.”
“Kakimu terluka, kak.” Xing Cai menyentuh lutut Guan Ping dengan simpati.
Guan Xing segera tanggap dan membawakan obat gosok untuk memar. Saat Guan Ping menggulung celananya ke atas, ia melihat lututnya memar dan lecet. “Sebenarnya tenaganya cukup besar untuk anak sekecil itu. Kalau dia lebih tua beberapa tahun saja, barangkali tulangku sudah patah.”
“Kalau dia memang tidak bisa berkelahi, kenapa ayah bersikeras agar dia bergabung bersama kita?” tanya Guan Xing.
Guan Ping yang merasakan lututnya berdenyut-denyut, sibuk menghela nafas untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. “Entahlah … barangkali ia tidak ingin Suo merasa terdiskriminasi…”
Di hari lain, Xing Cai sedang melukis di tepi kolam. Saat ia sedang mengalihkan pandangan dan melamun sambil tersenyum, angin berhembus dan menerbangkan kertas gambarnya ke tengah kolam. Xing Cai mengambil ranting pohon dan berusaha mengambilnya. Ia begitu serius meraih kertas lukisnya sehingga tidak sadar seseorang mengendap-endap di belakang dan mengejutkannya hingga ia terjatuh ke kolam.
Guan Suo mentertawakannya sambil mengejeknya ingin menjadi ikan.
Xing Cai kesal sekali. Ia naik ke atas kolam dan memandangi Guan Suo penuh dendam. Membayangkan Guan Suo dihajar sekejam-kejamnya hingga dia berteriak-teriak minta ampun.
“Cuma air kan?” Guan Suo menyingkirkan rambut depan Xing Cai yang menutupi wajahnya dengan jari telunjuknya.
Mendadak Xing Cai mendorong Guan Suo agar tercebur juga. Tapi dengan cara menyebalkan, Guan Suo berhasil kabur dari sana dan terus mengejek Xing Cai.
“Kenapa kau selalu menggangguku!!?”
Tapi bocah menyebalkan itu terus menari-nari sambil meledek Xing Cai. Xing Cai merasa kesal dan berlari mengejar Guan Suo. Lagi-lagi pengejaran terhenti setelah Guan Suo memanjat pohon.
“Turuuuunn..!!”
Rasa kesal itu membuat si gadis serius akhirnya menangis. “Aku benci kau!!”
Guan Ping datang dan melihat Xing Cai menangis lalu buru-buru menghiburnya. “Hei, kenapa kau menangis?”
Xing Cai mulai merengek pelan. Namun sebenarnya dia tidak perlu bercerita apapun, Guan Ping sudah bisa menebak bahwa Guan Suo sedang mengerjainya lagi. “Apa yang kau lakukan kali ini? Beraninya sama perempuan.”
“Salah sendiri tidak melihat!”
“Turun kau! Kulaporkan ayah nanti.”
“Aku tidak akan turun selamanya!” Guan Suo melempari Guan Xing dengan biji-bijian yang tumbuh di dahan pohon itu.
“Ah .. anak nakal…” Guan Ping lalu memanjat pohon tersebut. “Turun kau!”
Guan Suo memanjat lebih tinggi dan lebih lincah daripada Guan Ping. Akhirnya Guan Ping memutuskan untuk turun dan menggandeng Xing Cai pergi dari sana. “Sudah, jangan diperdulikan. Kalau kau marah dia semakin senang.”
Waktu pun berlalu, usia Xing Cai sudah 15 tahun sekarang. Jerawat mulai tumbuh di pipinya dan tampaknya kulitnya tergolong sensitif sehingga ia mudah terkena iritasi bila terkena panas atau air yang tidak bersih.
Suatu hari saat Guan Suo sedang membersihkan perpustakaan, Xing Cai secara kebetulan juga sedang membaca di sana. Sesekali Xing Cai merasa Guan Suo memperhatikannya, kemudian dengan lirikan terganggu, Xing Cai mencuri pandang. Beberapa kali seperti itu hingga akhirnya membuat Xing Cai merasa kesal dan bermaksud untuk pergi dari perpustakaan.
Namun saat berdiri dari tempat duduknya, Xing Cai begitu ceroboh hingga ia tidak menyadari ember yang sedang digunakan Guan Suo sedang diletakan di sana dengan sengaja. Akibatnya Xing Cai menginjak air kotor tersebut dengan kakinya.
“Suo..!!”
Guan Suo hanya mentertawakan Xing Cai saja. Suaranya yang dahulu kecil dan cempreng, kini telah berubah menjadi rendah dan tegar.
“Suo, kau tahu aku alergi air kotor!” keluh Xing Cai dengan kesal sambil menggaruk-garukkan kakinya yang terkena air dari ember yang berisi debu itu.
Guan Suo dengan santai meluncur di kursi panjang dan langsung mendekat pada Xing Cai. “Ada kabar gembira.”
“Ha?”
“Dari Guan Ping.”
“K, .. Kabar gembira apa?”
“Ternyata dia punya penggemar rahasia selama ini.” Guan Suo lalu melambaikan sepucuk kertas yang dikenali Xing Cai dengan baik.
“Ah…itu…!”
Guan Suo melangkah menjauh sambil membuka surat itu dan membaca isinya. “Untuk lelaki yang selalu ada di hatiku ….”
“Hei..!” Xing Cai berdiri dan mengejar Guan Suo.
“Tanpa terasa sudah 7 musim gugur kulalui bersamamu…”
“Suooo…!!” Xing Cai merasa heran karena lari Guan Suo dari dulu selalu kencang dan tidak terkejar.
“Bunga-bunga bermekaran dan berguguran silih berganti …”
“Suo!! Awas kau!” seru Xing Cai sambil mengejar Guan Suo dengan serius. Wajahnya yang dipenuhi jerawat mulai memerah karena tersipu malu.
“Namun hatiku tetap terkembang untukmu … menghangat kala aku melihatmu …” Guan Suo kini memanjat sebuah pohon dan nongkrong di atasnya sambil terus membaca isi kertas itu sambil sesekali meledek Xing Cai.
“Suo!! Turun kau!! Dari dulu memanjat pohon yang sama terus …” seru Xing Cai dari bawah karena ia tidak bisa memanjat pohon.
“Oh, ksatria Guan Ping yang gagah … Kenapa kau bersedih? Apa yang membuatmu resah?” Guan Suo melirik jahil pada Xing Cai yang sudah manyun di bawah sana. “Tidakkah kau tahu bahwa didalam sini aku pun turut merasa resah? Oh ksatriaku yang gagah … adakah yang bisa kulakukan untuk membuatmu kembali gembira?”
“Tidak lucu!” Xing Cai melemparinya dengan batu.
Guan Suo tertawa seenaknya hingga air mata keluar dari ujung matanya. “Oleh .. seseorang yang selalu melihatmu dari balik bayang-bayang…”
Isi surat tersebut sukses membuat Guan Suo tertawa terpingkal-pingkal. “Aku tidak percaya kau benar-benar menulis kalimat-kalimat ini. Menggelikan!”
Xing Cai tidak mampu berkata apapun lagi karena ia merasa sangat kesal. Ia meninggalkan Guan Suo dan bersumpah untuk tidak memperdulikannya lagi. Tapi meledek Xing Cai sudah menjadi kebiasaan Guan Suo.
“Ksatria gagah lewat!” katanya pada Xing Cai saat Guan Ping terlihat di dekat mereka.
“Hei, aku ada pertanyaan.” Katanya sambil menggelincirkan diri menghampiri Xing Cai. “Apakah yang dimaksud dengan bintang-bintang di langit?”
Xing Cai tidak tahu jawabannya, tapi yang ia tahu, jawabannya pasti menjelek-jelekkan dia.
Guan Suo menjawab sendiri pertanyaannya. “Jawabannya adalah seorang gadis yang sedang berbunga-bunga mengawasi seorang ksatria dibalik bayang-bayang! Ha ha ha..!”
Guan Suo segera berlari pergi meninggalkan Xing Cai yang meraba pipinya yang berjerawat bagai bintang yang bertaburan di langit.
Suatu ketika, Xing Cai sedang dilatih oleh Guan Ping bersama Guan Xing …
“Sekarang ini kita akan mencoba membuktikan betapa ampuhnya kekuatan saat sedang marah. Bila kita melihat orang yang kita benci, tentu saja kita menjadi emosi dan semangat bertarung kita jadi lebih besar. Tenaga kita akan jadi berlipat ganda. Coba, Xing Cai.” Guan Ping menunjuk sebuah boneka jerami yang biasa digunakan sebagai target.
“Coba kau bayangkan boneka jerami itu adalah seseorang.” Kata Guan Ping.
Xing Cai tidak perlu berpikir lama untuk menentukan siapa yang hendak ia bayangkan pada boneka jerami itu.
“Orang yang sangaaatt…kau benci. Bayangkanlah. Warna kulitnya, seringainya, suaranya, tatapannya … anggap ia sedang berdiri di hadapanmu menggantikan boneka jerami itu. Sudah?”
Amarah Xing Cai segera tersulut. “Hyaaaaaaaaahhhhhhh……!!”
Boneka jerami itu hancur lebur tidak berdaya.
“Kak … tampaknya dia benar-benar sedang membayangkan seseorang…” ujar Guan Xing sambil berkeringat dingin.
Guan Ping tampak gugup. “Euh … ya. Kelihatannya …”
Kemudian Guan Ping mendekati Xing Cai dan menempelkan tongkatnya di leher Xing Cai.
Seketika, Xing Cai berhenti memukuli sisa-sisa boneka jerami itu, Guan Ping berbicara padanya dengan lembut. “Bila tongkat ini adalah pedang, maka lehermu telah terpenggal. Nah, kini kau mengerti betapa bahayanya perasaan marah itu, bukan?”
Xing Cai mengangguk.
“Bila kau sedang emosi, sekalipun kekuatan yang kau kerahkan itu besar, kau terlalu fokus pada target yang membuatmu marah. Sebagai gantinya kepekaanmu akan menghilang sehingga tanpa disadari, musuh bisa menyerangmu dari belakang dan kau malah kehilangan nyawamu seperti saat aku menempelkan tongkat ini di lehermu tadi.” Kata Guan Ping.
Kemudian kata pendekar itu pada kedua adiknya, “Jangan sekali-kali meladeni musuh saat kalian sedang tersulut emosi.”
Suatu hari Xing Cai sedang membuat sesuatu dan duduk santai. Mendadak ia merasakan perasaannya tidak enak. Benar saja, Guan Suo muncul sambil menginjak benang yang sedang digunakannya untuk menyulam…dengan kedua kakinya yang kotor. “Menyulam apa kau? ksatria gagah?”
Xing Cai langsung lemas dan mendorong Guan Suo agar tidak menginjak peralatan menyulamnya lagi. “Minggir! Tidak bisakah aku memiliki privasi?”
Sekalipun seringkali menyebalkan, namun dilain hari, Guan Suo bisa diandalkan. Saat Xing Cai memikirkan hadiah yang ingin diberikannya untuk Guan Ping, Guan Suo mengajaknya pergi ke pasar. Namun karena dilarang keluar, mereka menyusup keluar lewat jalan rahasia yang hanya diketahui Guan Suo.
Setelah kembali di rumah, ternyata mereka sudah dihadang oleh Guan Yu yang melotot marah. Karena Xing Cai meminta agar tidak mengatakan pada siapapun bahwa mereka sedang membeli hadiah, Guan Suo berbohong pada ayahnya dengan mengatakan bahwa ia yang memaksa Xing Cai pergi bersamanya.
Akibatnya Guan Suo dihukum sendirian, disuruh berlutut di halaman sampai pagi. Setelah suasana sepi, Xing Cai dengan perasaan bersalah menghampiri Guan Suo dan menanyakan keadaannya. Guan Suo tidak meratapi diri, mengeluh atau menyalahkan siapapun. Bahkan mereka berdua mentertawakan kejadian yang barusan mereka alami saat kabur dari kejaran preman pasar tadi sore.
Di lain hari, Guan Suo mendapati Xing Cai dengan kaki yang dibalut karena terkilir.
“Kenapa kakimu?”
Namun Xing Cai tersenyum-senyum. “Aku kecelakaan saat sedang berlatih…kakiku terkilir.”
“Lalu kenapa terkilir bisa membuatmu bahagia? Dasar cewek aneh.”
“Karena saat aku terkilir … ada seorang pria sejati yang mengurut kakiku sehingga aku merasa nyaman…” kata Xing Cai sambil tersenyum menatap langit-langit ruangan perpustakaan.
Guan Suo sudah tahu siapa si pria sejati itu. “Ho … jadi, suatu hari, ada seorang ksatria tampan berkuda coklat duduk gagah di atas kuda … menghampiri seorang gadis jelek yang kakinya sedang terkilir kemudian memijit-mijit kakinya, lalu dengan kekuatan cinta, kaki gadis itu sembuh sendiri…”
“Tidak bisakah kau diam sebentar saja?!” Xing Cai terpaksa menutup buku yang sedang dibacanya. Ia tidak mampu mengusir Guan Suo yang bebal itu.
Guan Suo meneruskan kalimat ledekannya. “Kemudian mereka berciuman dan menikah…”
Xing Cai menjadi sangat kesal karena ia merasa ingin tertawa melihat ekspresi Guan Suo yang sebenarnya terlihat bodoh. Tapi bila ia tertawa, Guan Suo akan menyukainya. Maka ia memukuli Guan Suo dengan buku yang sedang dibacanya sekarang. “Kenapa kau selalu menggangguku? Ganggu saja dayang-dayang di dapur atau alihkan energimu untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna sedikit!”
“Aku hanya kasihan padamu.” Kata Guan Suo dengan serius.
“Ya, kau kasihan padaku, dan kau terus membuatku kesal .. malangnya aku.”
Guan Suo terdiam.
Keheningan dari orang itu membuat Xing Cai akhirnya menoleh padanya dan melihat wajah pemuda itu terlihat prihatin menatapnya. “Ada apa?”
Bibir Guan Suo berdecak. “Lihatlah kau. Membaca buku yang disukai si ksatria, menenun bandana untuknya, melukisnya secara rahasia, menulis puisi untuknya, membelikannya hadiah ulang tahun…”
“Apa yang salah dari itu?” kemudian Xing Cai menutup bukunya. “Hei, darimana kau tahu aku menenun kain untuknya dan melukisnya?”
Guan Suo menggeleng. “Bahkan setelah aku mengejekmu terus-terusan, kau semakin gencar saja mengharapkannya. Sepertinya kau yakin sekali akan menikah dengannya.”
“Memangnya kenapa kalau aku percaya itu? Apa salahnya kalau aku suka padanya? Dia tampan, manis, baik, tidak usil, tidak jahat, dan yang dilakukannya berguna bagi orang lain…”
“Iya, iya, aku tahu, intinya dia benar-benar berlawanan denganku, kan?”
Xing Cai kini terdiam dan membiarkan Guan Suo menyampaikan apa yang ingin diungkapkannya. “Sebenarnya apa maksudmu? Apakah kau cemburu?”
Dalam keadaan biasa, Guan Suo tidak akan terima dengan perkataan Xing Cai yang terakhir. Namun kali ini kelihatannya ia sedang sungguh-sungguh. “Xing Cai … lupakan dia.”
“Kenapa?”
Guan Suo tidak berkata apapun dan meninggalkan Xing Cai begitu saja.
Xing Cai bukanlah gadis yang suka blak-blakan mengungkapkan perasaannya. Ia cukup pemalu untuk mengungkapkan isi hatinya terhadap orang yang disukainya. Ia terus mengekspresikan perasaannya melalui lukisan, lagu yang dinyanyikannya, apa yang ia lakukan. Ia membaca buku yang dibaca Guan Ping, belajar memasak makanan yang disukai Guan Ping, dan seringkali ia membayangkan dirinya telah menikah dengan lelaki pujaannya itu.
Guan Suo tidak terlihat marah, namun ia semakin lama semakin dekat dengannya, seakan ada sesuatu yang membuatnya prihatin dan simpati. Kadang ia hendak mengatakan sesuatu namun ditelannya kembali. Dan bila Xing Cai mempertanyakannya, Guan Suo meninggalkannya karena tidak mau bicara.
Saat sedang menyapu halaman dari dedaunan musim gugur, seorang penjahit pakaian menyapa Guan Suo dan minta diantarkan masuk ke dalam. Penjahit itu membawa perlengkapan untuk mengukur pakaian. Sambil menghela nafas, Guan Suo mengantarkan penjahit itu menemui kliennya, Guan Ping.
Saat itu Guan Ping sedang mengayunkan pedangnya, mencoba jurus baru. Guan Suo menyapanya begitu saja. “Kakak. Ada yang mencarimu.”
“Siapa?” Guan Ping segera berhenti berlatih dan meletakkan pedangnya. “Ah, Paman Huang!”
“Halo, halo…” penjahit yang bernama Huang itu menghampiri Guan Ping dengan senyuman renyah. “Apa kabar?”
“Hahaha…baik sekali. Aku sangat tidak sabar. Bisakah kita melakukannya sekarang?”
“Dasar anak muda. Baiklah, ayo.” Kemudian penjahit Huang meminta Guan Suo memberikan tasnya. Ia mengira Guan Suo adalah semacam pembantu di rumah itu.
“Siapa gadis yang beruntung itu?” tanya Penjahit Huang sambil berbasa-basi.
“Ah, hanya gadis biasa. Sederhana namun apa adanya. Dia gadis yang baik, aku yakin dia bisa merawat ayahku kalau beliau sudah tua kelak.”
“Jadi kau menikahinya demi ayahmu juga? wow … anak berbakti…”
“Yah. Buat apa menikahi gadis cantik namun hatinya tidak baik?”
Guan Suo yang sedang menonton kejadian itu menjadi resah sendiri.
“Kau mencintainya?”
“Kalau aku tidak mencintainya, aku tidak mungkin menikahinya, paman.”
Akhirnya Guan Suo beranjak pergi dari sana. Guan Ping menegurnya sebelum si adik menghilang. “Suo, mau kemana?”
Guan Suo hanya menatap kakaknya dengan malas saja tanpa menjawab, kemudian ia pergi ke suatu tempat.
Cinta dan pernikahan….
Kembali teringat olehnya saat ia masih sangat kecil, ia cukup paham bahwa ibunya sedang sakit dan akan meninggal dunia. Namun Guan Yu hanya menatapnya sedih tanpa bicara apapun.
***
“Tuan Guan … aku titipkan Suo padamu.” Kata ibu sambil menangis.
Guan Yu hanya menggenggam tangannya saja kemudian mencium jemarinya dengan tulus. “Maafkan aku.”
Setelah itu Guan Yu pergi meninggalkan kamar dan tidak pernah datang lagi untuk menengok nyonya Hua.
Setelah kematian nyonya Hua, Guan Suo merasa marah. “Katanya ayah dewa perang! Katanya bisa melakukan apapun! Tapi dia membiarkan ibu mati!”
Sejak itu Guan Suo tinggal bersama neneknya di kamar para pembantu, menolak menjadi satu keluarga bersama Guan Yu. Sekalipun begitu, Guan Yu selalu marah bila ia tidak ikut makan malam bersama keluarganya.
***
Cinta. Ibu selalu bilang padaku, cinta adalah hal yang bisa menyelamatkan dunia. Tapi ia tidak pernah membuktikannya. Ayah membuang ibuku setelah dia jatuh sakit, mentelantarkan dia begitu saja.
Dan …
Xing Cai terlihat di ujung pandangan, sedang berlatih dengan giat. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Bahkan saat ia melihat Guan Suo, Xing Cai tidak lagi kabur seperti biasanya atau marah. Kali ini ia melambaikan tangannya dan memanggil Guan Suo agar mendekatinya.
“Gembira sekali kau hari ini?”
“Lihat ini.”
Xing Cai menunjukkan sebuah kalung yang indah. “Kak Guan Ping memberikannya padaku. Kau tahu tidak artinya bila seorang lelaki memberikan kalung pada seorang gadis? Aku dan dia ditakdirkan bersama. Aku yakin itu…”
…sesungguhnya cinta tidak lebih dari kepahitan…!
Kau dibuang seperti sampah yang sudah tidak diperlukan lagi.
Guan Suo merampas kalung itu dan membawanya pergi untuk menghampiri Guan Ping. Tentu saja Xing Cai menarik tangannya. “Hei! Mau apa kau!”
Guan Suo mengibaskan lengannya sehingga tangan Xing Cai terlepas. Ia ingin mengatakan sesuatu namun ia tidak bisa. Entah mengapa, ia tidak ingin melihat wajah bahagia itu berubah kecewa dan menangis. Guan Suo kembali menghampiri Guan Ping sambil dikejar-kejar oleh Xing Cai.
“Suo!! Kembalikan! Kau kan bisa beli sendiri! Itu hanya kalung murah, tidak berarti bagimu, apa yang hendak kau lakukan?!” Xing Cai terus mengejarnya dengan marah.
Akhirnya mereka sampai di tempat dimana Penjahit Huang sedang mengukur pakaian untuk Guan Ping sambil tertawa-tawa. Guan Suo yang masuk ke dalam ruangan langsung menarik kerah baju Guan Ping dengan marah. “Brengsek kenapa kau beri dia kalung?!”
“Loh? Kenapa ini? Dia siapa?” tentu saja Guan Ping tidak tahu apa yang membuat Guan Suo marah.
Guan Suo menunjukkan seuntai kalung manik-manik yang terbalut di tangan kirinya. “Ini darimu?!”
“Ya. Untuk Xing Cai. Hadiah ulang tahun. Kenapa?” Guan Ping benar-benar terlihat tidak tahu apapun mengenai sesuatu yang membuat Guan Suo marah.
Xing Cai masuk ke dalam ruangan dan menarik Guan Suo untuk pergi. “Hei, kau ini liar sekali sih? Tidak ada apa-apa marah sendiri.”
Tatapan Guan Suo masih terus melekat pada Guan Ping dengan tajam. Pemuda berusia 15 tahun itu masih menantang kakaknya yang usianya kira-kira dua kali lipat usianya sendiri. “Kenapa harus kalung?! Kenapa tidak kau belikan dia benda lain?!”
Xing Cai menjadi malu dan ia menarik Guan Suo pergi lebih kuat lagi. “Hei!! Sudahlah kau ini memalukan sekali!”
“Aku juga memberikan ibu kalung untuk hari ulang tahunnya.” Jawab Guan Ping dengan polos.
“Kenapa tidak kau beritahu semua orang bahwa kau akan menikah?! Bila aku secara kebetulan tidak melihatmu bersama nona itu, aku juga tidak akan tahu!! Kenapa kau diam!?” bentak Guan Suo.
Mendengar ucapan itu, Xing Cai kini terpaku. Hatinya bagaikan kaca rapuh dalam bingkai emas … dan kini kaca tersebut pecah berkeping-keping.
“Suo. Aku tidak mengerti kenapa kau marah. Aku diam-diam saja karena aku ingin membuat kejutan untuk ayah, ibu dan kalian semua….ini akan menyenangkan.”
“Menyenangkan?!” sebelum Guan Suo menyelesaikan kalimatnya, Xing Cai sudah menabrak ucapannya.
“Sudah cukup!!”
Sambil menahan sesuatu yang ingin membuatnya menangis, Xing Cai menarik lengan Guan Suo. “Kau sangat memalukan. Masuk ke tempat ini seperti preman lalu marah-marah pada kakakmu sendiri hanya karena dia memberikan kalung untukku.”
Xing Cai berhasil menariknya menjauh dari Guan Ping dan terus mendorongnya dari depan. Ia tidak ingin Guan Suo menyatakan apa yang ia rasakan terhadap Guan Ping selama ini.
Hingga mereka sudah cukup jauh dari Guan Ping, akhirnya Guan Suo berteriak kencang. “Selama ini aku diam saja, tapi kukatakan padamu sekarang…”
Xing Cai kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Sudah, diam!”
Dan ketika melihat Xing Cai menangis sedih, Guan Suo pun terdiam. Dengan suara terbata-bata, Xing Cai berkata lembut padanya. “Sudah, tidak apa-apa…aku yang terlalu bermimpi…aku yang salah…”
Kemudian Xing Cai meluapkan semua rasa sedih dan kecewanya, memeluk Guan Suo sambil menangis. “Aku tidak apa-apa, Guan Suo … cinta tidak harus saling memiliki.”
Xing Cai benar, aku memalukan.
Kakak Ping tidak salah apapun, ia memang perhatian pada setiap orang. Hanya karena aku tidak berani mengatakan langsung pada Xing Cai, aku melampiaskannya kakak Ping.
Pengecut …!
Saat ia memelukku sambil menangis … aku hanya terdiam.
Bukan karena apa yang kuinginkan akhirnya terkabul,
Aku terdiam menyadari perasaan yang kurasakan, sensasi yang kudapatkan ketika dia menumpahkan segala perasaannya padaku melalui air matanya yang membasahi bahuku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, … aku merasa seperti seorang pelindung.
Dan jiwa yang rapuh ini … akan kulindungi selamanya.
Takkan kubiarkan dia menangis lagi.
Guan Ping melihat apa yang terjadi pada Guan Suo dan Xing Cai dari jauh. Kedua remaja itu terlihat begitu hangat dimatanya. Terlihat ada yang spesial di antara mereka.
Namun itu bukan sesuatu yang menggembirakan. Dengan cepat Guan Ping mendatangi ayahnya.
Saat itu Guan Yu sedang duduk-duduk santai sambil membaca surat kiriman dari Sun Quan melalui Zhuge Jin, duta dari Wu untuk Shu karena adiknya adalah figur yang cukup terpandang di Shu.
Guan Yu tersenyum sinis menanggapi lamaran tersebut. “Jadi … setelah dia menikahkan kakakku, Liu Bei dengan adiknya, Sun ShangXiang, ia menahan Liu Bei di Dong Wu selama berbulan-bulan. Setelah itu mengambil kembali adiknya dengan muslihat. Dan kini … Sun Quan bosmu itu hendak melamar putriku, Xing Cai?”
“Bukankah akan menyenangkan bila kita sebagai tetangga akhirnya bisa menjalin hubungan keluarga?” kata Zhuge Jin sambil tersenyum seperti tikus.
Guan Yu lagi-lagi mendengus sinis. Kemudian ia tertawa juga. Dua orang pria di ruangan itu tertawa keras, terutama Guan Yu. Tertawa keras sekali sehingga membuat Zhuge Jin merasa ada yang salah dari suara tawa itu.
Guan Yu menggebrak meja sambil membentaknya. “Kurang ajar!! Xing Cai itu anak harimau! Mana mungkin aku menikahkan anak harimau dengan anak anjing!?”
Zhuge Jin terkejut bukan main dan takut Guan Yu akan mengambil nyawanya saat itu juga. Selagi ia kebingungan hendak berkata apa, Guan Yu merobek surat dari Sun Quan di hadapannya dan membuangnya begitu saja. Setelah itu ia minum teh dengan angkuh.
Zhuge Jin merasakan hatinya teraduk-aduk. Antara bingung, takut dan tersinggung.
Guan Yu mengusirnya. “Masih berani duduk di sini?!”
Zhuge Jin pun berlari pergi meninggalkan kediaman Guan Yu. Saat ia berpapasan dengan Guan Ping, ia menghardik Guan Yu. “Awas kau, Guan Yunchang! Aku tidak akan menerima penghinaan ini!”
“Kenapa lagi dia?”
“Ingin melamar Xing Cai. Dikira dia anakku.” Kata Guan Yu dengan santai.
Guan Ping duduk dengan sopan, kemudian ia berkata. “Ayah … ada sesuatu yang ingin kusampaikan mengenai Suo dan Xing Cai.”
“Aku tahu mereka cukup akrab. Ada apa?”
“Mereka … terlalu akrab.” Kata Guan Ping. “Aku tahu kau tidak berniat menikahkan salah satu putramu dengan putri paman Zhang. Maka aku beritahu kau.”
Guan Yu menghela nafas. “Aku … merahasiakan darimu … sesungguhnya … aku dan Zhuge Liang sudah membicarakan mengenai Xing Cai. Menurutnya, ia gadis yang tepat untuk mendampingi Liu Shan karena katanya Liu Shan adalah titisan dari Naga Hitam.”
Guan Ping menundukkan kepalanya. Ia mengerti dilema yang dihadapi ayahnya.
“Aku selalu merasa bersalah pada Suo. Kau tahu sendiri apa yang terjadi pada Hua JinTing saat Suo masih kecil kan?”
“Lupakanlah, ayah, itu bukan salahmu. Tidak ada yang bisa mencegah penyakit datang.”
“Aku merasa bersalah karena aku merasa gagal menjadi ayahnya. Anak itu membenciku sekarang.” Guan Yu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi sepertinya … dengan semua kejadian ini, kurasa memang lebih baik Xing Cai kembali ke tempat Zhang Fei.”
Tanpa membuang waktu lama, Xing Cai mengemasi barang-barangnya. Tentu saja Guan Suo membantunya merapihkan barang-barangnya ke dalam kereta yang akan membawanya kembali ke rumahnya. “Kau tahu, barangkali dia bukan jodohmu. Lupakanlah.”
Xing Cai yang menjadi semakin murung setelah ia mengetahui Guan Ping akan menikah dengan orang lain itu perlahan menatap Guan Suo. “Ini bukan urusanmu. Kenapa kau harus mengaturku tentang siapa yang harus kucintai?”
“Aku hanya ingin kau melewati masa sulitmu ini saja kok.”
“Guan Ping selamanya akan tetap menjadi cinta sejatiku. Aku akan menunggunya, aku yakin aku dan dia ditakdirkan bersama.” Kata Xing Cai pada angin yang berhembus menerpa rambutnya.
Guan Yu menyampaikan salam perpisahan pada Xing Cai, tidak lupa memberikannya sepucuk surat untuk Zhang Fei.
“Terima kasih karena telah merawatku selama ini. Maaf bila ada yang kulakukan tidak berkenan bagi Paman.” Xing Cai memberi hormat.
“Sudah menjadi tugasku untuk merawatmu. Tidak apa-apa. Kau telah membuat suasana di sini menjadi lebih berwarna. Terima kasih karena telah datang kemari. Kau akan selalu diterima di sini kapanpun kau mau datang kembali.” kata Guan Yu.
Guan Ping hanya mengusap rambut Xing Cai dan memeluknya dengan hangat. Memperlakukannya seperti adik perempuannya sendiri.
“Selamat tinggal, kakak.”
Guan Ping mengangguk. “Jaga dirimu.”
Ia tidak melihat Guan Suo mengantarkannya pergi dari Jing. Dan ia tidak perduli apa yang akan dilakukan orang itu. Guan Xing mengantarkan Xing Cai dan akan tinggal bersama keluarga Zhang untuk beberapa lama seperti saat Xing Cai tinggal bersama keluarga Guan.
“Baik-baik di sana.” Kata Guan Yu.
Guan Ping berbagi tos dengannya sebelum mereka berpisah. “Ketika aku pulang nanti, aku akan membawa cerita hebat untuk dibagi bersama kalian!”
Sementara kereta kuda membawa Guan Xing dan Xing Cai pergi, Guan Suo hanya mengamati kereta kuda itu dari atas menara kota. Lebih suka mengawasi dari kejauhan tanpa terlihat. Lagipula, ia benci perpisahan.

Bersambung


%d blogger menyukai ini: