Diujung Pelangi

Diujung Pelangi

Tristan dan dua orang guru mengarahkan kedua belas murid-muridnya keluar dari kelas playgroup strawberry.  Anak-anak yang rata-rata berusia tiga tahun tersebut terlihat gembira bernyanyi sambil berjalan membentuk barisan panjang menuju ke ruang tunggu di mana orang tua sudah siap menjemput mereka pulang ke rumah. 

Seorang ibu muda yang mengenakan celana jeans pendek berwarna hitam dengan kaos hijau bergambar daun dan payung melambai ke arah barisan anak-anak playgroup strawberry. Tristan menatap bocah berkepala botak dengan senyum merekah menghiasi pipinya melonjak gembira membalas lambaian tangan mamanya. 

Tristan selalu hapal dnegan penampilan ibu muda itu. Penampilan yang jauh dari kesan feminim, rambut pendek dan wanita itu selalu berdiri di barisan terdepan para penjemput. Dia akan melambai kepada anaknya, Nathan dan memeluk bocah kecil itu sambil bertanya mengenai kegiatan belajar di kelas. Tristan suka memperhatikan gerak gerik kedua ibu dan anak itu, terutama si ibu. 

Setelah selesai menyerahkan anak didiknya kepada orang tua yang menjemput, Tristan segera menghampiri Nathan dan mamanya. Selembar kertas yang seharusnya hanya diselipkan di communication book menjadi alasan Tristan mencuri kesempatan berbicara dengan wanita itu. 

“Mama Nathan, besok ada meeting parent. Mulainya sesudah jam sekolah. Anak-anak akan dijaga oleh para asisten guru. Lalu,” Tristan terdiam sejenak ketika merasakan jemari Mama Nathan menyentuh ujung jari manisnya saat dia menyerahkan kertas berisi pengumuman.

“Iya, lalu?” Ibu muda itu menatap Tristan sambil terus mengandeng anak laki-lakinya yang mulai tidak sabaran. 

“Eh, itu tadi Nathan muntah sehabis makan buburnya,” Tristan berusaha menjaga nada bicaranya. Dia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh dan selalu salah tingkah di hadapan ibu muda ini.

“Nathan! Tadi muntah yah, sayang?” Nathan menjawab pertanyaan Mamanya dengan anggukan pelan. 

“Iyah. Nathan mamam habis kok buburnya, Ma. Lalu si Dhana tuh ngajak Nathan lari-lari. Muntah deh.” Nathan mulai menjelaskan.

“Lalu kena baju teacher Tristan deh,” Nathan menunjuk ujung kemeja gurunya. Tristan hanya dapat memasang wajah tersenyum.

“Aduh, saya benar-benar minta maaf,” Mama Nathan menundukkan kepala, meminta maaf.

Sedangkan Nathan sibuk menarik tangan Mamanya. “Di sini nih, Ma. Bajunya Teacher jadi bau,” kekeh bocah itu. sementara itu Tristan terlihat malu ketika Mama Nathan memperhatikan ujung seragam kerjanya yang berwarna biru cerah kini terdapat bercak coklat.

Tristan menutup laptop sambil membereskan bahan ajar untuk besok. Dia merapikan semua alat tulisnya dan menyusun puzzle dan block-block susun yang akan dipergunakan di kelas. Matanya tertuju pada map hijau dibagian bawah tumpukan berkas. Kayla menyerahkan fotocopian itu pagi tadi, namun karena tadi pagi dia masuk pas jam tujuh tepat mau tidak mau map hijau itu tidak disentuhnya.selembar kertas dikeluarkan dari map.  Tristan membaca dan melingkari pada satu bagian. Berulang kali dia menatap bagian yang dilingkarinya dengan stabilo berwarna kuning terang.

Suara pintu yang terbuka mengejutkan Tristan. Dilihatnya Chery, guru kelas TK Sun flower berjalan ke arahnya. Segera saja dia meremas kertas fotocopian tersebut dan meletakkannya secara asal di atas meja. Chery duduk di depan Tristan. Dia membalikkan posisi kursi agar berhadapan langsung dengan Tristan. “Belum kelar beresin bahan ajar besok?”

“Sudah, tinggal dirapikan saja,” jawab Tristan tanpa menatap ke arah Chery.

“Kertas apaan itu?” Chery menatap kertas yang sudah berbentuk bola kertas di samping telapak tangan Tristan. Chery tahu betul pria di hadapannya ini adalah pria yang sangat rapi dan teratur. Tidak ada kertas-kertas yang berserakan di meja. Semua peralatannya selalu tersusun dan terstruktur, maka dari itu pandangan Chery segera tertuju pada bongkahan kertas tak terpakai itu.

“Salah fotocopi tadi,” Tristan segera mengambil dan melempar ke dalam tong sampah. Dia tidak ingin Chery mengetahui jika kertas itu berisi data Nathan Saverio. Dan terdapat lingkaran dari stabilo pada nama ibu anak tersebut.

Chery segera teringat misi awalnya. Dia sengaja menunggu hingga semua guru pulang dan kantor kosong. Chery tahu pasti Tristan selalu pulang terakhir. “Mau ikut pergi karaoke dengan kami malam ini?”

“Aku tidak terlalu pede menyanyi di depan umum,” sahut Tristan mencari alasan.

“Tapi kamu tidak canggung saat menyanyi bersama anak-anak di acara ulang tahun sekolah,” Chery masih mencoba.

“Itu beda. Tuntutan pekerjaan,” Tristan menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari blackberry-nya.

“Ayolah. Kali ini spesial, aku merayakan wisuda D3-ku. Kamu tidak ikut gembira dengan kelulusanku ini?” pertanyaan Chery membuat Tristan terdiam sejenak.

“Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama.  Aku harus mempersiapkan bahan untuk les private lagi,” seketika itu juga wajah Chery berubah cerah. Baginya lima menit kedatangan Tristan lebih bernilai daripada apapun.

“Jam tujuh tepat di Nav. Ingat!” teriak Chery sebelum meninggalkan ruangan.

Tristan kembali memperhatiakn ruangan kantor yang kini telah kosong, hanya tersisa dirinya. Tenaga pengajar di sekolah ini berjumlah 25 orang. Dia dan Chery beserta 12 guru lainnya adalah guru tetap. Sisanya masih sebagai asisten yang membantu guru tetap mengajar di Sunshine School, sekolah yang berbasis kurikulum internasional. Tristan sudah dua tahun mengajar di sekolah ini sejak dia kesulitan keuangan untuk membiayai kuliahnya. Tidak pernah terpikir olehnya menjadikan guru sebagai profesi, apalagi guru sebuah taman kanak-kanak.

Dia dan Chery masuk di tahun yang sama. Dan sejak awal Tristan tahu perhatian lebih dari Chery adalah sinyal dari Chery. Teman sekerjanya mengharapkan hubungan yang lebih dari sekedar rekan guru.

Hanya saja sejak Tristan bertemu dengan Mama Nathan semuanya menjadi berbeda. Cara pandangnya terhadap masa depan berubah 180 derajat. Tristan tidak dapat mengalihkan pandangan dari wanita itu. ibu muda itu telah menyita semua keinginannya untuk melirik gadis lain.

Tristan menghabiskan teh manis yang masih tersisa setengah. Sebenarnya dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa menaruh hati pada seorang wanita yang bahkan baru dia ketahui namanya tadi. Wanita yang jelas-jelas usianya lebih tua darinya. Dan lebih gilanya lagi, wanita itu adalah ibu dari muridnya.

00000

Wajah malaikat kecil itu selalu berhasil membalut kerapuhan hatinya setiap kali ia melihatnya. Nathan Saverio, buah hatinya, harta paling berharga yang dimilikinya saat ini, nampak tertidur pulas di samping tempat duduknya. Joanna membelai kepalanya yang pelontos secara lembut dan hati-hati. Ia ingin Nathan tetap terlelap, menghimpun kembali energinya setelah setengah hari menjalani aktivitas di sekolah.

Di tengah lampu merah begini, biasanya Nathan akan meracau tentang banyak hal. Menanyakan dan membicarakan apa pun yang dilihatnya di sekitar. Berteriak-teriak minta diambilkan dan dibelikan sesuatu dari pedagang asongan. Menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di kelas. Namun kali ini, ia nampak sangat kelelahan.

Telapak tangan Joanna menjadi lembap karena keringat di dahi Nathan. Selembar kertas ikut terbawa dari dalam tas bersama saputangan yang ia keluarkan. Kertas berisi pengumuman sekaligus undangan rapat orang tua siswa yang diberikan Pak Guru Tristan. Selama beberapa detik, Joanna mengacuhkannya, membaca sekilas isi kertas, sebelum ia meneruskan maksudnya menyeka keringat di dahi Nathan.

Joanna kembali pada selembar kertas pengumuman itu: ia harus menghadiri rapat orang tua siswa, besok. Besok? Mendadak ia baru ingat kalau ia sudah membuat janji bertemu dengan Koh David, calon supplier batu-batu dan bahan aksesoris lainnya, pada waktu yang hampir bersamaan dengan agenda rapat orang tua. Ia benci harus memilih antara menghadiri rapat orang tua siswa atau rapat dua orang yang hendak menggalang kerja sama. Seandainya ia tahu ada orang lain yang memiliki barang-barang dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih bersahabat dibanding milik Koh David, pilihannya bakal lebih berat ke menghadiri rapat orang tua siswa. Dan satu hal yang melintang di antara otak kanan dan kirinya adalah, fakta menyebalkan di mana, membuat janji bertemu Koh David sesulit dan seeksklusif membuat janji bertemu selebriti.

Nathan adalah prioritas utama dalam hidupnya, dan bisnis perhiasan dan aksesoris yang baru akan dibangunnya ini pun mulai diletakkan di level prioritas demi menjaga stabilitas prioritas utamanya. Segala yang berhubungan dengan Nathan adalah hal yang sangat penting baginya, termasuk menghadiri rapat orang tua siswa. Setelah guru-gurunya, Joanna harus menjadi seseorang di satu urutan selanjutnya yang mengetahui perkembangan kemampuan buah hatinya. Dan ia pun harus menjadi bagian dari tim pendukung dan perancang program-program pendidikan di sekolah tempat buah hatinya berada. Namun kini, ia juga harus menjadi delegasi utama bagi bisnis yang tengah dirintisnya.

Seandainya Joanna bisa membelah dirinya menjadi dua….

“Teacher Tristan…,” gumam Nathan dalam tidurnya, membuat Joanna berpaling kepadanya.

Joanna tak salah dengar, baru saja Nathan menyebutkan nama guru laki-laki itu. Tristan. Bahkan, Nathan sempat tersenyum saat menggumamkan nama itu

sebelum akhirnya kembali terlelap, dan tentu saja Joanna tak salah lihat. Ia lantas berpikir, sejauh apa hubungan di antara puteranya dengan guru laki-laki itu?

Memang, dalam pengamatannya, Nathan lebih dekat dengan Tristan dibanding guru-guru lainnya di sekolah. Joanna bisa melihat ekspresi wajah Nathan yang ceria dan bahagia ketika berada bersama Tristan. Begitu pun sebaliknya, Tristan tampak lebih dekat dengan Nathan dibanding murid-muridnya yang lain. Dan aroma perhatiannya pun tercium lebih pekat. Oh, sebenarnya, ini baru kesimpulan sederhana di dalam benak Joanna. Kesimpulan yang sedikit bercampur dengan…

… mungkin… harapan.

Ah, Joanna merasa sudah keluar batas. Apa yang baru saja dipikirkannya sedikit konyol, terutama di bagian Tristan tampak lebih dekat, dan perhatiannya lebih pekat terhadap Nathan. Bukankah semua guru akan bersikap seperti itu terhadap semua, ya, semua muridnya?! Dan, oh, ayolah, seorang anak kecil berusia tiga tahun akan menggumamkan apa dan siapa saja saat sedang mengigau, bukan? Jadi, yeah, Joanna tak perlu membesar-besarkan perkara sederhana mengenai apa yang baru saja dilakukan Nathan.

Lampu hijau.

Joanna memacu kendaraannya di bawah level normal, sebab dirinya tengah bersama Nathan. Level normal dalam versinya tentu saja memiliki pengertian yang agak berbeda dari kriteria normal dalam kamus berkendaraan seorang perempuan. Saat masih gadis, hobinya adalah kebut-kebutan di jalanan. Sekali waktu, ia pernah mengalami kecelakaan, namun itu tak lantas membuatnya jera. Tak seorang pun mampu menghentikannya. Sampai kemudian, muncullah seseorang….

Adam. Seorang calon Dokter dengan segala kesempurnaan dan keteraturannya, yang datang melalui perkenalan seorang teman. Yang kemudian mengakui dan mengungkapkan kekagumannya terhadap Joanna yang nyaris berseberangan dengannya. Adam yang jatuh cinta pada kesederhanaan Joanna. Adam yang manis dan romantis, yang menghiasi hari-hari Joanna dengan nuansa warna merah muda dan mahkota-mahkota mawar di mana-mana.

Semenjak mereka berhubungan, Adam tak pernah membiarkan Joanna menyetir. Adam yang sempurna dan teratur tak menyukai gaya slengean dan ugal-ugalan dalam berkendaraan. Hanya itu satu-satunya hal yang tidak disukaiAdam dari Joanna, dan selalu menjadi bahan permasalahan mereka. Tetapi pada masa itu, medan cinta di antara mereka masih sekuat ikatan atom dalam benda padat. Terlebih, Joanna tak kuasa menolak kebaikan dan pesona Adam.

Minggu berganti bulan, hubungan mereka terasa kian mantap. Dunia milik berdua lantas memerangkap mereka dalam sebuah persoalan klasik. Joanna hamil. Adam mengelak dengan serangkaian teori kontrasepsi dan reproduksi yang ia kuasai. Namun hasil pemeriksaan Dokter tak sejalan dengan motif pengelakan Adam. Lantas Adam mencari kambing hitam.

Joanna tak hanya kecewa, melainkan juga terluka. Namun ia tak lantas putus asa. Ia berusaha tegar tanpa bergantung pada siapa-siapa. Beruntung, ia memiliki seorang Ibu yang luar biasa, yang masih bersedia menerima kondisi putrinya apa adanya, tanpa membebankan rasa bersalah yang tak berkesudah, tak peduli kakak-kakak Joanna menentangnya.

Bulan berganti tahun, Joanna memulai hidup sebagai orang tua tunggal, bersama ibunya merawat dan membesarkan Nathan. Sementara, Adam menghilang setelah memberi kabar terakhir bahwa ia akan menyelesaikan studi kedokterannya di Amerika.

Seharusnya Joanna sudah mengubur semua kenangannya bersama Adam dalam-dalam. Sebagian memang sudah tenggelam. Sisanya, mau tak mau masih tetap tertinggal, di saat-saat tertentu ketika Joanna memandangi Nathan. Bagaimana pun, ada darah laki-laki itu di dalam diri Nathan, meskipun Joanna mati-matian mengharamkannya. Dan betapa pun, Nathan tetaplah seorang anak laki-laki biasa yang memerlukan sentuhan kasih sayang dan perhatian dari seorang laki-laki dewasa, meskipun Joanna mati-matian berusaha menjadi seorang Ibu yang mampu berperan ganda.

Tiba-tiba Joanna merasakan sesuatu yang tak beres pada kendaraannya. Ia menepi, lalu turun dan mendapati ban mobil sebelah kiri-depannya kempes. Ban sebelah kiri-belakangnya menjadi pelampiasan tendangan bebasnya ketika ia beranjak ke bagasi dan tidak menemukan peralatan apa-apa di sana. Ia baru saja ingat, mobilnya baru dicuci, dan semua isi bagasinya berpindah ke garasi.

Joanna mengeluarkan ponsel dari tasnya. Selama beberapa saat, ia mencari-cari nama kontak yang bisa dihubungi dan siap sedia membantunya. Ya, idealnya, di saat-saat seperti ini, setidaknya ada satu nomor di ponselnya yang pasti ia hubungi dan pasti siap sedia membantunya. Idealnya.

00000000

Namun Joanna sadar sepenuhnya, dia tidak mempunyai seseorang yang bisa diandalkan. Dia bahkan tidak mempunyai nama-nama orang yang disetel untuk speed-dial di ponselnya. Joanna tahu tidak akan ada hasil meski dia mencari-cari nama dari phone book, urut abjad sekalipun, A hingga Y, nama terakhir di ponselnya. Pilihan terakhir Joanna hanya satu. Menghubungi 108 dan menanyakan nomor telepon bengkel terdekat. Diliriknya sekilas harta paling berharga dalam hidupnya yang masih terlelap.

Everything will be fine, just you and me…”

Joanna mengetuk-ngetukkan jemari tangan di atas pangkuannya. Beberapa kali dia merasakan ponselnya bergetar dari dalam tas yang disandangnya di bahu. Joanna sama sekali tidak mampu berkonsentrasi dalam pertemuan orang tua di playgroup Nathan siang itu.

“Pasti Koh David lagi. Masa sih dia sudah sampai di restoran? Aduh, lama sekali sih meeting-nya,” batin Joanna cemas. Waktu menunjukkan sepuluh menit menuju jam tepat janji temu.

“… jadi anak-anak akan berperan serta dalam malam pagelaran Sunshine School tersebut minggu depan. Kita akan membuat drama musikal sederhana, bergabung dengan anak-anak TK Sun Flower. Untuk anak-anak playgroup Strawberry tentu saja mendapat peran-peran yang mudah ya bapak ibu sekalian, seperti menjadi lebah, kupu-kupu, pohon, bunga, semacam itu…” Tristan yang tengah menjelaskan mengenai rencana kegiatan festival penggalangan dana untuk anak-anak tidak mampu, menangkap kegelisahan yang terlihat dari diri Mama Nathan. Apa yang dibaca Tristan adalah wanita pujaannya tersebut tampak terburu-buru karena tak henti-hentinya melirik ke jam dinding berbentuk strawberry di dalam kelas itu.

“Koh David sudah setuju mengundur janji temunya satu jam, tapi bukan berarti Koh David mau menunggu lagi untuk lima menit sekalipun…” pikir Joanna makin cemas, semakin tidak fokus pada apa yang diucapkan Tristan yang tengah membacakan susunan panitia kepengurusan dan menanyakan kesediaan masing-masing orang tua.

“… Mama Nathan?” Tristan memanggil Joanna.

Mama Dhana yang duduk di samping Joanna mencolek lengan Joanna membuatnya terkejut.

“Ditanya Teacher tuh, Mama Nathan,” ucap Mama Dhana.

“Eh, maaf, ada apa, Teacher?”

“Saya tadi bertanya, apakah Mama Nathan bersedia menjadi koordinator konsumsi?” Tristan tersenyum.

“Ya, apa sajalah, Teacher. Saya bersedia jadi apa saja.”

“Menjadi kekasihku apa bersedia juga?” batin Tristan spontan, kemudian sadar dan membodohkan dirinya sendiri. Melihat Joanna tidak tenang dan tampak ingin segera keluar dari kelas, Tristan pun mempercepat kata-katanya, mencoba mempersingkat dan segera mengakhiri parent meeting. Ketika para orang tua beranjak meninggalkan kelas, Tristan memberanikan diri mendekati Joanna, berharap bisa sekedar basa-basi sebentar sebelum wanita pujaannya itu buru-buru pulang.

“Mama Nathan tampaknya buru-buru?”

“Iya, Teacher. Saya ada janji bertemu klien kerja penting. Dan saya sudah terlambat lima menit. Belum lagi mengantar Nathan pulang. Tidak mungkin bawa Nathan ketemu Koh David dan… ah maaf, bagaimana, ada yang perlu saya ketahui lagi tentang acara minggu depan?” Joanna panik dan mulai meracau tidak karuan.

“Kalau Mama Nathan buru-buru, Nathan biar di sini saja dulu, jadi Mama Nathan tidak perlu mengantar Nathan pulang, bisa langsung menemui klien. Setelah selesai, baru menjemput Nathan di sini,” Tristan spontan mengusulkan.

“Tapi, bukankah para asisten guru sudah akan pulang?”

“Saya yang akan menjaga Nathan di sini. Umm… kalau boleh… jika Mama Nathan tidak keberatan,” Tristan mulai salah tingkah.

Joanna melihat tawaran itu sebagai harapan penolong satu-satunya. Dia langsung menyetujuinya.

Teacher tidak keberatan? Terima kasih sekali! Tolong sampaikan pada Nathan, mamanya akan segera kembali. Sekitar satu jam saja. Ah, saya yakin Nathan akan senang bersama Teacher Tristan. Permisi,” Joanna segera melesat keluar dari kelas dan menelepon Koh David.

Tristan tersenyum menatap Joanna berlalu. Hatinya senang bisa mendapat kesempatan menjaga anak dari wanita yang dimimpikannya hampir tiap malam dan masih bisa bertemu lagi dengan wanita itu hari ini. Tristan bahkan sudah mulai merancang sebuah obrolan saat Joanna menjemput Nathan nanti.

Baltimore, Maryland, USA

Seorang lelaki yang mengenakan jas putih panjang meluari kemeja hijau muda dan celana panjang hitam tampak berjalan keluar dari area patologi dan menyusuri koridor Johns Hopkins Hospital. Lelaki itu tengah menjalani masa internshipnya setelah mendapat gelar M.D. Tidak ada yang meragukan kemampuan lelaki itu. Tidak ada yang bisa memungkiri kapasitas otaknya sejak dia diterima di The Johns Hopkins University School of Medicine, sebuah universitas kedokteran yang tergolong paling bagus di Amerika.

Lelaki itu bernama Adam.

Pikiran Adam kurang fokus sejak kemarin, setelah dia membantu menangani proses persalinan. Pembicaraan singkat dengan seorang ibu yang baru saja melahirkan tiga hari lalu, membuat Adam terus memikirkannya.

“Selamat, Ma’am, bayi Anda cantik sekali…” ucap Adam tulus, “… jadi siapa nama anak cantik ini?”

Wanita itu tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Joanne. Ya… saya akan memberinya nama Joanne, artinya kasih sayang Tuhan.”

Adam teringat pada Joanne-nya. Atau lebih tepatnya Joanna. Wanita yang dulu sangat dicintainya, yang kemudian ditinggalkan hanya karena ketidakdewasaannya. Karena ketakutannya pada satu kata sakral, yaitu komitmen. Membuatnya melarikan diri dan bersembunyi di balik ambisi masa depan.

Adam menghampiri coffee machine, menuangkan kopi hangat ke dalam cangkir yang kemudian langsung diminumnya. Sudah sekitar 30 jam dia terjaga, selain karena kesibukannya, juga karena bayangan Joanna yang membuatnya tidak mampu memejamkan matanya sejenak.

Adam beranjak untuk pulang, membawa mobilnya keluar dari area Johns Hopkins.Dia kembali menyusuri Jalan E Fayette, rute yang selalu dilaluinya tiap kali pulang-pergi kerja. Pikirannya masih tertuju pada Joanna, membuatnya mengarahkan mobil ke South Street, menuju ke Uncle Lee’s Harbor Restaurant. Sebuah restoran chinese food yang berjarak sekitar 1,5 mil dari rumah sakit.

Adam memesan makanan khas restoran itu, bebek peking. Adam ingat Joanna sangat menyukai bebek peking. Pikiran Adam melayang pada masa-masa dia dan Joanna masih bersama. Sesekali selama di Amerika, Adam memang masih teringat pada Joanna. Namun bayi kecil yang baru lahir tiga hari lalu, entah kenapa membuat Adam sangat kacau. Mimpi melihat Joanna menggandeng seorang anak mulai menghantui lagi.

Ya, memang tidak ada yang meragukan kesuksesan Adam meraih ambisinya. Namun saat ini, Adam sendiri meragukan dirinya, meragukan di mana hati nuraninya, yang telah tega mengingkari buah cintanya bersama wanita terhebat yang pernah tinggal lama di hatinya. Atau sebenarnya bukan pernah tinggal di hatinya, tapi masih.

Dan Adam akhirnya meraih ponselnya.

“Hai Ndre, ini Adam… ya, aku masih di Maryland… listen, kau masih kerja di agen perjalanan di New York?… great, aku butuh tiket ke Indonesia untuk minggu depan dari JFK airport…”

00000000

Bergegas, Joanna melangkah tergesa dan masuk ke dalam mobilnya. Di starter-nya mesin mobil secepat dia dapat sementara tangan kirinya bergerak gesit memindahkan persneling, kemudian kakinya menekan pedal gas. Joanna tidak sempat lagi mengecek panggilan tak terjawab di handphone-nya kalau dia tak mau semakin terlambat.Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana caranya untuk tiba secepat mungkin menemui calon supplier-nya itu.

Jemarinya diketuk-ketukkan perlahan ke atas setir ketika laju kendaraannya sempat terhenti akibat lampu merah di perempatan jalan. Menunggu dengan separuh tak sabar, berharap agar warna merah itu segera berganti dengan warna hijau.

Joanna berharap ketika bertemu dengan Koh David nanti, calon supplier-nya itu masih ada di tempat yang mereka janjikan. Duduk dengan tenang sambil menikmati makanan pesanannya. Joanna ngeri jika harus membayangkan kehilangan calon supplier besar seperti Koh David. Padahal entah sudah berapa lama Joanna menantikan kerjasama ini.

Warna hijau terangkum dalam mata Joanna. Membuyarkan kepingan lamunannya. Menyadari hal itu, diturunkannya rem tangan mobil di sisi kirinya, membiarkan kaki kanannya kembali memacu pedal gas. Pada saat itulah Joanna menyadari ada sesuatu yang tak beres pada kendaraannya – lagi.

“Oh, jangan sekarang….” Joanna menekan pelipisnya. Memohon dalam hati agar pada saat dia menepikan mobilnya di kiri jalan dan turun untuk mengecek kendaraannya, dia tidak akan menemukan keadaan mengerikan yang membuatnya semakin terlambat menemui Koh David.

Terburu-buru, Joanna mencari tempat yang tepat, menghentikan deru mesinnya, membuka pintu mobil, dan turun sesegera mungkin. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa sekarang giliran ban mobil sebelah depan kanannya yang kempes. Padahal baru kemarin Joanna kembali dari bengkel untuk memperbaiki ban sebelahnya yang juga sempat kempes.

Joanna menahan nafas kesal. Tidak ada banyak waktu lagi sekarang. Joanna harus segera memilih. Meninggalkan kendaraannya di suatu tempat terdekat dan pergi dengan menggunakan kendaraan umum, atau memaksakan diri membawa mobilnya ke bengkel dan menunggu sampai semuanya selesai diperbaiki.

Dan Joanna memilih pilihan pertama. Seingat Joanna, ada sebuah pombensin yang letaknya dekat dengan tempatnya berada saat ini. Dia bisa memarkirkan mobilnya untuk sementara waktu di sana daripada mengambil resiko Koh David akan menghadiahkannya beberapa piring terbang ketika dia muncul di hadapannya nanti, jika dia masih berkeras menunda pertemuan mereka.

Bagi Joanna, tidak ada sesuatu hal pun di dunia ini yang tak mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin ketika Adam menitipkan benihnya dalam rahimnya, namun dengan santainya dia pergi begitu saja. Padahal Joanna mengira ketika Adam mendengar kabar mengenai kehamilannya, laki-laki itu akan memeluknya erat atau mengecupnya dengan kecupan yang lama dan dalam di keningnya – sebagai bukti dari ungkapan cinta mereka yang selama ini begitu menggebu.

Namun ternyata, tak ada yang tak mungkin ketika Adam malah membuka mulutnya dan dengan teganya meminta Joanna untuk mengenyahkan benih cinta mereka itu. Tanpa perasaan. Dan ketika Joanna menolak usul Adam dengan histeris, laki-laki itu malah dengan tegasnya mengatakan bahwa dia memilih untuk mundur. Membalikkan tubuh dan lari dari situasi yang menuntut komitmennya. Meninggalkan Joanna begitu saja di sudut sana. Sendirian.

Juga tak ada yang mustahil ketika pada akhirnya Joanna mengeraskan hati untuk melahirkan Nathan. Menelan semua gunjingan dan penghakiman dari orang-orang di sekitarnya yang bahkan tak tahu apa-apa tetapi berlagak seperti mengenal dirinya sejak puluhan tahun yang lalu. Joanna menguras semua yang dimilikinya untuk bertahan demi Nathan. Kesedihannya. Sakit hatinya. Kemampuannya. Ketegarannya. Semuanya.

Ya, memang tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Tidak ada. Termasuk adalah suatu hal yang sangat mungkin, bila suatu hari nanti, ayah dari anaknya itu akan muncul kembali di hadapannya.

Seperti saat ini.

Adam berdiri di hadapannya. Wajahnya masih sama tampannya seperti dulu. Rahangnya masih sekokoh beberapa tahun lalu ketika dia memilih untuk meninggalkan Joanna. Hanya saja, kini pundaknya terlihat lebih lebar. Lebih tegap. Lebih menarik bagi Joanna untuk mendekatkan diri dan bersandar lama di sana. Seperti dulu.

Joanna masih bergeming. Membiarkan kekagetannya menyihirnya untuk tetap diam. Memasrahkan dirinya terseret dalam sepasang sorot mata yang kini tengah tertuju ke arahnya.

Kemudian Joanna merasakan matanya sendiri memanas. Ada kabut yang seketika saja memburamkan pandangannya. Terlebih lagi ketika dia melihat Adam melangkah mendekatinya. Kedua tangannya terkembang. Ada ungkapan penyesalan yang teramat sangat mencuat dari sepasang mata yang masih menatapnya lekat-lekat itu.

“Anna….”

Sudah berapa lama Joanna tak mendengar panggilan itu mampir di telinganya? Sudah berapa lama dia merindukan panggilan itu lagi dalam hidupnya? Cuma Adam yang memanggilnya dengan sebutan Anna, sementara semua orang yang mengenalnya menyebutnya dengan panggilan Jo. Cuma Adam….

Joanna membenci Adam. Dia tahu hal itu. Tapi yang Joanna juga tahu, biar sedalam apapun luka yang pernah Adam torehkan di hatinya, laki-laki itu pernah menempati tempat yang paling penting di sana. Dia bahkan telah menghadiahkannya sesuatu yang terindah yang belum pernah Joanna dapatkan sebelumnya di sepanjang hidupnya.

Nathan….

Tepukan pelan yang berulang-ulang di lututnya membuat Joanna jelas merasakan ada sesuatu tak kasat mata yang menariknya begitu kuat. Hingga bayangan Adam yang begitu nyata di depan matanya, buyar seperti genangan air yang terpercik.

“Maaf, Bu. Sudah sampai.”

Joanna mengerjapkan matanya. Tersadar sepenuhnya bahwa dia sempat tertidur dalam taksi yang ditumpanginya.

“Sebentar ya, Pak. Tunggu saya di sini sebentar. Saya akan segera keluar setelah menjemput anak saya.”

Dengan langkah limbung, Joanna turun dan mulai menyeret langkahnya yang berat. Hari ini terasa begitu melelahkan baginya. Rapat orang tua murid yang hampir bersamaan dengan janji kerjasamanya, ban mobilnya yang kempes dua kali dalam dua hari berturut-turut, rasa tak enak hati karena terlambat satu jam lebih dari janji temu yang telah disepakati dengan kliennya, menjemput Nathan kembali di sekolah, ditambah lagi dengan mimpi yang sangat tidak pernah Joanna harapkan.

Mimpi bertemu dengan Adam. Padahal sudah setahun belakangan ini Adam tak pernah sudi lagi mampir dalam bunga tidurnya itu.

Joanna menekan pelipisnya yang belum berhenti berdenyut sejak tadi. Untung saja Koh David adalah laki-laki setengah baya yang sangat baik hati. Meskipun Joanna tidak memberi kesan tepat waktu di awal mereka akan merencanakan kerjasama, Koh David sama sekali tidak kelihatan marah. Alih-alih emosi, dia malah menjelaskan pada Joanna bahwa memang seorang anak adalah prioritas utama dalam hidup yang tak boleh digeser dengan kepentingan lainnya sebisa mungkin. Penjelasan sederhana yang membuat jantung Joanna mencelos karena disergap rasa lega yang begitu luar biasa.

Joanna memandang sekitarnya. Mencari-cari letak ruang guru dan menemukannya berada di deretan sebelah kanannya. Perlahan, Joanna mengetuk pintu ruangan yang terbuka separuh dan melongokkan kepala ke dalamnya.

“Mamaaaaa!!!” teriakan Nathan dari dalam membuat Joanna tanpa sadar langsung mengembangkan senyumnya.

Nathan berlari-lari kecil menghampirinya. Lalu menarik tangan kiri Joanna untuk mengikuti langkahnya.

“Mama, Mama, Teacher Tristan ajak Nathan main puzzle. Mama ikutan yuk!” celoteh Nathan riang. Sebelah telunjuknya yang bebas menunjuk ke arah Tristan yang entah mengapa – Joanna yakin sekali – sedang bersemu merah.

“Sudah selesai janji temu dengan kliennya?” Tristan bangkit dari duduknya.

Joanna menganggukkan kepalanya dan berkata, “Sudah. Dan semuanya berlangsung dengan lancar. Terima kasih karena boleh menitipkan Nathan dan merepotkan Teacher….”

“Saya tidak merasa direpotkan, Mama Nathan.” Tristan balas tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat Joanna merasa jengah. Senyum yang rasanya baru disadari Joanna, mirip dengan senyum yang dimiliki seseorang.

“Mama ikutan main puzzle sama Nathan dan Teacher, yuk!” Nathan menggerakkan tangan Joanna yang masih berada dalam genggamannya.

“Eh?” Joanna bergumam. Teringat kembali mobilnya yang masih berada di pombensin dan harus segera dibawa ke bengkel. Kemudian Joanna berjongkok. Disetarakannya tingginya dengan putranya itu. Lalu katanya, “Lain kali ya main puzzle sama-samanya. Nathan sekarang harus temenin Mama ke bengkel dulu.”

“Mobil Mama Nathan mogok?” tanya Tristan tiba-tiba, yang dijawab Joanna dengan senyum sopan. “Perlu saya antarkan?”

“Bukan mogok. Ban mobilnya kempes. Ada taksi yang menunggu di depan. Jadi Teacher tidak perlu repot-repot mengantar kami,” Joanna menjelaskan.

“Baiklah.” Tristan menganggukkan kepalanya. “Katakan saja jika Anda membutuhkan bantuan….”

Joanna ikut menganggukkan kepalanya. Kemudian tatapannya berpindah lagi pada Nathan. “Nanti Nathan Mama beliin es krim vanila di dekat bengkel langganan Mama itu, ya?”

“Tambah es krim cokelat satu, boleh, Ma?” Nathan tampak menimbang. Raut wajahnya yang menggemaskan, membuat Joanna merasa ringan. Beban yang dari tadi menghantam kepalanya seolah raib tanpa sisa.

Sekali lagi Joanna mengangguk, mengiyakan permintaan putranya, lalu berdiri.

“Sekali lagi terima kasih, Teacher Tristan. Maaf saya terburu-buru. Banyak yang harus dikerjakan hari ini….” Joanna membungkuk samar. Mengungkapkan ucapan terima kasih lagi lewat gerakan tubuhnya.

“Tidak masalah, Mama Nathan.” Tristan masih tersenyum bersahabat. “Saya senang melakukannya untuk Anda.”

Sesaat, Joanna sempat melihat guru putranya itu seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun di detik selanjutnya, dia tampak mengurungkan niatnya.

Tidak sempat bepikir lebih lama lagi, Joanna telah melihat Nathan melambai-lambaikan tangannya seraya mengucapkan salam sampai berjumpa lagi besok kepada gurunya yang baik hati itu.

Usai itu, Joanna membalikkan tubuhnya. Namun tanpa sengaja, tas tangan yang tersampir di pundak Joanna menggeser tumpukan buku yang tampak seperti agenda di meja Tristan. Beberapa agenda itu terjatuh, menghantam lantai, dan membuat selipan kertas-kertas di dalamnya berserakkan keluar.

Joanna memekikkan kata maaf, lalu kembali berjongkok. Dengan cekatan, berusaha dirapikannya buku-buku yang dijatuhkannya, meskipun Tristan berulang kali sudah meminta Joanna tak perlu merasa tak enak karena perbuatan yang tidak disengajanya itu.

Dan pada saat itulah, Joanna melihat sesuatu yang tak pernah disangkanya. Sesuatu yang membuatnya tersentak.

Di antara selipan kertas yang berserakan itu, ada sebuah foto yang menumbuk mata Joanna. Sebuah foto di mana Tristan menjadi objeknya. Namun bukan di sana letak masalahnya. Masalahnya, dalam foto itu, Tristan tidak berdiri sendirian. Ada seseorang di samping kanannya.

Seseorang yang Joanna kenal betul. Dan biar bagaimanapun dunia mengubahnya, Joanna yakin dia tidak mungkin keliru.

Tergagap, Joanna membuka suaranya, “Teacher Tristan…,” panggil Joanna hati-hati. “Apakah Anda mengenal… – Adam….?” Kemudian tangan Joanna bergerak, mengangkat selembar foto yang membuatnya terhenyak itu dan menunjukkannya pada Tristan.

Menunggu jawabannya.

000000000

Joanna terdiam, menunggu kalimat yang akan diucapkan Tristan. Tangannya bergetar memegang foto yang menampilkan Adam dan Tristan, saling berangkulan dan tersenyum. Mereka terlihat sangat akrab.

Joanna menggeleng cepat dan mengembalikan foto tersebut kepada Tristan.

“Maafkan saya, Teacher. Sungguh lancang menanyakan hal pribadi, saya mohon lupakan perkataan saya tadi.”

Tristan mengamatinya, saat wanita yang ia cintai tersenyum meminta maaf dan menggandeng tangan Nathan hendak keluar dari ruang guru.

“Lelaki itu Adam, saudara saya,” jawab Tristan tiba-tiba yang membuat Joanna langsung berbalik dan mematung.

Hening, Joanna pun tak mampu bersuara menemukan kenyataan bahwa…

“Tepatnya, saudara angkat saya. Kami berasal dari satu panti asuhan yang sama dan Adam adalah kakak dan pelindungku.” Tristan melihat bola mata Joanna membelalak.

“Sungguh, saya sangat beruntung memiliki kakak sepertinya.”

Joanna dapat merasakan kasih sayang Tristan terhadap Adam, dan ia pun tahu yang Tristan katakan benar adanya. Joanna menganggukkan kepalanya dan tersenyum tulus.

“Saya yakin dia orang yang hebat…”

“Mama Nathan megenalinya?” tanya Tristan

“Eh… Dia… Mirip dengan kawanku, kebetulan namanya sama ya, sungguh aneh,” jawab Joanna tergagap.

Segera Joanna pamit dan menggandeng Nathan keluar dari ruang guru dan saat sosoknya hilang di sudut ruangan, Tristan duduk dan mengamati fotonya. Ingatannya berputar, mengingat masa-masa kecilnya di panti asuhan.

Kala itu usianya 6 tahun dan ia diejek oleh geng anak panti karena tidak pernah sekali pun dilirik orangtua asuh untuk diangkat anak. Tristan hanya bisa menangis dan memanggil ibu yang tak dimilikinya. Kejadian itu membuat Tristan tidak percaya diri saat berhadapan dengan orangtua asuh. Sampai sosok Adam menantang anggota geng untuk berhenti menganggu Tristan dan membiarkannya sendiri. Adam tak gentar walau kalah jumlah dan ia berhasil membungkam anak panti untuk berhenti menganggui Tristan.

“Te..terima kasih, ka..kakak..” suara Tristan terputus-putus sambil sesekali terisak.

“Sudah, jangan menangis. Siapa namamu? Namaku Adam, 9 tahun. Aku sering melihatmu diganggu dan aku tak suka mereka sok berkuasa, menindas anak panti yang belum diangkat anak,” jawab Adam menepuk pelan bahu Tristan, menyuruhnya berhenti menangis.

“Namaku Tristan, 6 tahun.”

“Aku selalu ingin punya adik, kau bersedia? Kulihat kau juga tak pernah bergaul dengan anak panti lain. Ayo, ku perkenalkan kau dengan teman-teman yang lain.”

Dan walau Tristan belum menyetujuinya, mulai saat itu ia resmi menjadi adik Adam. Tristan akan selalu dijaga Adam, baik saat ia diganggu anak panti atau pada saat orangtua asuh datang untuk melihat-lihat anak. Adam banyak mengajarinya untuk bersikap berani, melindungi diri sendiri dan berhenti bersikap cengeng. Adam sungguh-sungguh menyayanginya layaknya adik kandung dan Tristan sangat bahagia, mempunyai kakak.

Kebersamaan mereka sampai usia Tristan 9 tahun dan Adam 12 tahun, saat Adam diangkat anak oleh sepasang orangtua asuh kaya. Adam memberikannya sebuah kalung berbandul kerang, sebagai benda kenang-kenangan. Ia berjanji tidak akan pernah melupakan Tristan dan suatu saat akan menjemputnya dari panti asuhan.

Tristan setia menunggu Adam, dan tidak pernah lagi bersikap malu-malu ketika berhadapan dengan orangtua asuh. Adam tidak jua muncul-muncul dan pada usia Tristan 12 tahun, ia diangkat anak oleh orangtuanya sekarang.

Adam memang datang, tapi kala ia berusia 19 tahun dan mengunjungi panti untuk bertemu Tristan. Suster kepala panti mengatakan Tristan sudah diangkat anak dan tidak mau memberikan alamatnya kepada Adam karena itu adalah data rahasia dari orangtua asuh. Adam tak berputus asa, mencari Tristan di sekolah-sekolah, juga meminta orangtua angkatnya mencarikan Tristan. Usahanya berhasil, ia menemukan Tristan terdaftar di SMU Bina Harapan, bekas SMA-nya. Dan Adam mengenalinya, berbekal kalung berbandul kerang dan juga rahasia-rahasia yang hanya mereka yang tahu.

Sebenarnya Adam ingin membiayai sekolah Tristan sampai selesai kuliah namun dengan halus ditolaknya. Tristan akan mencari sendiri biaya tambahan, termasuk mendaftar sebagai guru di TK Nathan. Siapa sangka ia akan bertemu dengan wanita yang ia idamkan, termasuk wanita itu mengenali Adam pula. Bukankah Mama Nathan mengatakan keduanya mempunyai nama yang kebetulan sama, tapi Tristan yakin Adam mereka adalah orang yang sama.

Sekarang Adam berada di Amerika, kapan ya dia pulang? Tristan menyimpan fotonya dengan hati-hati dan menyambungkan laptopnya pada sambungan Wi-fi. Dibukanya Yahoo! Messenger dan pesan offline masuk dari Adam.

“My Little Brother! Kabar gembira, aku akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Kalau sempat datanglah menjemputku di bandara. I really miss you Bro.”

Senyum Tristan mengembang, tak sabar ingin bertemu kakaknya. Mungkin mengajak Mama Nathan untuk bertmeu dengan Adam adalah ide bagus. Ia tak sabar ingin memberitahukan Mama Nathan esok hari.

Keesokan harinya Joanna datang mengantar Nathan seperti biasanya dan memohon bantuan Tristan untuk menjaga anaknya. Wanita itu terkesan menghindarinya dan Tristan tak ingin berprasangka bahwa Mama Nathan menghindarinya karena ia dan Adam adalah kakak adik. Walau pun ada hubungan antara Adam dan Mama Nathan, Tristan tak ingin ikut campur yang bukan urusannya. Hanya saja, hatinya sakit melihat wajah Mama Nathan yang berubah kelam tiap kali menatapnya. Apakah yang terjadi antara Adam dan Mama Nathan sebenarnya? Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk dalam benak Tristan dan tak ada yang menjawabnya. Tristan bertekad untuk mencari tahu, rahasia yang tercipta antara Mama Nathan dan kakaknya.

Di lain pihak Joanna merasa bersalah, menghindari Tristan yang tak tahu apa-apa. Joanna ingin meminta maaf dan menungu sampai jam sekolah selesai, ia menanti Tristan yang masih berada di kelas. Joanna berdiri di ruang guru.  Matanya menangkap layar laptop Tristan yang menyala dengan Yahoo! Messenger, menampilkan pesan baru atas nama Adam.

“Little Brother! Aku sudah sampai dengan selamat. Pesawatku hampir saja jatuh, kau tahu, suasananya sangat mencekam. Nantilah kuceritakan lengkapnya, kutunggu kau di bandara. I can’t wait to meet my little brother!”

Joanna mencerna tiap kata yang tertulis. Pesawat Adam jatuh? Apakah dia menjadi korban? Perasaannya terguncang dan ia nyaris menangis. Joanna berlari ke luar ruang guru dan bertabrakan dengan Tristan yang hendak masuk.

“Mama Nathan, ada apa? Mengapa menangis?”

Joanna menutup wajahnya “Adam.. Dia.. dia kecelakaan…”

“Hah?” Segera Tristan berlari ke mejanya dan mengecek pesan Adam. Dihembuskannya nafas lega. “Tadi pesawatnya sempat bermasalah Mama Nathan, tapi Adam baik-baik saja. Sekarang ia sudah tiba dengan selamat dan saya akan menjemputnya di bandara.”

Joanna mengangkat kepalanya “Jadi… Dia baik-baik saja, kan?”

“Ya, dia sehat walafiat. Mama Nathan ingin bertemu dengannya?” ajak Tristan.

Joanna menggeleng dan pamit untuk membawa Nathan pulang. Hatinya lega ayah putranya tidak mengalami musibah, tapi akhirnya ketakutannya menjadi nyata. Adam telah kembali.

Tristan menyimpan buku-bukunya dengan cermat dan juga laptopnya. Dibereskannya meja lalu mengambil kunci motor Scoopy-nya. Ia yakin, Mama Nathan mengenali Adam sehubungan dengan reaksi wanita itu yang tampak begitu terguncang.

00000000000

Sore harinya Tristan sengaja pulang ke rumah sekedar meminjam jeep orangtuanya. Padahal jarang sekali ia bersedia menggunakan barang-barang milik orangtua angkatnya, apalagi kendaraan beroda empat itu. Kalau tidak karena kedatangan Adam yang meminta dijemput di bandara ia lebih nyaman dan terbiasa menggunakan motor yang dibeli dari hasil kerjanya selama ini. Apalagi Jakarta memang rawan macet.

“Antar aku ke hotel Sangrila, Tan.” Ucap Adam setelah memindahkan koper dari troli ke dalam bagasi jeep berwarna cokelat tua milik Tristan.

“Hotel, why? bukannya tinggal di apartemenku akan jadi lebih nyaman,Bang?”
“Aku tau apa yang ada di otak kamu, sejak kapan keluargaku khawatir masalah uang,hah?” Adam tergelak sambil menyikut lengan Tristan yang mulai konsentrasi menyetir mobilnya.

Tristan pun tertawa sambil melirik lelaki berdagu panjang, rambut sedikit ikal yang mengenakan kaos polo berwarna putih dibalut blazer berwarna abu-abu. Lalu Tristan berkata,” I see…aku pikir kau merindukanku.  Ah iya, aku mau tanya Abang kenal dengan seorang perempuan ber,…Tiba-tiba Tristan menghentikan pertanyaanya.

“Perempuaan apa?” Adam yang dari tadi mulai sibuk dengan ponselnya menoleh ke arahnya.

“Ah tidak, lain kali saja.” Tristan sadar kalau abangnya itu pasti mengenal banyak wanita jadi tidak aneh kalau lelaki itu pun dikenal oleh Mamanya Nathan. Parahnya, Adam jarang sekali ingat dengan wanita yang pernah ia kenal. Jadi, kemungkinan pertanyaan itu tak banyak membantu rasa keingintahuannya.

“Hmm…Oke,”

See…lelaki ini jarang penasaran dengan keberadaan seorang perempuan. Wajah rupawan postur tubuh menawan, harta berlimpahan. Menurut surat kabar yang sering dibacanya Adamlah pewaris satu-satunya Wijaya Hospital. Rumah sakit milik orangtua angkatnya, orangtua yang tidak pernah menganggapnya anak angkat. Itulah keberuntungan dalam hidupnya.

—————

Seperti biasanya Nathan terlalu asyik dengan kartas gambar di depannya. Sementara Joanna sibuk di dapur sambil merutuki kebodohannya . Ia masih berdiri termangu mengingat peristiwa di ruang teacher Tristan. Kenapa ia harus menyempatkan diri untuk khawatir terhadap laki-laki yang sudah lama ingin ia lupakan.

Apakah aku masih peduli padanya? Ah, aku berharap aku salah.

“Ma, susunya tumpah tuh.” Seloroh Nathan yang tiba-tiba sudah berada di dapur, berdiri di samping meja tempatnya berdiri. Ia segera meraih kain lap yang tergantung di atas washtafel tempat cuci piring, lalu dilapnya ceceran air yang berasal dari gelas keramik bergambar Winie The Pooh. Barusan ia sedang membuat segelas susu buat putra semata wayangnya. Ternyata ia tidak sadar kalau air yang ia tuang meluap kepenuhan. Setiap malam Nathan harus minum susu sebelum tidur. Biasanya ia selalu rewel kalau merasa lapar. Untuk itulah Joanna membiasakan putranya minum susu sebelum tidur.

“Tugas mewarnainya sudah selesai, Sayang?” ucapnya mengalihkan perhatian Nathan, agar ia tidak menyadari kalau mamanya sedang melamun. Anak itu pasti akan bertanya tentang alasan kenapa susunya bisa sampai tumpah. Nathan tidak menjawab pertanyaan Joanna hanya memberi isyarat dengan anggukan kepala saja.

“Ya sudah, ayo cepetan ke kamar. Nathan harus cepet bobo, besok ngga boleh telat bangun.” tanpa perlu banyak bicara Nathan mengikuti langkah mamanya yang masih mengenakan pakaian kerja. Ia bahkan belum sempat mandi. Sepulang dari bengkel ia langsung mengurus rumah, memasak lalu mengurus Nathan hingga tertidur. Barulah ia bisa tenang mengurus dirinya sendiri. Sesampainya di kamar, Nathan meneguk habis susunya. Lalu naik ke atas ranjang bergambar Winnie The Pooh di bagian kepala. Joanna merapatkan selimut putranya lalu menungguinya sebentar hingga tertidur. Tidak perlu waktu lama karena anak itu mudah tertidur kalau sudah minum susu.

Setelah mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan cahaya redup, Joanna melangkah menuju meja belajar Nathan. selembar kertas bergambar pemandangan, lengkap dengan gambar pelangi di atas bukit telah selesai diberi warna. Nathan seperti ayahnya suka melukis di waktu senggang.
Ah, ia mengerjapkan matanya saat tersadar pikirannya kembali ke lelaki itu. Namun saat bersamaan pandangannya tertumpu pada sebuah gantungan kunci yang ternyata telah dikaitakan di tas sekolah Nathan. Gantungan kunci berwarna merah marun berbentuk kerangka tubuh Anjing. Hanya kerangkanya saja. Gantungan kunci yang bisa digunakan sebagai pembuka tutup botol soft drink . Entah dari mana anak itu bisa menemukan benda yang ia sendiri tak lagi mengingatnya.

Adam sedang duduk di tangga kampus sementara tangan kokohnya sibuk mengaitkan kunci mobil milik Joanna pada sebuah gantungan berbentuk kerangka organ anjing.

“Dimanapun kamu  berada benda ini yang akan selalu menjagamu, understand? Dimanapun aku berada peganglah benda ini lalu sebut namaku. Aku pasti ngerasa.” Adam menggenggam tangan Joanna erat, berusaha meyakinkan perempuan yang akan ditinggalkan berlibur ke Amerika menyusul kedua orangtuanya. Saat itulah ia merasakan dengan jelas kehangatan dari perhatian yang Adam berikan. Setelah gantungan itu terkait dengan sukses, Adam menaruhnya di telapak tangan Joanna.

“Eng ing eng…” sorak Adam sambil mengeluarkan gantungan kunci yang sama. Mata Joanna berbinar saat menatap gantungan yang serupa itu. “ ini adalah gantungan kunci hati kita, kemanapun kita pergi hati kita sudah terkunci untuk ke lain hati.” Adam melanjutkan ucapannya.

————-
“Adam,” setengah sadar Joanna menyebut nama itu. Kembali lagi ingatan masa dimana mereka masih baik-baik saja. tentu sebelum peristiwa yang menyebabkan dirinya membenci Adam. Lelaki yang sempat terpikir sebagai suaminya. Suami? Ah, lelaki pengecut itu sempat aku inginkan sebagai suami? rutuknya.

Adam memandangi sebuah gantungan kunci di tangannya. Ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Apakah saat ini dia sudah menikah, apakah ia bahagia dengan pernikahannya, lalu bagaimana nasib janin yang di kandungannya, janin yang merupakan darah dagingnya. Sudah digugurkan atau kini justru tumbuh menjadi anak yang lucu. Meninggalkannya adalah hal terbodoh sepanjang hidupnya. Namun mengabaikan permintaan kedua orangtuanya juga menjadi hal terburuk yang akan mereka terima.

Treeet!!!  Adam mendengar ada yang menekan bel di luar kamarnya. Sebuah kamar hotel mewah kelas 1;  lantainya dialasi karpet berwarna keemasan. Lalu dia bangkit dari ranjang yang dibalut seprei berwarna putih.

“Sate…” Seru seorang lelaki dari belakang pintu yang baru ia buka. Tristan menunjukan  dua kantong pelastik berisi sate dan kantong di tangan kanan berisi soft drink.

Wajah Adam berisyarat yang artinya menyuruh Tristan masuk. Sate sebenarnya ia tidak begitu suka dengan makanan itu. Namun, sejak ia mengenal Joanna ia pun terbiasa menyantapnya. Tristan mengira kalau sate adalah makanan favorit Adam karena setiap kembali ke Indonesia selalu menyempatkanuntuk menyantap menu itu. Tristan tak pernah tahu kalau sate hanya suatu alasan untuk mengenang Joanna. Ia selalu merasa wanita itu di dekatnya saat memakan sate.

__________

Joanna segera mengangkat telepon genggamnya setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel itu. “ Teacher Tristan”
Rasanya masih terlalu pagi Guru itu menelepon dirinya. Tadi pagi guru Nathan tidak menyampaikan apa-apa.
“Hallo, selamat pagi Teacher Tristan.”

“Selamat pagi, Mama Nathan. Maaf mengganggu. Begini, saya mau memberitahukan  kalau Badan Nathan panas jadi saya memutuskan membawa Nathan ke klinik anak, cuma di sebelah sekolah kok. Mama Nathan mau jemput dia sekarang atau sementara di sini dulu? Sekarang panasnya sudah turun  jadi tidak perlu cemas.” Tristan berusaha menjelaskan dengan penuh hati-hati karena takut Joanna cemas.

Terimakasih banyak Teacher. Kebetulan saya juga baru selesai ketemu klien tidak jauh dari school kok. Limabelas menit saya sampai di klinik.”

Setelah menutup ponselnya Joanna bergegas menuju car park . Ia ingin segera melarikan mobilnya menuju sekolah Nathan. Menjemput buah hatinya yang kini sakit. Ia benar-benar merasa berdosa. Apalagi kemarin sore anak itu sempat kehujanan. “Maafkan mama, Sayang.” Desisnya, refleks Joanna tancap gas, belum satu meter mobilnya maju, tiba-tiba sebuah luxgen hitam muncul dari arah samping tanpa sepengetahuannya.

Brakk!! suara benturan itu terdengar cukup keras. “Shitt...” Umpat wanita itu keras. Lalu  Joanna turun dari mobilnya di barengi pemilik Luxgen yang ia tabrak. Namun mereka sama-sama mematung saat mengetahui siapa pemilik mobil di hadapan mereka.

“Anna…” Suara khas itu, panggilan khas itu, bahkan sosok itu….

00000000000

Joanna sudah siap dengan berliter makian sampai suara yang terlalu dikenal menyetakkannya. Ia terpaku. Bisu dan serasa membatu. Seorang pria yang memiliki figur yang sama persis seperti mimpinya. Tetap setampan dan semenawan dahulu, saat cinta masih menjalin kasih. Pria yang diam-diam dirindukan dalam derai tangisnya sesekali. Dan seorang ayah bagi buah hati yang dengan sampai hati ditinggalkannya. ADAM.

Mulutnya menganga dan tidak sempat menutupnya, matanya telah memburam. Ada buncah rindu dan keinginan untuk bersandar dipelukannya, namun langkah mengenggankan.

“Anna…,” bisiknya kembali, haru menguasai hatinya.

“Dam…,” Joanna masih tidak bisa berkata-kata.

Joanna berbalik menghindari Adam meskipun terlambat karena telah tertahan oleh tangan kokoh itu.

“Jangan pergi,” pintanya lirih.

“MAU APA LAGI, DAM?” bentaknya pedih, ada seberkas marah yang masih mendera rasanya. Kecewa dikhianati. Marah dicampakkan. Dan sedih karena masih tersisa cinta itu.

“Anna, biarkan aku berbicara denganmu!”

“TIDAK!” jerit Joanna membalikkan tubuh dan memandangnya nanar.

“JANGAN GANGGU AKU LAGI!” sambungnya seraya menghempaskan pegangan Adam.

“Ehmm..,” ia mengumam seraya memadang Tristan, meminta penjelasan.

“Oh.. ini Joanna, Mama Nathan, siswaku yang lagi sakit.” Tristan menjelaskan sambil menujuk Nathan yang baru saja terlelap. Adam memandang seorang anak lelaki lucu dan menggemaskan itu, meneliti setiap inci tubuh saat kaki membawa langkahnya untuk tiba di samping Nathan. Joanna hanya terdiam, dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, Adam adalah ayah biologis Nathan dan di lain sisi, ia sangat mengharamkan kedatangan ayah bagi Nathan. Adam tidak pantas menemui anaknya, ia telah mencampakkan mereka. Dirinya dan Nathan.

“Bang…,” seru Tristan mengernyit. Ia jelas merasa aneh dengan tingkah abangnya yang baru pulang dari Amerika. Tiba-tiba saja ia tertarik dengan seorang anak kecil yang baru saja ditemuinya.

Joanna menangis dan hal ini semakin membuat kernyit Tristan semakin dalam. Ada apa dengan mereka? Adam yang tiba-tiba terbengong-bengong menghampiri Nathan. Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa Nathan sangat menggemaskan dan sedang lucu-lucunya. Dan si wanita pujaan, Joanna menangis sesegukan saat melihat Adam mendekati anaknya. Apa yang terjadi?

“Lho, mama Nathan? Kenapa?” tanya Tristan menghampirinya. Joanna menggeleng. Ia ingin membantah kecurigaan yang terpancar di wajah Tristan, tapi mulutnya tidak sanggup terbuka.

Adam memandang lekat malaikat kecil itu dengan seksama. Tangannya telah terulur untuk membelainya namun mendengar gumam kecil, ia mengurungkan niat. Bibirnya mengulas senyum kecil saat memandang hero kecil itu tersenyum dalam tidurnya seraya bergumam, “Teacher tristan.” Ia tersentak kaget. Dalam benak kecilnya, tidak ada kamus yang berarti papa. Ia yang bersalah telah mencampakkan malaikat mungil itu. Rasa sesal, kesal, marah, dan berbagai kepedihan menjangkiti hatinya. Kepada dirinya sendiri, ia menyalahkan. Air mata hampir saja membuat jiwa prianya terlihat lemah, cepat-cepat disusutkannya.

Kemudian, ia melangkah pergi tanpa memedulikan tatapan kedua pasang mata itu.

===

“Bu, lihat Pak Tristan?” tanya Cherry cemas. Semenjak pagi ia tidak melihat guru itu.

“Oh, Pak Tristan terburu-buru tadi ngantar Nathan yang lagi sakit ke klinik.”

“Oh, makasih Bu.”

UH! Nathan lagi! Dumelnya dalam hati. Ia memang tidak menyukai kehadiran Nathan, tepatnya mama Nathan yang selalu diperhatikan oleh Tristan. Bukannya Cherry tidak menyadari, namun ia selalu berpura-pura tidak mengetahui perhatian Tristan yang terlalu berlebih kepada Nathan, terutama mamanya.

Cemburu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Selama bertahun-tahun Cherry mencintai Tristan tanpa diketahuinya atau pura-pura tidak tahu? Sekeras apapun usahanya, tidak pernah pandangan Tristan berpaling padanya. Seperti kisah Pohon, Daun, dan Angin. Akankah Cherry menjadi daun. ‘Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?’

Dan Cherry sangat tidak berharap menjadi Daun dalam cerita itu. Sungguh menyedihkan jika demikian. Ia harus bersanding dengan yang lain sementara hatinya telah direbut oleh Tristan.

Dugaannya benar, Tristan tinggal untuk menjaga Nathan untuk kesekian kali karena mama Nathan. Sebelum memasuki klinik, ia bertabrakan dengan seorang pria tampan namun terisak tangis. Sungguh aneh!

Cherry mengendikkan bahunya dan berjalan menuju ruangan yang ditempati Nathan setelah bertanya di bagian informasi. Paras cantiknya memerah saat mendapati mama Nathan dan Tristan yang sedang duduk berdampingan. Mama Nathan terlihat sesegukan sambil dihibur oleh Tristan yang tengah mengambilkan minuman untuknya.

“Minum dulu, mama Nathan…” tutur Tristan lembut sembari menyodorkan gelas kepadanya.

“Pak Tristan!” seruan Cherry menyentakkan Tristan sehingga ia harus menggeser posisinya yang terlalu dekat dengan Joanna yang sudah tidak menyadari, sebab tenggelam dalam kesedihan yang tidak juga dimengerti oleh Tristan.

“Ada apa Bu Cherry?” tanyanya polos dan formal.

UGH! Sial! Masih gak sadar yah kalau aku cemburu! Dasar Tristan BODOH! Makinya dalam hati. Kesal!

sumber : http://www.wattpad.com/2680368-di-ujung-pelangi

Bersambung


%d blogger menyukai ini: