Bunga Dandelion

Bunga Dandelion

Apa kau mengenal bunga dandelion? Mungkin dia cuma bunga kecil yang tumbuh di pinggir jalan dan tak pernah menarik perhatianmu. Tapi tahukah kau, dia bunga yang tegar?

Dia. Si topi putih yang lemah. Yang nyaris terlupakan di antara semarak warna-warni bunga lain yang jelita. Namun dia tak kenal kata menyerah. Meskipun diterbangkan angin tak tentu arah, jatuh di tanah yang gersang, di tepi jalan berbatu, dihimpit semak berduri, tapi dengan tegar, dia akan mencari setitik celah dan berjuang untuk tetap hidup.

Dia tak pernah berhenti berusaha. Tujuan hidupnya hanya satu. Setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti, sejauh apapun dia telah pergi, dia akan kembali.

Dia akan kembali lagi ke tempat dari mana dia berasal. Dia pasti kembali. Untuk berterima kasih.

Itu janjinya.

Aku tak pernah benar-benar tahu pasti tanggal ulang tahunku.

Mungkin kau bertanya-tanya, bagaimana bisa aku berkata demikian. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak mengada-ngada. Aku serius. Karena aku benar-benar tak tahu. Atau tepatnya, tak pernah diberi kesempatan untuk tahu.

Menurut cerita yang kudengar, beberapa belas tahun yang lalu, di suatu malam tanggal 15 Desember -tanggal yang pada akhirnya dinobatkan sebagai tanggal ulang tahunku oleh Bunda-, ketika seorang wanita separuh baya berjalan pulang tergopoh-gopoh sambil menenteng dua keranjang kue buatannya yang tidak habis terjual, dia melihat sebuah peti telur usang teronggok di salah satu sudut rumahnya. Dia merasa heran, siapa yang meletakkan peti itu di depan gubuk tuanya yang reyot. Kemudian belum sempat dia berpikir lebih lama, bersamaan dengan suara halilintar yang memecah keheningan malam itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang menggelegar.

Wanita itu melarikan langkahnya, sesegera mungkin melongokkan kepalanya ke dalam peti itu, dan melihat seorang bayi mungil sedang menangis meraung-raung. Tubuhnya hanya terbalut sebuah kain putih tipis. Tangan kecilnya terkepal menggapai-gapai udara. Dengan tumpukan jerami dan rerumputan yang menjadi alas tidurnya, seorang bayi mungil telah ditinggalkan di sana. Di depan sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang wanita yang hanya hidup berdua bersama suaminya.

Mendengar tangisan yang begitu lirih, tanpa pikir panjang wanita itu segera meletakkan dua keranjang kue sumber penghasilannya begitu saja dan merengkuh makhluk mungil itu dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. Dia membawanya masuk, mengganti kain tipis yang melingkupi tubuh bayi itu dengan selimut yang hangat.

Lalu ketika suaminya pulang ke rumah setelah seharian mengayuh becak tuanya dan mendengar penjelasan istrinya tentang bayi mungil yang tengah didekap erat-erat di dadanya itu, mendadak laki-laki itu menangis. Dia menangis dengan begitu terharu. Mulutnya langsung berkata-kata, menaikkan rasa syukur, karena katanya, dia tahu, Tuhan telah menjawab doanya. Doa manusia biasa yang selalu berharap dapat dikaruniai seorang anak. Sebab hampir lima belas tahun usia pernikahannya, belum pernah ada kehadiran tangis bayi dalam rumahnya yang tua dan sepi.

Berhari-hari pasangan itu berharap cemas. Memasang telinga dan membuka mata lebar-lebar untuk mencari tahu apakah ada berita kehilangan anak yang tersebar di sekitar pemukiman mereka. Tapi tahun demi tahun berlalu. Tak pernah terdengar segelintir beritapun tentang orang tua yang kehilangan bayi mereka.

Bayi mungil itu. Bayi perempuan bertubuh lemah. Yang terbuang tanpa sebab yang jelas. Yang karena takdir, telah dipertemukan dengan pasangan tua yang telah sekian lama mendambakan kehadiran malaikat kecil. Yang pada akhirnya datang diam-diam dan mengisi hari-hari mereka. Menjalin hubungan seperti layaknya orang tua dan anak, yang meski tak diikat oleh pertalian darah, namun menjadi tak terpisahkan oleh Sang Waktu.

Dua belas tahun kami hidup dalam limpahan kebahagiaan. Sekalipun kami bukan hidup dengan gelimangan harta. Meski menu makan malam kami mungkin hanya sepiring nasi hangat tanpa lauk, kami adalah orang-orang yang tak semiskin seperti apa yang kelihatan.

Aku bangga pada Ayah dan Bunda. Yang biarpun hanya memiliki sedikit dari penghasilan mereka mengayuh becak dan menjual kue, mereka dengan rutinnya selalu menyumbangkan hampir separuh dari pendapatan mereka yang tak seberapa itu ke sebuah panti asuhan yang terletak tak jauh dari rumah kami.

Bunda selalu mengajarkan padaku, ketika hatimu tergerak untuk memberi, jangan tunggu sampai kau hidup dalam berkelimpahan. Tapi lakukanlah itu ketika hidupmu masih dalam kekurangan. Karena memberi dari kelebihan itu adalah biasa, sedangkan membagi dari kekuranganlah yang bisa dikatakan sebagai suatu hal yang luar biasa.

Tatkala mendengar untaian perkataan Bunda pada suatu sore di perjalanan pulang kami menjual kue di stasiun itu, aku tak tahan lagi untuk tidak memeluknya. Dan bunda hanya balas mengusap kepalaku dengan lembut seraya berkata lagi,

“Suci…, maafkan Ayah dan Bunda ya…?”

Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya.

“Minta maaf untuk apa, Bunda?”

“Maaf karena kami tidak dapat memberikan kehidupan yang layak buatmu.” Ada kegetiran yang mencuat di suaranya yang serak. “Maaf karena kami cuma bisa memberikanmu makan nasi tanpa lauk setiap harinya. Maaf karena kamu tidak mampu menyekolahkanmu. Maaf karena kami tidak sanggup memberikan baju-baju bagus untukmu.”

Kutatap Bunda tanpa berkedip. Merasakan ada genangan yang mulai menyeruak keluar dan membasahi bola mataku.

“Suci nggak akan memaafkan Ayah dan Bunda.” kataku.

Bunda memandang lurus-lurus ke arahku. Rasa pilu membayang di dua jendela jiwanya yang terlihat jelas olehku.

“Karena nggak ada yang perlu dimaafkan.” lanjutku. Jelas melihat Bunda menahan nafasnya. “Ayah dan Bunda adalah dua hadiah terindah yang Tuhan berikan buat Suci. Kalian nggak pernah salah. Karena itulah, nggak ada yang perlu Suci maafkan.”

Lalu di bawah temaram langit malam yang mulai merangkak datang, Bunda menangis. Merangkulku dengan lumuran cinta yang tak bisa dibandingkan dengan luasnya jagad raya.

Itulah hidupku. Indah. Dan nyaris sempurna.

Namun kesempurnaan yang kukira akan senantiasa mewarnai hari-hari kami sampai selamanya itu seakan terenggut oleh waktu tatkala seorang dokter di sebuah puskesmas yang kami kunjungi setelah beberapa hari aku jatuh sakit, mengatakan serangkaian kalimat yang selanjutnya meluluh-lantakkan hati Ayah dan Bunda.

Leukimia.” vonisnya. “Kanker darah. Ganas. Stadium akhir. Anak anda harus dibawa ke rumah sakit di pusat kota untuk mendapatkan perawatan. Di puskesmas ini segala fasilitasnya terbatas.”

Aku tak terlalu tahu istilah-istilah yang disebutkan dokter tua berkacamata itu. Karena seperti yang kau ketahui, aku tak pernah mengecap pentingnya ilmu pendidikan yang membatasi pengetahuanku. Tapi yang kutahu, pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi padaku. Sesuatu yang mengerikan. Sebab begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki bijaksana itu, wajah Ayah dan Bunda langsung pucat seputih kertas.

Sudah beberapa hari ini aku memang merasa tersiksa. Seperti ada sesuatu yang mencabik tubuhku dari dalam. Membuatku mimisan dan sekujur tubuhku dipenuhi lebam. Tapi mengapa melihat air muka Ayah dan Bunda saat ini membuatku terasa jauh lebih tersiksa?

Aku menggerakkan tubuhku. Memaksa berdiri di antara Ayah dan Bunda yang masih duduk menghadap dokter berjubah putih itu.

“Dokter.” panggilku. “Suci pasti sembuh…. Bilang sama Ayah dan Bunda, Suci cuma sakit biasa dan pasti bisa sembuh. Pasti bisa sembuh, kan?”

Hening.

Tak ada jawaban.

Kemudian untuk alasan yang tak pernah kuketahui, Ayah dan Bunda menangis. Herannya lagi, dokter di hadapanku itu pun ikut-ikutan menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya aku melihat dua tetes air ikut jatuh di atas meja prakteknya.

‘***

Terkadang, banyak hal di dunia ini yang terjadi tanpa mampu kita ketahui bagaimana akhir ceritanya. Banyak pula kisah yang tak bisa berakhir dengan akhir yang bahagia seperti kisah dalam dongeng. Sekalipun demikian, dengan lantang kukatakan kepadamu, meskipun dalam hidupku selama dua belas tahun ini mungkin tak kau lihat sebagai sesuatu yang sarat makna, kutegaskan, aku bahagia.

Aku sangat bahagia sekalipun Tuhan tak berkenan membiarkanku bertemu lagi dengan kedua orang tua kandungku. Aku bahagia diasuh oleh dua orang paling mulia yang pernah hadir mengisi hari-hariku. Aku bahagia dengan sepiring mie rebus yang disajikan oleh Bunda dan sebuah kue ulang tahun yang dibentuk sedemikian rupa dari nasi putih hangat oleh Ayah di setiap ulang tahunku yang tak pernah mereka lupakan.

Hanya satu penyesalanku saat ini.Aku menyesal ketika menyadari bahwa aku tak punya cukup waktu lagi untuk sekedar membalas budi dan menemani mereka di hari tua.

“Jadilah seperti bunga Dandelion, Suci….” bisik Bunda di telingaku. Suaranya yang basah menahan tangis membuat tengkukku meremang.

Aku menggumam tak jelas. Setengah mati kucoba menggerakkan tanganku yang terkulai di pangkuanku, tapi tak berhasil. Padahal aku ingin sekali menghapus air mata yang mengalir turun di kedua belah pipi Bunda yang telah dipenuhi dengan lipatan.

“Menjelmalah seperti bunga mungil bertopi putih itu.” Bunda melanjutkan sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sekumpulan rerumputan hijau yang terbentang di hadapan kami. Duduk berdua di depan rumah ketika sore menjelang sudah menjadi ritual yang kami lakukan setelah dokter berjubah putih itu memvonisku bahwa aku terjangkit penyakit mengerikan itu. Bunda berhenti dari kegiatannya menjual kue dan melimpahkan semua waktunya hanya untuk menemaniku.

“Yang meskipun bertubuh lemah, terbuang, dan nyaris tak pernah diperhatikan karena bentuknya yang tidak istimewa, dia tidak pernah menyerah. Ketika angin menerbangkannya, dia akan melintasi angkasa dan mungkin akan terjatuh di tanah gersang, di atas jalan berbatu, dihimpit semak berduri, tapi dengan tegar, dia akan mencari setitik celah dan berjuang untuk tetap hidup. Dia tak pernah hidup untuk menyerah….”

Kukerjapkan mataku yang terasa panas. Menangkap siluet bunga-bunga putih mungil yang menyembul di antara rerumputan hijau di hadapan kami dan meresapi kata-kata Bunda yang menyentuh relung hatiku yang paling dalam.

“Suci- sayang-…Bunda.” Bibirku bergetar. Sudah hampir dua bulan berlalu dan penyakit itu merenggut seluruh kemampuanku untuk beraktivitas. Bahkan untuk sekedar berucap kata.

Bunda bangkit berdiri. Masuk kembali ke dalam rumah sambil menahan isaknya. Kuawasi gerak-geriknya dari sudut mataku yang seolah menorehkan luka dalam-dalam di hatiku.

Dan aku melihatnya. Mengobrak-abrik isi lemari pakaian usangnya dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya.

“Kita ke kota ya, Suci.” katanya. Mendekatiku kembali dengan air matanya yang berlinang-linang. “Bunda bawa semua yang Bunda punya. Semuanya. Kita pergi ke kota ya? Bunda bawa Suci berobat. Biar Suci sembuh. Kalau nggak cukup uangnya, Bunda bakal memohon sama Dokter di sana buat sembuhin suci. Gimana pun caranya. Biar Suci bisa sama-sama Bunda jualan kue lagi. Biar Suci masih bisa tungguin Ayah pulang dan makan malam sama-sama lagi. Biar Suci bisa rayain ulang tahun lagi. Meskipun cuma dengan sepiring mie rebus dan kue ulang tahun dari nasi putih…. Tapi kalau Suci sembuh, Ayah dan Bunda janji. Bunda janji akan buatin mie goreng paling enak buat Suci. Ayah janji akan beliin Suci kue ulang tahun yang besar. Sebesar ini.”

Kulihat Bunda menggerak-gerakkan tangannya dan berkata-kata tanpa sempat mengambil nafas. Membuat dadaku terasa sesak dan bendungan di mataku roboh begitu saja.

“Kado terindah buat Suci- adalah Ayah- dan Bunda….” Segenap tenaga yang tersisa di tubuhku, kukerahkan untuk mengangkat tangan dan menyentuh pipi keriput Bunda. “Bertemu dengan Ayah dan Bunda- adalah harta tak ternilai- buat Suci….”

Aku menelan ludah dengan susah payah.

“Bunda….” Kusentuh punggung tangan Bunda dengan sayang. “Suci mau… jadi bunga- dandelion.” kataku. Terbata-bata. “Yang meskipun diterbangkan angin- dan hidup di tanah yang gersang, Suci nggak akan- berhenti berusaha. Tapi Bunda harus yakin-, setinggi apapun Suci pergi, sejauh- apapun, suatu hari nanti, Suci pasti kembali…. Kembali- ke tempat di mana Suci berasal. Itu- janji Suci. Janji bunga Dandelion….”

“Bunda mau Suci sembuh….” Dia terisak. Membiarkan gumpalan awan kelam merayap pelan di atas kepala kami dan menambah kesan sendu yang tak terungkapkan dengan kata-kata. “Bunda mau Suci ada di sisi Bunda selalu….”

Aku tersenyum. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirku saat itu. Juga masih dalam diamku saat melihat sosok tua itu melangkah limbung dari kejauhan, merapatkan becak tuanya, dan tergesa-gesa menghampiriku yang terduduk di depan pintu rumah bersama Bunda.

“Suci- nggak pernah berhenti berjuang. Sesulit apapun- hidup Suci….” desahku. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Karena itu, Ayah dan Bunda- juga nggak boleh menyerah….”

Ayah mengecup keningku. Dengan kecupan yang lama dan dalam. Kurasakan ada air mata yang jatuh menyentuh pipiku. Air mata Ayah.

“Pergilah, Nak. Kalau sudah tak tahan, pergilah….” Dia berbisik lembut di telingaku. Menyiramiku dengan ketenangan yang tiada terbatas. “Ayah dan Bunda akan baik-baik saja. Kalau kamu juga baik-baik saja….”

Lalu suara tangisan terdengar bersahut-sahutan. Kurasakan rasa lelah yang begitu dahsyat menyeretku pada sensasi kehangatan tiada tara. Tiba-tiba saja kesakitan yang menggerayangiku selama sekian bulan ini lenyap tanpa sisa.

Kupejamkan mataku rapat-rapat. Berusaha terlelap dalam tidur yang panjang.

‘***

Wanita berambut putih itu melangkah mondar-mandir. Kepanikan tersirat jelas di wajahnya. Peluh-peluh saling berlomba membanjiri tubuhnya. Sesekali dia mengaduh kebingungan dan mengerjapkan matanya dengan gelisah.

“Air hangat. Sebaskom lagi.” perintahnya.

Seorang laki-laki yang sudah berusia enam puluh tahun yang berdiri tak jauh darinya tampak sepuluh kali lebih panik. Terseok-seok dia melangkah dan menuangkan air hangat yang sudah disiapkannya sedari tadi ke dalam sebuah baskom besar.

“Sudah kubilang. Dia harus dibawa ke rumah sakit.” Ibu tua itu menggerutu. Tangannya yang penuh darah terlihat sibuk sekali. “Istrimu sudah lima puluh dua tahun. Dia sudah terlalu tua untuk melahirkan secara normal. Tenaganya sudah lemah. Dia bisa kehabisan darah karena pendarahan.”

“Kami tidak punya uang untuk ke rumah sakit.” Laki-laki itu memindahkan baskom berisi air hangat itu ke samping si ibu berambut putih.

“Ayo, mengejan.” perintahnya lagi. Dicelupkannya sebuah handuk hangat ke dalam baskom yang baru disodorkan ke sampingnya.

Aku mengamati wanita lain yang berusia setengah abad itu terbaring dan mengerang kesakitan dalam kebisuanku.

“Dia kesulitan.” Suara si ibu tua itu terdengar lagi. “Kurasa dia benar-benar harus dibawa ke rumah sakit. Persalinannya tidak bisa mengandalkan seorang bidan kacangan sepertiku.”

“Aku bisa….” desah wanita itu. Si ibu berambut putih meliriknya. “Aku pasti bisa…. Sesulit apapun, akan kulahirkan anak ini….”

“Kau bisa kehilangan nyawamu.” Dia memelototi wanita itu dengan garang.

“Kalau kau harus memilih… antara aku dan bayiku, jangan ragu, untuk memilihnya….”

Pasrah, ibu tua itu menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Akhirnya dia memerintahkan beberapa kali kepada wanita yang tengah terbaring itu untuk terus mengejan dan mengambil nafas secara berkala.

Kuamati paras ketiga sosok dengan berbagai ekspresi di hadapanku itu dan membiarkan sekelebatan pertanyaan menari-nari di kepalaku.

Ulang tahun.

Sudah mengertikah kau apa makna dari ulang tahun itu sendiri? Kurasa banyak dari antara kita yang sudah melupakan apa arti sebenarnya dari dua patah kata itu.

Seringkali dalam hidup kita, masing-masing dari kita terlalu sibuk dengan apa yang harus dilakukan untuk merayakan pesta ulang tahun yang semeriah mungkin. Namun jika kau berdiri di tempatku berdiri dan melihat apa yang tengah kulihat detik ini, kau mungkin baru bisa memahami perasaan macam apa yang sedang melumatku saat ini.

Ulang tahun ternyata bukan bicara mengenai kado apa yang akan kau terima, bukan mengenai sepiring mie panjang umur, kue ulang tahun dengan lilinnya, atau nyanyian selamat ulang tahun dari orang-orang yang kau harapkan ada untuk menemanimu.

Bukan….

Ulang tahun ternyata hanya sebuah hari yang istimewa di mana seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih dengan segenap hati, bahwa ada malaikat yang begitu mulia yang diutus Tuhan untuk menitiskanmu ke dunia ini. Wanita yang bersedia merenggang nyawanya. Merintih di antara perih dan kesakitan. Yang dengan tulus mengerahkan seluruh tenaga dan semua yang dimilikinya agar kau terlahir dengan sempurna di matanya.

Semua yang dimilikinya. Dikerahkannya bagimu.

Hanya untuk melihatmu bernafas. Demi sekedar mendengar tangisan rewelmu….

Aku melayangkan pandanganku. Menatap wanita yang terbaring itu sekali lagi. Dengan rasa haru yang menyusup penuh dalam seluruh rongga di dadaku.

“Sudah lahir.” Ibu berambut putih mengendikkan bahu kanannya dan mengelap bulir keringat yang turun dari dahinya. Tangannya mengangkat sesosok bayi mungil dengan hati-hati. “Perempuan.”

“Tapi tak bernafas.” katanya lagi. Menggantikan kebahagiaan yang sesaat tadi sempat melumuri wajah wanita dan laki-laki tua itu. Dia menepuk-nepuk pantat bayi kecil itu dengan cemas.

Senyum tipis teruntai di bibirku. Merasa sangat lega karena aku tahu sebentar lagi akan segera tiba saatnya. Saat di mana aku akan menggenapi janjiku dulu.

Kuremas buku-buku jariku sambil memejamkan kedua mataku dan jelas merasakan tubuhku dialiri perasaan yang sehangat matahari senja. Tak lama kemudian, sekujur tubuhku terasa tersedot. Laksana ada medan magnet raksasa yang menarikku untuk masuk ke dalam boneka mungil dalam gendongan ibu tua yang baik hati itu. Tubuhku berubah menjadi serpihan yang berkilau dan melayang masuk ke atasnya.

Lalu bayi itu menangis.

Suaranya basah menggema. Meruntuhkan dinding ketegangan yang mewarnai paras ketiganya.

“Akhirnya….” Ibu tua itu berseru dengan nada ceria. Senang sekali seperti anak kecil mendapat permen. “Bayi perempuan yang cantik. Lahir tanggal 15 Desember. Manis seperti gula. Sudahkah kalian memikirkan nama untuknya?”

“Dandelion….” Suara wanita yang selalu kupuja itu terdengar perlahan di antara isak tangis yang menggaung. “Aku akan menamainya: Dandelion. Sebab dia yang pergi, kini telah kembali lagi ke tempatnya berasal….”

Kemudian kurasakan kesadaranku perlahan-lahan mulai menghilang. Namun masih dapat kurasakan kenyamanan yang menyelimutiku. Terlebih lagi ketika sepasang tangan yang begitu lembut itu menyambutku dalam dekapannya.

“Selamat datang, Dandelion kecilku….” Suara itu mendesah. Suara yang kukenal. Suara Bunda.

Kugelinjangkan tubuhku dengan manja.

Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Samar-samar suara di sekelilingku memudar. Kepingan-kepingan ingatan masa laluku tentang Ayah dan Bunda seakan ditarik keluar dengan paksa dari benakku.

Terima kasih telah melahirkanku, Bunda….

Aku mau berkata-kata, tapi tak bisa. Hanya suara tangis yang terus terdengar.

Tangisanku.

‘***

Apa kau mengenal bunga dandelion? Mungkin dia cuma bunga kecil yang tumbuh di pinggir jalan dan tak pernah menarik perhatianmu. Tapi tahukah kau, dia bunga yang tegar?

Dia. Si topi putih yang lemah. Yang nyaris terlupakan di antara semarak warna-warni bunga lain yang jelita. Namun dia tak kenal kata menyerah. Meskipun diterbangkan angin tak tentu arah, jatuh di tanah yang gersang, di tepi jalan berbatu, dihimpit semak berduri, tapi dengan tegar, dia akan mencari setitik celah dan berjuang untuk tetap hidup.

Dia tak pernah berhenti berusaha. Tujuan hidupnya hanya satu. Setelah dia terbang melintasi jagad raya, meniti kehidupan yang penuh kesulitan, suatu hari nanti, sejauh apapun dia telah pergi, dia akan kembali.

Dia akan kembali lagi ke tempat dari mana dia berasal. Dia pasti kembali. Untuk berterima kasih.

Itu janjinya.

DANDELION’S PROMISE

‘***

_END_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: